Bab 3: Begitulah Cara Menghormati Cinta Mereka
Halaman 1/3
【Astaga】
【Astaga, pegang!】
【Astaga, pegang-pegang!】
【Apa yang terjadi? Mengapa begitu mengguncangkan?!】
Komentar-komentar beterbangan tanpa kendali, tetapi Su Ci tak sempat memedulikannya. Tatapannya membara saat menatap Su Lian yang tercengang.
“Ayah, katakan sesuatu!”
Su Lian baru tersadar setelah beberapa saat. Ia menyentuh dahi putri kesayangannya sambil bergumam, “Tidak demam. Mengapa tiba-tiba bicara mengigau?”
“Ayah, aku serius. Adik Ketiga dan Yang Mulia Pangeran Duan benar-benar pasangan serasi. Ayah nikahkan saja Adik Ketiga dengan Pangeran Duan, maka Ayah akan menyatukan mereka dalam pernikahan yang bahagia!” Wajah Su Ci tampak lebih serius daripada sebelumnya.
Su Lian menatap putri sulungnya dengan bingung, lalu mengingatkan, “Pangeran Duan adalah pujaan hatimu. Apa kau rela menyerahkan wajah tampannya? Bukankah dulu kau pernah berkata bahwa melihat wajah Pangeran Duan saja bisa membuatmu makan dua mangkuk nasi lebih banyak?”
【Hahaha, dia benar-benar cerminan diriku. Wajah si Anjing Zhao lebih menggugah selera daripada sambal botolan~】
【Jadi, si perempuan teh hijau itu ternyata budak wajah. Dia hanya menyukai wajah tampan putraku. Perempuan dangkal seperti itu tidak pantas untuk putraku!】
Su Ci mengerucutkan bibir saat membaca komentar itu. Ia bukan hanya menyukai wajah Zhao Shizhu, tetapi juga bahunya yang bidang, pinggangnya yang ramping, bahkan tubuhnya yang menggoda.
Dengan tubuh dan penampilan seperti Zhao Shizhu, bukankah perempuan yang tidak tergoda kepadanya justru yang tidak sehat jiwa dan raganya?
Melihat ayahnya tidak memercayai perkataannya, ia membisikkan penjelasan panjang lebar di telinga Su Lian.
Intinya, belakangan ini ia selalu memimpikan hal yang sama. Dalam mimpinya, Zhao Shizhu naik takhta menjadi kaisar, sementara Su Hua menjadi permaisuri. Karena ayah dan anak itu telah menghancurkan jodoh bahagia Su Hua dan Zhao Shizhu, membuat Su Hua, perempuan yang dicintai Zhao Shizhu, terpaksa menjadi selir, Zhao Shizhu pun menyimpan dendam. Setelah naik takhta, ia mengungkit semua perkara lama dan memusnahkan Kediaman Adipati Xuanping.
Yang paling penting, Su Ci, putri kesayangan Adipati Xuanping, pada akhirnya dibunuh oleh Zhao Shizhu!
Pokoknya, ia sengaja membesar-besarkan akibatnya agar ayahnya percaya bahwa menyatukan Zhao Shizhu dan Su Hua merupakan kehendak takdir. Ia yakin, dengan besarnya kasih sayang sang ayah kepadanya, Su Lian pasti tidak akan tahan melihatnya kelak mati di tangan Zhao Shizhu yang kejam itu.
Setelah mendengarkan ocehan Su Ci yang disampaikan dengan penuh semangat, Su Lian masih setengah percaya.
“Kau yakin semua ini benar? Terus terang saja, Ayah sebenarnya tidak ingin menikahkan Hua dengan Pangeran Duan.”
Meskipun putri yang paling ia sayangi adalah putri sulungnya, Hua juga darah dagingnya. Ia tidak ingin putrinya menikah ke dalam keluarga kerajaan dan terseret ke dalam perebutan kekuasaan.
Bahkan jika Zhao Shizhu kelak naik takhta dan Hua menjadi permaisuri, hal itu belum tentu merupakan sesuatu yang baik.
