Bab 69: Biarkan Badai Itu Datang Lebih Dahsyat Lagi!
"Berikutnya... eh, sial! Berhenti! Berhenti! Aku mau jeda!"
Satu putaran usai, Lin Xian nyaris meneriakkan 'selanjutnya', buru-buru melambaikan tangan tanda berhenti. Ia sendiri tak tahu sudah bertarung berapa putaran dan berapa lama waktu berlalu; toh, di sini tak pernah ada malam. Serangan musuh yang makin kuat dan jumlah darah yang makin besar membuatnya tak berani lengah sedikit pun.
Lin Xian menarik kembali Palu Pemecah Langit, menekuk tubuh dengan kedua tangan bertumpu pada lutut, terengah-engah mengatur napas. Ia melirik ke dalam tasnya—sudah lebih dari seratus buku, termasuk belasan kitab teknik tingkat tinggi.
"Haha... hahahaha..." Lin Xian tertawa terbahak-bahak, membayangkan jika semua teknik itu sudah ia gabungkan...
Hitung mundur!
3
2
1
"Sialan, bukannya tadi aku sudah bilang berhenti?!"
Lin Xian menatap nanar ke langit, ke arah kapal perang perak yang kini berubah hijau kebiruan, giginya gemeretak menahan kesal.
"Mau main warna-warni sekarang? Tadi sudah ada putih, merah, oranye, kuning, hijau, sekarang biru kehijauan, jangan-jangan nanti biru tua dan ungu juga keluar?"
Tak ada yang menjawab. Kapal perang itu tetap dengan aksi sepihaknya, menurunkan musuh-musuh baru.
"Lima ekor? Lumayanlah, meski ukurannya makin besar."
Deteksi! Baiklah, deteksi tidak berguna.
Lin Xian menggunakan Lencana Jasa Perang untuk meraba kekuatan musuh.
Sekitar level 55, atribut empat stat... "Gila..."
"Apa lencananya rusak?"
Lin Xian menggosok-gosok lencana di dadanya, hasilnya tetap sama—nyaris sepuluh juta untuk masing-masing atribut.
Lin Xian benar-benar terpana; ini musuh dengan atribut tertinggi yang pernah ia hadapi, dan langsung lima ekor sekaligus.
"Tunggu, sesuatu tidak beres. Kalau atributnya setinggi ini, aku tidak mungkin bisa menembus pertahanannya. Tapi justru... hehehe..."
Lin Xian menyadari, selama ini ia salah paham. Melawan monster yang tak bisa ia tembus pertahanannya, justru ia bisa menghasilkan lebih banyak kerusakan.
Sebab, jika tak bisa menembus pertahanan, Serangan Petir akan langsung mengacu pada luka sejati dari Istana Duka. Walau ia belum paham kenapa bisa begitu, yang penting hasilnya luar biasa.
"Hahaha..."
Lin Xian menatap kelima kumbang mekanik itu dengan senyum licik.
Istana Duka!
-3.700.000
-44.450.000
Hampir separuh darah musuh lenyap seketika. Inilah yang disebut menghapus bar darah!
Tapi darah mereka benar-benar mengerikan, lebih dari ratusan juta?
Kelima kumbang mekanik itu bereaksi cepat, mendirikan tubuh dan menyatu di bagian punggung, membentuk kapal perang mini.
Sebuah perisai transparan muncul seketika.
-3.700.000
Detik berikutnya, Lin Xian menyadari, serangan Petir sama sekali tak bisa menembus pertahanan itu. Hanya luka sejati dari Istana Duka yang bisa melukai mereka.
Atribut empat stat kapal perang mini itu melonjak hingga hampir lima puluh juta, darahnya pun bertambah berkali-kali lipat. Kumbang-kumbang yang tadinya sekarat, setelah menyatu, darah mereka minimal bertambah lima kali lipat.
Sekarang, serangan Istana Duka terasa seperti menggaruk tubuh mereka saja.
Dan itu belum semua. Dari bagian depan kapal perang mini, energi biru terang mulai terkumpul. Rambut di tubuh Lin Xian berdiri, ia bisa merasakan dirinya terkunci dalam bidikan musuh. Aura berbahaya mengelilinginya tanpa ampun.
Energi biru itu melesat keluar, kecepatannya tak terbayangkan.
"Aku tak bisa menahan serangan ini. Benar-benar tak bisa."
Terjangan Tanpa Ragu!
Lin Xian langsung melesat ke udara, dan dari bawah, permukaan tanah bergetar hebat, seperti naga tanah menggeliat, kerak bumi bergeser.
"Masih mau lanjut?"
Kapal perang mini yang meleset tadi kini mengincar Lin Xian di udara, energi biru terang sekali lagi ditembakkan.
Lin Xian hanya bisa tersenyum sinis, tak gentar, bahkan sedikit ingin tertawa.
Namun tawanya segera lenyap. Pancaran energi biru itu menghantam pinggangnya, dorongan dasyat membuat tubuhnya melesat ke udara seperti burung yang tertembak jatuh.
