Bab Seratus Dua Puluh Dua: Memicu Misi
Halaman 1 dari 3
Setelah bermain di studio rekaman selama lebih dari satu jam, makanan pesan antar tiba pukul setengah delapan malam.
Mereka tidak makan di luar karena ada kemungkinan seseorang melihat mereka.
Untuk menghindari masalah, mereka memesan makanan dan menyantapnya di ruang istirahat lantai tiga.
“Ini benar-benar berlebihan. Permainanmu bahkan lebih bagus daripada sebelumnya. Rasanya kemampuanmu meningkat pesat.”
Igarashi Runa duduk di depan meja. Kegembiraan yang dirasakannya di studio tadi masih belum mereda.
“Perbedaannya ada pada pianonya. Semua berkat Nona Ninomiya yang memilih piano sebagus ini.”
Kurozawa Hikaru tersenyum dan mengalihkan pujian itu kepada orang lain.
Bagaimanapun, dia tidak mungkin mengatakan bahwa perbedaan kemampuan mereka bisa sejauh itu karena dia pernah berkencan dengan Shihoin Mirai, lalu mendapatkan hadiah yang meningkatkan keterampilan pianonya, bukan?
Begitu ucapan itu terlontar, tidak ada yang menyahut. Keduanya justru memandang ke arah Ninomiya Chizuru.
Perempuan itu sedang menyelipkan rambut di dekat telinganya dengan satu tangan sambil menyantap mi ramen. Meskipun pada hari kerja dia tidak memakai lipstik, kuah berminyak membuat bibirnya berkilau, tampak sangat menggoda.
Gerakannya anggun dan pantas, sekaligus memancarkan pesona yang begitu menawan.
“Bagaimanapun juga, hasil terbaik tetap bergantung pada kemampuan diri sendiri.”
Setelah menelan sesuap ramen, Ninomiya Chizuru pun berkata demikian.
Ruang istirahat itu belum sepenuhnya selesai direnovasi dan ditata. Baru bagian-bagian dasarnya yang dibereskan. Mereka duduk di depan sebuah meja tinggi.
Meja itu dipilih oleh Igarashi Runa. Jika meja terlalu rendah dan mereka harus membungkuk saat makan, pencernaan akan terganggu dan rasanya juga tidak nyaman.
Kurozawa Hikaru merasa, setelah menikah nanti, Runa pasti akan menjadi ibu rumah tangga modis yang sangat cakap. Pakaiannya selalu tampak indah dan anggun, seolah-olah dia sangat teliti, tetapi sebenarnya dia juga mahir mengurus rumah dan mampu memikirkan segala sesuatu dengan sempurna.
“Bagaimana mungkin kau tetap terlihat secantik itu saat makan ramen?” seru Igarashi Runa tiba-tiba.
“Yang penting memang wajahnya cantik. Apa pun yang dilakukan pasti terlihat indah.”
Ucapan itu menyuarakan isi hati Kurozawa Hikaru, sehingga dia langsung mengiyakan.
Sama seperti salah satu genre yang pernah dia lihat di kehidupan sebelumnya, genre gadis-gadis imut. Selama yang ditampilkan adalah sekelompok gadis cantik, apa pun yang mereka lakukan akan tetap ditonton orang dan dinikmati.
Yang penting bukanlah apa yang dilakukan, melainkan pesona para tokohnya.
“Tidak begitu… Cepat makan. Bukankah tadi kalian bilang lapar?”
Ninomiya Chizuru tidak menyangka mereka akan berkata seperti itu dan seketika merasa malu.
Dia sebenarnya tidak melakukan apa-apa. Dia hanya menghindari agar rambutnya tidak terkena cipratan kuah ramen.
“Aku mulai makan.”
Melihat Chizuru agak malu, Kurozawa Hikaru dan Igarashi Runa saling pandang, lalu tersenyum sebelum mulai makan.
Tak lama kemudian, mereka menghabiskan ramen masing-masing.
“Ngomong-ngomong, dua set pakaian yang kau minta untuk kubuat khusus akan tiba besok. Harus kuakui, karena kau memakai topeng, kita juga bisa menghemat biaya penata rias.”
