Bab 32: Pembalikan Mengejutkan
Zheng Tianpeng baru saja menerima sebuah telepon, dan matanya langsung memancarkan semangat yang sudah lama tak ia rasakan!
Ia bersandar kuat pada sandaran kursi, menengadahkan kepala dan menghembuskan napas dalam-dalam, lalu tiba-tiba membungkuk ke depan, meraih cangkir teh di atas meja, dan meneguknya dalam-dalam. Adam's apple-nya yang menonjol tampak bergerak-gerak hebat saat menelan teh itu.
Perlahan suasana hatinya menjadi tenang, otaknya pun kembali jernih. Ia kembali tenggelam dalam kebiasaan lamanya—memasuki dunia pemikiran yang penuh konsentrasi.
Mengapa Zheng Tianpeng begitu bersemangat? Dari mana pula rasa terkejut bercampur dalam kegembiraannya? Beberapa menit sebelumnya, ia menerima telepon dari departemen forensik digital kepolisian, dan isi percakapan itu benar-benar membuatnya terperanjat.
Sebenarnya, sebelum ini, akun media sosial yang pernah digunakan untuk berkomunikasi intens dengan Song Tiantian di internet sudah dinonaktifkan. Namun, berkat kerja sama erat antara polisi dan dinas komunikasi, melalui berbagai teknik khusus, akun itu berhasil dipulihkan, kata sandinya dibobol, dan akhirnya berhasil diakses kembali.
Akan tetapi, selain riwayat percakapan dengan Song Tiantian, seluruh chat lain telah dihapus total, menandakan bahwa pemilik akun sangat berhati-hati dan teliti.
Namun, teknologi digital apa pun selalu punya dua sisi. Departemen forensik digital akhirnya mampu memulihkan seluruh data historis akun itu. Berdasarkan data tersebut, terutama kontak dan riwayat percakapan di akun itu, polisi mulai menelusuri pemiliknya. Barusan, mereka melaporkan hasilnya pada Zheng Tianpeng—identitas asli pengguna akun itu telah ditemukan.
Yang membuat Zheng Tianpeng begitu terkejut adalah, pengguna misterius di balik akun itu ternyata bukan orang asing, melainkan nama yang sangat ia kenal—Su Ziyue!
Saat ia mendengar nama “Su Ziyue”, perasaannya seketika menegang, bahkan ia sempat meragukan pendengarannya sendiri.
Setelah ia bertanya secara rinci, petugas kepolisian dengan sangat yakin memastikan bahwa akun itu memang milik Su Ziyue, korban dalam serangkaian peristiwa ini, seorang psikolog kenamaan yang kini tengah menjadi perhatian.
Mereka juga melaporkan bahwa akun tersebut didaftarkan oleh Su Ziyue lima tahun lalu, dan di antara kontaknya terdapat Chu Muhan, Yang Danni, serta beberapa teman kuliahnya, semua telah terverifikasi dengan jelas.
Bisa dibayangkan, betapa guncangnya hati Zheng Tianpeng saat menerima kabar ini. Balikan situasi ini membuat kasus yang sedang ia tangani jadi semakin rumit.
Namun, selain terkejut, alasan utama Zheng Tianpeng merasa bersemangat adalah karena ia merasa bertemu lawan yang sangat cerdas. Meski baru terlihat secuil permukaan masalah, kerumitan dan ketelitian rencana ini sudah cukup membakar semangat Zheng Tianpeng.
Sudah bertahun-tahun ia tak menemui kasus seaneh dan semenarik ini! Sebagai seseorang yang sejak kecil tergila-gila pada novel detektif dan bertekad menjadi polisi kriminal pemecah segala misteri, bagaimana mungkin ia tidak bersemangat? Terlebih lagi, kematian seorang gadis muda yang penuh teka-teki, terus-menerus terasa seperti beban berat yang menekan dadanya. Ia harus menjadi wujud nyata kekuatan keadilan.
Otak Zheng Tianpeng pun mulai berpikir cepat.
Meski pemilik akun adalah Su Ziyue, bukan berarti bisa dipastikan bahwa dia yang berkomunikasi diam-diam dengan Song Tiantian. Pertama, ada kemungkinan akun Q yang sudah tidak dipakai Su Ziyue itu diam-diam diretas oleh orang terdekatnya.
Kemungkinan kedua, Su Ziyue memang dalang di balik dorongan Song Tiantian untuk mengejar Chu Muhan, memakai akun yang sudah lama tak aktif agar bisa menghindari pelacakan polisi.
Jika kemungkinan ini benar, apa motifnya?
Zheng Tianpeng menduga, setidaknya ada dua alasan: pertama, hubungan antara Su Ziyue dan Chu Muhan sudah mengalami krisis; kedua, Su Ziyue sudah lama punya kekasih gelap, namun saat hendak mengakhiri pernikahan dengan Chu Muhan, ia ditentang keras, sehingga terpaksa memakai cara ini untuk mengakhiri hubungan.
Selain itu, sebagai seorang psikolog, Su Ziyue memiliki kecerdasan dan kepekaan emosional yang cukup untuk merancang skenario serapi ini.
Namun, berdasarkan tokoh-tokoh dan petunjuk yang ada sejauh ini, kalau Su Ziyue ingin menjalankan rencananya, ia butuh dukungan dari seseorang yang punya kekuatan, lebih tepatnya kekuatan finansial. Tanpa itu, ia tak akan bisa membujuk Han Jiaqi yang mata duitan untuk ikut serta, apalagi mendanai Song Tiantian.
Lalu, siapa yang mungkin menjadi sekutunya?
Secara alami, Zheng Tianpeng langsung teringat pada dua orang, yaitu sahabat dekat Su Ziyue, Yang Danni, dan ayah mertuanya, Chu Haoran.
Keduanya adalah pengusaha kaya raya. Yang Danni, sebagai sahabat karib, sangat mungkin mau membantu Su Ziyue. Lalu, bagaimana dengan Chu Haoran? Ia juga mungkin terlibat, sebab sejak awal ia tidak terlalu puas dengan pernikahan Chu Muhan dan Su Ziyue, dan sangat berharap Chu Muhan mau kembali memimpin bisnis keluarga.
Sampai di sini, Zheng Tianpeng mulai memikirkan langkah selanjutnya.
Ia memutuskan untuk tidak buru-buru bergerak terhadap Su Ziyue, karena kemampuan observasi dan ketajaman pikirannya luar biasa—sedikit saja lengah, ia bisa terjebak.
Zheng Tianpeng memilih untuk lebih dulu berbicara dengan Chu Muhan yang cenderung impulsif dan penuh semangat, berharap bisa mendapatkan petunjuk dan bukti penting darinya.
Segera, ia pun menekan nomor Chu Muhan.