Bab 1: Dentuman di Tengah Malam

Esposa do Rei do Inferno Papel aponta os rios e as montanhas 2486kata 2026-07-31 09:48:49

Saat aku berusia tujuh tahun, ayahku gagal dalam usahanya berbisnis di laut, sementara ibuku juga kehilangan pekerjaannya. Dalam semalam, keluarga kami terlilit utang yang sangat besar dan tak tahu harus bagaimana melanjutkan hidup.

Demi menghidupi aku dan adikku, ayah dengan terpaksa memutuskan untuk membawa ibu bekerja di klub malam demi mencari uang.

Pada hari ketika orang tuaku bersiap-siap meninggalkan rumah dengan sepeda roda tiga, seorang lelaki tua berpakaian compang-camping datang bersama seorang gadis kecil.

Ia memberitahu orang tuaku bahwa ada cara untuk mengatasi kesulitan yang menimpa keluarga kami, tetapi untuk meminta bantuannya, kami harus menyetujui satu syarat.

Ayah yang sudah putus asa, tanpa berpikir panjang langsung berkata bahwa syarat apa pun akan ia penuhi.

Begitu mendengar jawaban itu, lelaki tua itu segera menatapku dan adikku dengan tajam.

Akhirnya, pandangannya jatuh padaku. Ia menunjuk ke arahku seraya berkata, “Asalkan anak laki-laki ini bertunangan dengan cucu perempuanku, dan saat usianya delapan belas tahun pergi ke Bukit Burung Jatuh untuk menikahi cucuku, aku akan membantu keluarga kalian bangkit!”

“Baik!”

Ayahku nyaris tanpa ragu mengangguk, “Terserah bagaimana menurut Bapak, kalau harus tunangan, ya tunangan saja!”

Pada masa itu, untuk menikah harus mempersiapkan empat barang utama: kulkas, televisi berwarna, mesin cuci, dan tape recorder. Harganya tidak murah.

Apalagi kami memiliki dua anak laki-laki dan hidup dalam kemiskinan, belum tentu kelak bisa menikah.

Pada saat seperti itu, ada seseorang datang menawarkan menantu perempuan sekaligus berjanji akan membantu keluarga, mana mungkin ayah menolaknya.

Lelaki tua itu kemudian menulis perjanjian pertunangan dengan kertas merah, dengan sangat resmi memintaku dan gadis itu untuk menandatangani dan membubuhkan cap jari setelah jari kami ditusuk hingga berdarah.

Setelah semuanya selesai, lelaki tua itu menarikku ke samping, tampak misterius sekaligus sangat serius.

Ia berbisik kepadaku, “Qin Tian, kau terlahir dengan tubuh istimewa, tapi garis nasibmu lemah, tidak mampu menanggungnya sendiri, takdirmu penuh rintangan. Tunangan dengan Yao Yao ini juga untuk menolongmu. Ingat, saat usiamu delapan belas tahun, kau harus pergi ke Bukit Burung Jatuh menemui Yao Yao dan menuntaskan janji ini. Jika tidak, akan terjadi hal besar!”

Yao Yao adalah nama gadis itu, nama lengkapnya Chen Peiyao. Sejak awal hingga akhir, ia hanya menatapku dengan mata cerah tanpa sepatah kata pun.

Lelaki tua itu adalah kakeknya, sejak itu aku memanggilnya Kakek Chen.

Saat itu aku masih kecil, tak begitu paham maksudnya, hanya tahu ayah telah menyetujuinya, maka aku mengangguk saja.

Kakek Chen tidak berkata apa-apa lagi, ia mengeluarkan pecahan batu abu-abu dari saku, memberikannya padaku sebagai tanda janji, lalu ia berbicara empat mata dengan ayah.

Ia bermalam di rumah kami, lalu esok pagi pergi membawa Chen Peiyao.

Aneh memang, sejak perjanjian itu dibuat, kehidupan keluarga kami benar-benar mulai berubah.

Hanya dalam lima tahun, ayah berhasil bangkit kembali.

Lima enam tahun berikutnya, bisnis keluarga Qin bahkan berhasil menembus puncak piramida bisnis di seluruh Kota Xu.

Waktu berlalu, tibalah aku di usia delapan belas.

Karena masih mengingat urusan Kakek Chen dulu, tahun itu aku bertanya pada ayah.