Mereka meninggalkan meja tinggi dan duduk di area sofa. Igarashi Runa menyandarkan tubuhnya dengan santai pada sandaran kursi sofa sambil berbicara.
Dia menyilangkan kaki, tetapi kedua tangannya terbentang lebar. Karena posisi duduknya lebih rendah, lekuk tubuhnya yang menonjol di bagian dada dan pinggul terlihat semakin jelas berkat tank top yang dikenakannya.
Gerakan itu memang tidak sampai memperlihatkan bagian yang seharusnya tertutup, tetapi tetap terlihat kurang sopan. Ninomiya Chizuru yang duduk di sampingnya pun mendorongnya pelan.
“Besok sudah sampai? Kalau begitu, setelah pulang sekolah hari Jumat aku akan datang lagi untuk mencobanya.”
“Tidak bisa datang besok? Rencanaku adalah mulai mempersiapkan pengambilan gambar pada hari Jumat, melakukan pengambilan gambar resmi pada akhir pekan, lalu mengunggahnya setelah penyuntingan selesai.”
“Aku ada les privat setiap hari Selasa dan Kamis.” Kurozawa Hikaru menggeleng pelan dan menjelaskan.
“Bagaimana kalau kau berhenti menjadi guru les? Sekarang kau sudah menjadi artis. Dengan kemampuanmu, sebentar lagi kau tidak perlu mengkhawatirkan masalah uang.”
Setelah mendengar hal itu, Igarashi Runa berpikir sejenak sebelum mengusulkan.
“Ini bukan soal uang. Aku sudah membimbing murid itu selama lebih dari setahun, dan dia akan mengikuti ujian masuk universitas sekitar setengah tahun lagi. Bagaimanapun juga, aku harus bertanggung jawab sampai akhir. Lagipula, tarif lesku mencapai dua puluh ribu per jam karena keluarganya yang menaikkannya. Aku tidak boleh menjadi orang yang melupakan budi.”
Kurozawa Hikaru sudah menduga usulan itu akan muncul dan telah menyiapkan jawabannya.
Faktanya, setelah tiba di Tokyo, alasan utama dia bisa menyewa apartemen sendiri serta hidup tanpa kekurangan makanan dan pakaian adalah pekerjaan sebagai guru les tersebut.
“Baiklah.”
Mendengar penjelasan itu, Igarashi Runa merasa kalau terus memaksa, dia akan tampak tidak berperasaan.
Halaman 2 dari 3
“Kalau begitu, hari Jumat kita gunakan untuk mencoba pakaian, gladi bersih, dan persiapan. Hari Sabtu melakukan pengambilan gambar, lalu hari Minggu mengunggah videonya.”
Setelah itu, dia kembali menyusun jadwal mereka.
“Aku ada urusan pada hari Sabtu.”
Kurozawa Hikaru mengangkat tangan dan kembali berkata demikian.
Dalam keputusan-keputusan bisnis semacam ini, Ninomiya Chizuru biasanya tidak banyak bicara karena dia bukan ahlinya.
“Urusan apa?”
Namun kali ini dia agak tidak bisa menahan diri dan bertanya.
Jangan-jangan pada hari Sabtu Hikaru punya janji dengan perempuan lain?
“Seperti yang sudah kujanjikan kepada Uesugi, guru pembina klub kyudo, aku akan ikut kegiatan klub.”
Saat ditatap olehnya, Kurozawa Hikaru tanpa sadar mengarang alasan.
Meskipun dia sudah bertekad untuk mendapatkan semuanya, tetap saja dia merasa bersalah di hadapan Chizuru dan untuk sementara belum berani berterus terang.
Mendengar alasan itu, Ninomiya Chizuru tidak menaruh curiga dan hanya mengangguk.
“Kau benar-benar orang yang sibuk…”
Igarashi Runa segera mengeluh.
Bahkan sebelum menjadi bintang besar, Kurozawa Hikaru sudah sesibuk ini. Kalau kelak benar-benar menjadi bintang besar, bukankah dia akan semakin sulit diajak bekerja sama?
“Tidak ada pilihan lain.”
Kurozawa Hikaru sendiri juga tidak berdaya menghadapi keadaan itu.