Su Ci kembali membisikkan sesuatu ke telinga Su Lian. “Beberapa hal yang terjadi belakangan ini sama persis dengan yang ada dalam mimpi. Itu pasti benar. Adik Ketiga dan Yang Mulia Pangeran Duan saling mencintai. Selain menyatukan mereka, kita tidak punya pilihan lain. Ayah harus merahasiakan hal ini. Jangan sampai orang ketiga mengetahuinya. Kalau tidak, dengan kekejaman Pangeran Duan, kita berdua tidak akan punya jalan hidup.”
Su Lian tahu betapa besar rasa suka putri sulungnya kepada Zhao Shizhu sebelumnya, seolah-olah ia telah terkena guna-guna. Namun hari ini, sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Ia bahkan mengatakan bahwa Zhao Shizhu kejam dan ganas. Hal itu memang sangat tidak biasa.
Halaman 1/3
Halaman 2/3
Zhao Shizhu tampak lembut dan santun, tetapi sebagai orang tua yang telah lama malang melintang, bagaimana mungkin Su Lian tidak melihat ambisi serigala di balik penampilannya?
“Pangeran Duan tidak mungkin menikahi Hua. Dia seorang putri selir. Mana mungkin Pangeran Duan menjadikan putri selir sebagai permaisuri?” Meskipun hatinya mulai tergerak, Su Lian tetap menyiramkan seember air dingin kepada Su Ci.
Su Ci menyadari bahwa hal itu memang masalah besar. Setelah berpikir cukup lama, ia akhirnya menggertakkan gigi dan mengambil keputusan.
“Mudah. Kita umumkan saja kepada khalayak bahwa Adik Ketiga telah diangkat sebagai anak Ibu. Dengan begitu, masalah ini akan terselesaikan.”
Su Lian agak terkejut.
Ia tahu putri sulungnya tidak menyukai Wang, ibu kandung Hua, dan juga tidak memiliki banyak perasaan terhadap adik tirinya itu. Namun, Su Ci bersedia mengalah sampai sejauh ini. Itu menunjukkan bahwa ia benar-benar telah membulatkan tekad.
Setelah dibujuk Su Ci, pada akhirnya Su Lian memutuskan untuk “bersekongkol” dengannya. Setelah berdiskusi, ayah dan anak itu sepakat memanfaatkan Festival Shangsi untuk membantu mewujudkan hubungan mereka.
Dalam sekejap, Festival Shangsi pun tiba.
Di dalam dan sekitar hutan persik di pinggiran kota, orang-orang datang dan pergi, menciptakan suasana yang sangat meriah.
Saat itu bunga persik sedang bermekaran. Ranting-rantingnya dipenuhi dedaunan hijau, bunga-bunga tumbuh lebat, dan burung-burung cemerlang berkicau merdu.
Hutan persik itu bahkan dipadati lautan manusia. Banyak gadis dari keluarga terpandang yang jarang mendapat kesempatan keluar bermain, sehingga mereka datang dengan dandanan terbaik. Ada yang secantik bunga persik dan plum, ada yang anggun seperti permata sederhana dari keluarga biasa, dan ada pula yang lembut serta menawan.
Namun, yang paling cantik di antara mereka adalah Su Hua.
Wajahnya secantik bunga dan rembulan. Alisnya melengkung bak bulan sabit muda, bibirnya merah merona, tubuhnya semampai dan anggun. Ia menarik perhatian banyak pemuda maupun gadis.
Namun, pandangannya hanya terpaku pada kereta kuda milik Kediaman Pangeran Duan.
Di bawah cahaya matahari yang cemerlang, Zhao Shizhu turun dari kereta dengan mengenakan jubah lurus berbahan sutra polos berwarna hijau kebiruan muda. Tubuhnya tinggi semampai, bahunya bidang, pinggangnya ramping, dan auranya berkelas. Senyum tipis menghiasi sudut bibirnya, membuat siapa pun yang memandangnya merasa bagaikan diselimuti semilir angin musim semi.
