Bertahun-tahun kemudian, ketika sang penguasa legendaris, penunggang naga, Anak Api Suci, mimpi buruk para inisiator, penghancur tatanan permainan, mitos tak terkalahkan di medan perang, penguasa tujuh kerajaan sekaligus pelindung seluruh wilayah—Samwell Caesar—duduk di atas Takhta Besi, ia pasti akan teringat pada sore yang jauh di masa lalu saat ia menerima surat izin ekspansi dari “Mawar Highgarden.” Saat itu, tak seorang pun menyangka bahwa pemuda yang telah dibuang oleh ayahnya ini akan memicu badai berdarah yang mengguncang seluruh daratan Westeros. Catatan: Ini adalah kisah kepemilikan wilayah dan pembangunan di dunia Game of Thrones, pembaca yang belum pernah membaca novel aslinya atau menonton serial TV tetap dapat menikmatinya tanpa hambatan.
Di kawasan tikungan sungai pada akhir Februari, matahari bersinar terik bagaikan api, bahkan udara pun tampak bergetar karena panas yang membara.
Musim panas yang panjang ini telah berlangsung hingga tujuh tahun lamanya, begitu lama hingga segala kenangan dan kewaspadaan terhadap musim dingin perlahan-lahan menghilang dari hati manusia.
Menelusuri Jalan Mawar yang indah menuju selatan hingga bertemu dengan Jalan Pantai, di sebuah bukit di tepi Sungai Mander, tampaklah kota terindah di Benua Westeros—
Kota Tinggi.
Di dalam istana yang dibangun dari marmer putih itu, di mana-mana dapat ditemukan patung-patung nan elok, air mancur yang menawan, serta bunga-bunga bermekaran, tentu saja tak ketinggalan mawar-mawar emas—
Itulah simbol keluarga pemilik istana ini, Keluarga Tyrell.
“Dong… dong… dong…”
Diiringi dentang lonceng yang merdu, tiga sosok melintasi lorong berliku dan memasuki Aula Kesatria.
Lambang di dada mereka bukanlah mawar emas, melainkan pemburu tangguh yang sedang membidik panah—
Itulah lambang Keluarga Tarly.
Orang yang berjalan paling depan tampak berusia sekitar empat puluh tahun, berwajah tegas, jarang tersenyum, berjanggut pendek dan kaku, mengenakan jubah resmi sutra hijau tua bertepi bulu putih, serta menyandang pedang besar bermata dua di pinggangnya.
Dialah Penguasa Horn Hill, Eddard Tarly.
Di belakangnya, mengikuti kedua putranya—
Putra sulung, Samwell Tarly, dan putra kedua, Dickon Tarly.
Keduanya mewarisi rambut gelap, mata abu-abu, dan postur tinggi besar dari sang a