“Kalau begitu, hari Jumat dan Minggu saja. Kita padatkan waktunya dan berusaha mulai bekerja minggu ini. Tidak masalah, kan?”
Igarashi Runa tidak memaksa. Setelah berpikir sejenak, dia menyampaikan usul tersebut.
“Bisa.” Kurozawa Hikaru mengangguk.
“Kalau begitu, aku akan mengundang seorang sutradara ke kantor?”
“Mengundang sutradara?”
“Membuat video bukan sekadar mulai merekam lalu selesai. Kita juga harus mempertimbangkan penataan adegan, pergantian sudut kamera, detail pengambilan gambar, penyuntingan, serta berbagai unsur lainnya agar bisa menghasilkan video yang bagus. Demi membuat gebrakan sejak awal, aku berencana menggunakan gaya video musik untuk video pertamamu.”
Melihat Hikaru tidak mengerti, Igarashi Runa tersenyum dan menjelaskan rencananya.
Kalau memungkinkan, dia berharap Kurozawa Hikaru bisa langsung terkenal hanya dengan satu karya.
“Nona Runa, aku punya sebuah gagasan. Entah boleh kusampaikan atau tidak.”
Setelah merenungkan keputusan itu dengan matang, Kurozawa Hikaru angkat bicara.
“Tentu saja boleh.”
“Sejujurnya, menurutku mengundang sutradara sejak awal agak terlalu terburu-buru.”
“Kenapa?”
“Karena kalau kita memulai dengan standar yang terlalu tinggi, akan sulit untuk kembali memberikan kesan mengejutkan dan menunjukkan perkembangan. Menurut konsepku, video pertama adalah ‘Penerbangan Lebah’. Kita cukup merekam permainan pianoku. Aku juga sudah memikirkan pergantian gambarnya. Kita bisa membangun sedikit ketenaran terlebih dahulu dan mengumpulkan sejumlah penggemar. Video kedua adalah ‘Rapsodi Kroasia’, yang akan langsung meledak di internet.”
“Menurutmu, kita hanya perlu menyewa juru kamera?”
“Juru kamera pun tidak perlu. Video pertama berfokus pada pianoku, bukan pada kamera. Kita hanya perlu mengatur parameter kamera dan pencahayaan, lalu merekam dengan kamera yang terpasang tetap.”
“Perkataanmu tidak salah. Kalau nuansa komersialnya terlalu kuat, hasilnya mungkin justru berlawanan dari yang diharapkan. Namun, sesuatu yang dibuat dengan cermat akan lebih enak ditonton. ‘Penerbangan Lebah’ milikmu merupakan santapan ganda bagi mata dan telinga. Kalau dibuat seperti itu, seluruh daya tariknya tidak akan tersampaikan.”
Setelah mendengar rencananya, Igarashi Runa terdiam berpikir sejenak sebelum berkata.
“Kalau semuanya dibuat terlalu sempurna, orang justru akan merasa tidak mampu menirunya. Kita harus terlihat berkelas, tetapi jangan terlalu berkelas.”
“Kenapa?”
“Aku ingin membangkitkan semangat para pencinta piano.”
“Semangat?”
“Aku akan memainkan ‘Penerbangan Lebah’, lalu membagikan partitur-nya. Para pencinta piano di seluruh penjuru akan terdorong untuk menirukan dan memainkan karya itu. Dengan begitu, mereka akan membantu mempromosikan kita.”
Halaman 3 dari 3
Kurozawa Hikaru mengangguk pelan dan mengungkapkan rencananya.
Berdasarkan ingatannya, karya ‘Penerbangan Lebah’ yang tampak seperti ajang unjuk kemampuan itu memang pernah membuat para pencinta musik ikut-ikutan dan menirukannya di kehidupan sebelumnya.
“Kau yakin lagu ini akan membuat semua orang ikut-ikutan?”
Melihat tatapan dan senyumnya yang penuh keyakinan, Igarashi Runa agak terkejut.
“Pasti.”
“Kalau begitu, kali ini aku akan mendengarkanmu. Namun, kalau hasilnya kurang memuaskan, ‘Rapsodi Kroasia’ harus dikemas dengan lebih serius.”
Setelah mempertimbangkannya berulang kali, Igarashi Runa memutuskan untuk mempercayainya.