Namun ayah sudah sama sekali tidak menganggap hal itu penting, malah menepuk pundakku dan berkata,

“Xiao Tian, sekarang ayahmu ini orang terkaya di Xu. Grup Qin kita punya jaringan kuat ke segala bidang, bahkan kalau mau jatuh pun tak akan mungkin!

Soal lelaki tua yang menjodohkanmu itu, kau sungguh percaya dengan omong kosongnya?

Keluarga Qin sampai di titik ini karena kerja keras ayahmu, mana mungkin karena perjodohanmu itu?!

Anggap saja itu permainan masa kecil, lupakan saja!”

Setelah berkata demikian, ayah menasihatiku dengan tegas agar tidak membicarakan hal itu lagi.

Ia memintaku untuk fokus mempersiapkan ujian masuk universitas, dan berkata bahwa kelak aku harus memilih istri dari kalangan putri orang ternama di Xu.

Aku cukup muak dengan perkataan ayah.

Setelah berpikir panjang, akhirnya aku memutuskan pergi ke Bukit Burung Jatuh untuk melihat sendiri keadaannya.

Begitu ayah tahu, ia langsung mengutus orang untuk mengejarku, bukan cuma memukuliku habis-habisan, tapi juga mengurungku hampir sebulan di rumah.

Sejak saat itu, keluarga melarang keras siapa pun membicarakan soal Kakek Chen dan Chen Peiyao.

Akhirnya aku hanya bisa fokus pada ujian, dan berhasil diterima di universitas ternama.

Namun, tepat di hari pertama aku masuk kuliah, keluarga kami tiba-tiba tertimpa musibah besar!

Adikku, Qin Yun, mengalami kecelakaan!

Meski nyawanya tertolong berkat penanganan cepat, ia tetap koma dan menjadi vegetatif, terbaring di ICU tanpa pernah sadar.

Sejak itu, aku mulai merasakan keanehan yang melanda keluarga kami.

Karena kondisi adikku, aku terpaksa meninggalkan kuliah dan membantu ayah di rumah.

Sejak aku kembali, setiap malam aku selalu mendengar suara gedoran di luar pintu kamar.

Suaranya tidak terlalu keras, tapi sangat teratur dan berirama.

Setiap kali suara itu terdengar, tubuhku seolah tertindih sesuatu yang tak kasat mata, pikiranku sangat jernih, namun tubuhku tak bisa bergerak.

Keesokan paginya, setiap bangun aku selalu mencium aroma cendana yang aneh.

Tubuh dan pikiranku lemas, benar-benar tak bersemangat.

Aku bertanya pada orang tua, apakah mereka juga mendengar suara itu. Mereka menggeleng dan berkata tidak tahu, bahkan menyuruhku untuk tidak terlalu dipikirkan, mungkin karena aku terlalu tertekan.

Awalnya aku tak terlalu memperdulikannya.

Namun setelah tujuh malam berturut-turut mengalami hal itu, aku benar-benar tak tahan.

Kesehatanku semakin menurun, bahkan mulai mengalami gejala gangguan saraf, sering berhalusinasi dan melihat bayangan samar-samar melintas di hadapanku.

Akhirnya, malam kedelapan aku memutuskan untuk tidak tidur, ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi di luar pintu.

Takut membuat orang tua khawatir, aku tak memberitahu mereka.

Aku diam-diam membeli kamera kecil, memasangnya di jendela ventilasi di atas pintu.

Ku sambungkan dengan ponsel melalui kabel data, lalu bersembunyi di balik pintu, mengamati situasi luar.

Dari kebiasaan yang kupelajari, suara gedoran itu biasanya muncul sekitar jam setengah satu dini hari.

Berselang-seling selama kurang lebih setengah jam.

Setelah semuanya siap, aku memperhatikan jarum jam yang perlahan bergerak ke pukul setengah satu malam.

Saat itu, di layar muncul dua sosok!

Tak lain dan tak bukan, mereka adalah ayah dan ibuku!

Satu memegang uang kertas arwah, satu lagi membawa dupa dalam wadah.

Dupa itu ditancapkan tiga batang, dua pendek satu panjang, lalu dinyalakan dan diletakkan di depan pintu kamarku!

Setelah itu, keduanya berlutut, ayah membakar uang kertas arwah, lalu bersujud ke arah pintu kamarku!

“Duk! Duk! Duk!”

Wajah mereka kaku dan dingin, sangat suram.

Sambil bersujud, ayah berbisik dengan suara pelan, “Pinjam usia Qin Tian, tukar dengan kembalinya tiga roh tujuh jiwa anakku ke dunia…”