Tingginya sudah tak terhitung lagi, yang jelas, luka dari Istana Duka pada kapal perang mini itu pun terhenti.
"Pinggangku..."
Keringat dingin Lin Xian mengucur deras. Ia tak berani membayangkan jika tak punya skill kebal, pasti ia sudah tewas di tempat.
Tanpa membuang waktu, Lin Xian melanjutkan serangan Terjangan Tanpa Ragu, melesat turun seperti meteorit ke kapal perang mini itu.
Duar!
Tanah di bawahnya retak membentuk pola indah, menjalar hingga puluhan kilometer.
Pemandangan itu memang menggetarkan, tapi kerusakannya nol.
"Sial..."
Untung saja, kapal perang mini itu setelah dua kali serangan besar tampaknya kehabisan energi, langsung membelah diri menjadi lima kumbang mekanik lagi, yang semuanya langsung tumbang.
"Ini pasti teknik tingkat tertinggi, kan?"
Lin Xian mengelap keringat di wajahnya sambil berceloteh.
Kali ini ia benar-benar ketakutan oleh serangan musuh...
Titik-titik cahaya hijau kebiruan berkumpul, membentuk buku secara perlahan. Lin Xian menatapnya tanpa berkedip, penuh harap.
Beberapa detik kemudian, teknik itu terbentuk.
[Kitab Teknik: Kesatuan Kembali ke Satu]
[Kualitas: Tingkat Tertinggi]
[Deskripsi: Menguasai dan meningkatkan kekuatan diri.]
"Hebat! Sudah kuduga."
Lin Xian menjentikkan jarinya, tersenyum bahagia. Soal deskripsi, ia sudah tak peduli lagi.
Panel keterangannya memang singkat, memang mau diapakan lagi?
Ia yakin, di seluruh Bumi, mungkin hanya ia yang bisa mendapatkan teknik tertinggi dari Rahasia Pusaka Dewa ini.
Melihat kekuatan serangan kapal perang mini tadi, level 60? Bahkan pejuang tingkat tiga perubahan pun belum tentu berani menerima serangan itu secara langsung.
Ia yakin, tak semua orang punya skill kebal.
Lin Xian tiba-tiba teringat sesuatu, buru-buru berteriak, "Istirahat! Aku mau istirahat, tahan dulu sebelum lanjut ke tahap berikutnya!"
Setelah beberapa saat, melihat tidak ada tanda-tanda putaran berikutnya dimulai, ia baru bisa bernapas lega.
Setidaknya, ia harus menunggu hingga cooldown Terjangan Tanpa Ragu selesai. Musuh mekanik berikutnya pasti tidak mudah, Lin Xian tak berani lengah sedikit pun agar tak gagal.
Meski waktu istirahat hanya enam menit, Lin Xian memilih beristirahat sepuluh menit penuh.
"Ayo, biarkan badai datang lebih dahsyat lagi!"
[Sesuai keinginanmu, tahap berikutnya dimulai!]
Hitung mundur!
...
"Tunggu, aku cuma bicara doang, kenapa langsung dijalankan?!"
Lin Xian melongo, hatinya dipenuhi kecemasan. Astaga, ini benar-benar hidup, ya?
Benarkah ada roh penjaga menara? Atau sebenarnya rahasia ini punya pemilik?
Kalau memang ada pemiliknya, kenapa ia membuka rahasia ini untuk umum?
Makin dipikir makin menyeramkan...
Lin Xian menggelengkan kepala keras-keras, berhenti berpikir terlalu jauh. "Jangan menakuti diri sendiri. Teknologi mesin sudah secanggih ini, mungkin ini cuma AI."
Kapal perang paus itu muncul lagi, seperti yang Lin Xian duga, kali ini pancaran cahayanya berwarna biru.
Ia sudah malas berkomentar.
Norak! Terlalu norak! Tak bisa lebih norak lagi!
"Hahaha..."
Lin Xian menatap ke langit tanpa ekspresi, tersenyum dingin. Romantisme sejati seorang pria akhirnya muncul!
Tampak sebuah mesin tempur hitam melayang di udara. Garis-garis bercahaya emas gelap menutupi seluruh tubuhnya. Di tangan kiri, perisai dengan aliran energi, di tangan kanan, pedang raksasa yang berpendar cahaya. Tingginya tiga meter, garis-garis tubuhnya ramping dan lincah, memancarkan kesan gesit dan kuat.
Sungguh memenuhi semua imajinasi Lin Xian tentang sebuah mesin tempur.
Lin Xian mencoba meraba kekuatannya dengan Lencana Jasa Perang, namun tak merasakan apa-apa.
[Lencana Jasa Perang * Perlengkapan]
[Fungsi: Jika level musuh tak melebihi 20 level dari pemilik, bisa dideteksi! Dan bisa memperkirakan level dan atribut petarung dalam batas 20 level.]
Jelas, mesin tempur itu pasti di atas 20 level darinya.
"Heh, kau... Mesin tempur wanita, kau sudah menarik perhatianku."