Sejak awal, usaha yang mereka bangun memang tidak mengikuti jalan yang biasa. Walaupun Runa lebih ahli dalam pengemasan dan promosi, bakat Kurozawa Hikaru dalam bermain piano begitu luar biasa. Mempercayai penilaiannya sekali dan menguji hasilnya belum tentu merupakan hal buruk.
“Libur musim panas akan segera tiba. Sebaiknya kita membuat usaha ini berjalan di jalur yang benar selagi sekolah masih berlangsung,” ujar Ninomiya Chizuru sebagai pengingat.
“Aku mengerti. Saling menyebarkan informasi di antara para siswa sangat penting untuk promosi.”
Kurozawa Hikaru mengangguk. Dia juga memahami hal tersebut.
Dibandingkan masa liburan musim panas, ketika para siswa berpencar ke berbagai tempat, masa sekolah jelas lebih menguntungkan untuk promosi karena para siswa berkumpul dalam jumlah besar.
Lagipula, yang mereka promosikan bukan film yang harus ditayangkan di bioskop ataupun konser. Video itu bisa ditonton melalui ponsel kapan saja dan di mana saja, sehingga penyebarannya jauh lebih mudah.
“Itulah sebabnya aku ingin bergerak cepat.”
“Ngomong-ngomong, ini gambar rancangan adegan dan partitur yang kubuat.”
Melihat Runa mulai cemas, Kurozawa Hikaru berpikir sejenak, lalu mengeluarkan setumpuk kertas dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja sebelum mendorongnya ke arah mereka.
“Rancangan adegan?”
Ninomiya Chizuru merasa heran mendengar istilah itu.
“Ini adalah keseluruhan proses pengambilan gambar pertama. Aku sudah memikirkan alurnya. Memang belum mencakup seluruh detail, tetapi kalian bisa melihat gagasanku.”
“Kemampuan menggambarmu benar-benar hebat. Dengan bakat seperti ini, kenapa tidak mempertimbangkan menjadi komikus?”
Igarashi Runa mengambil kertas-kertas itu. Setelah melihat beberapa lembar, dia langsung terkejut.
Di atas kertas itu tergambar sosok Zero Toki dengan sangat jelas. Jika gambar yang mereka lihat sebelumnya adalah rancangan karakter, gambar-gambar ini sudah tampak seperti cuplikan komik.
Identitas fiktif bernama Zero Toki itu seolah-olah hidup.
“Umur komikus pendek,” jawab Kurozawa Hikaru. Dia sama sekali tidak tertarik.
“Benar juga.”
Igarashi Runa tertawa geli dan sangat menyetujui perkataan itu.
Meskipun nilai komersialnya tinggi, membuat komik merupakan pekerjaan yang menguras pikiran dan tenaga, sehingga seseorang mudah terkena penyakit akibat profesi.
Ninomiya Chizuru sedikit mencondongkan kepala untuk melihat bersama Runa. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap gambar-gambar itu dengan saksama.
Saat mereka melihat-lihat, Kurozawa Hikaru tidak bersuara. Dia hanya menunggu tanggapan mereka.
Namun, tepat pada saat itu, sederet tulisan muncul di depan matanya.
Tugas Kencan: Perjalanan Melukis di Alam Terbuka Bersama Ninomiya Chizuru
Sasaran Tugas:
Pergi berdua dengannya ke suatu tempat yang berjarak setidaknya seratus lima puluh kilometer dari Tokyo untuk melukis di alam terbuka.
Menjadikannya model dan melukis potret dirinya.
Duduk bersamanya di tepi sungai atau aliran air kecil sambil merendam kaki.
Membuatnya malu sebanyak tiga kali.
Batas Waktu Tugas: 240 jam.
Modal Kencan: Keterampilan Melukis Tingkat Pemula, Keahlian Memasak Jepang Tingkat Pemula, Keahlian Memasak Barat Tingkat Pemula. (Kartu Percobaan)
Hadiah Tugas: Keterampilan Melukis Tingkat Pemula, Keahlian Memasak Jepang Tingkat Pemula, Keahlian Memasak Barat Tingkat Pemula. (Permanen)