Melihat Zhao Shizhu yang begitu menawan, jantung Su Hua berdetak kacau. Sesaat, ia bahkan terpaku dalam pesona.
Tatapan Zhao Shizhu jatuh ke wajah Su Hua. Ia tersenyum dan mengangguk.
“Nona Ketiga sudah datang. Di mana Aci?”
Wajah cantik Su Hua memerah. Setelah maju dan memberi salam, ia menjawab, “Kakak sedang menunggu Yang Mulia di depan. Hamba akan mengantar Yang Mulia menemuinya.”
“Terima kasih, Nona Ketiga,” ujar Zhao Shizhu dengan sopan.
Mereka berjalan menuju bagian terdalam hutan persik sambil berbincang dan tertawa.
【Aduh, mereka benar-benar serasi! Aku bahkan sudah membawa kantor catatan sipil kemari. Kumohon, segera menikahlah di tempat!】
【Astaga! Mereka pergi ke bagian terdalam hutan persik! Api asmara telah tersulut, kayu kering terbakar menjadi kobaran api—ayo lakukan sesuatu yang panas di sana dan biarkan kami melihatnya!】
Halaman 2/3
Halaman 3/3
【Yang di depan, sadar dulu. Mereka bahkan belum berciuman!】
…
Su Ci diam-diam mengikuti Zhao Shizhu dan Su Hua dari belakang. Dilihat dari punggung mereka, pasangan yang ditakdirkan itu memang tampak sangat serasi.
“Sixue, menurutmu mereka serasi?”
“Menurut hamba, Yang Mulia Pangeran Duan lebih serasi dengan Nona.” Hati Sixue terasa sesak.
Jelas-jelas sang nona telah langsung jatuh hati kepada Pangeran Duan. Itu adalah pertama kalinya sang nona tertarik kepada seorang pria. Mengapa ia justru hendak menyerahkan Pangeran Duan kepada Nona Ketiga?
Su Ci menulis huruf “do” di telapak tangan Sixue. “Kau tahu apa artinya ini?”
Sixue memasang wajah bingung. Su Ci menuliskan lagi ketiga huruf itu. Setelah melihatnya, Sixue menggeleng.
“Sepertinya itu bahasa asing. Nanti setelah kembali, hamba akan mencari seseorang untuk menanyakannya.”
Dalam hati, Su Ci berpikir bahwa mencari tahu sendiri dari buku-buku bahasa asing mungkin akan lebih cepat. Namun, melihat isi komentar sebelum dan sesudahnya, sepertinya kata itu bukan istilah yang sopan.
Tepat pada saat itu, Zhao Shizhu tiba-tiba menoleh.
Secara naluriah, Su Ci membenamkan kepalanya ke dada Sixue, merangkul pinggang ramping pelayannya, lalu melompat ke sisi hutan persik. Namun, ia tak sengaja tersandung batu. Untunglah reaksinya cepat. Ia segera berpegangan pada sebatang pohon persik sehingga dirinya dan Sixue tetap terlindungi.
Dengan begitu, ia telah menunjukkan penghormatan yang begitu besar terhadap cinta mereka. Penghargaan sebagai orang ketiga paling berjasa jelas tak mungkin jatuh kepada siapa pun selain dirinya.
【Aduh, operasi macam apa ini?!】
【Dia ingin menarik perhatian putraku, tentu saja.】
【Datang, datang! Si Anjing Zhao berjalan dengan langkah angkuh seolah tak mengenal siapa pun. Gaya berjalannya begitu liar, menggoda, dan penuh nafsu. Aku benar-benar menyukainya~】
…
Su Ci sibuk melindungi kepala Sixue, sehingga tak sempat membaca komentar-komentar itu. Baru ketika sepasang kaki panjang seorang pria berhenti di hadapannya, ia mengikuti kaki tersebut dengan pandangan.
Tatapannya pun beradu dengan mata Zhao Shizhu yang dingin tanpa kehangatan…
Halaman 3/3