Bab 5: Waktunya Hampir Tiba
Halaman (1/3)
“Siapa?!”
Sosok berjubah hitam itu berseru, lalu segera bersembunyi di balik tirai.
Ayah membuka pintu dan mengejar orang itu sebentar, kemudian kembali sambil menggelengkan kepala kepadanya.
“Entah siapa. Sebelumnya aku belum pernah melihat orang itu. Ajan Jin, apakah masih ada cara lain untuk menyelesaikan masalah ini?!”
Sosok berjubah hitam itu menatapku dengan pandangan keji.
“Rencana kita telah digagalkan. Masalah ini harus dimulai dari awal lagi. Aku akan mencari jalan. Kalian awasi dia dan beri aku waktu tiga hari!”
“Baik, baik!” Kedua orang tuaku buru-buru mengangguk.
Sosok berjubah hitam itu tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia mengenakan jas putih dan masker, lalu segera meninggalkan ruang rawat.
Pada saat itu, aku benar-benar mengerti!
Perilaku aneh kedua orang tuaku selama beberapa hari terakhir ternyata semuanya didalangi oleh sosok berjubah hitam ini!
Dialah Ajan berjubah hitam yang mengendalikan ilmu hitam dari Nanyang!
Para Ajan berjubah hitam adalah praktisi ilmu hitam Thailand yang kejam. Praktik paling terkenal mereka adalah memelihara hantu kecil, dan seluruh cara pembuatan jimat gelap Thailand berasal dari tangan mereka!
Seberapa besar sebenarnya kebencian orang tuaku kepadaku sampai-sampai mereka menggunakan orang seperti ini untuk merenggut nyawaku demi membangunkan adikku?!
Aku menatap kedua orang tuaku, tetapi karena jarum perak yang tertancap di antara alisku, aku tidak mampu bergerak, apalagi membuka mulut untuk menuntut penjelasan.
Di wajah mereka, aku sama sekali tidak melihat rasa bersalah kepadaku. Sebaliknya, yang tampak hanyalah tatapan penuh kebencian. Mereka bahkan tidak memedulikan luka di lenganku. Setelah membaringkanku di ranjang di samping sana, mereka langsung meninggalkanku dan bergegas merawat adikku.
Hanya terpisah oleh selembar tirai, aku seakan-akan telah berubah menjadi orang luar di rumah sendiri.
Karena tidak mampu bergerak, aku hanya bisa terbaring kaku di ranjang. Sampai kapan pun aku tidak dapat memahami mengapa kedua orang tuaku memperlakukanku dengan begitu berbeda.
Aku tidak tahu sudah berapa lama berbaring seperti itu ketika rasa kantuk menyerang. Aku pun tertidur lelap.
…
Ketika kembali terbangun, segala sesuatu di depan mataku telah berubah!
Pemandangan di hadapanku bukan lagi ruang ICU rumah sakit, melainkan sebuah pondok kayu kecil dengan perabotan sederhana.
Di dalam pondok itu tercium aroma samar tanaman obat. Pemuda yang sebelumnya kutemui di Lereng Fenghuang kini duduk di kursi di sampingku, menatapku dengan senyum tipis.
Aku bangkit duduk dan seketika merasakan seluruh tubuhku nyeri, disertai kelemahan yang luar biasa.
Luka di lenganku telah dibalut dengan ramuan obat. Jarum perak di antara alisku juga sudah tidak terlihat.
“Aku telah menyelamatkanmu dua kali,” kata pemuda itu dengan tenang ketika melihatku sadar.
“Kau… sebenarnya siapa? Apa yang sebenarnya terjadi?!” tanyaku dengan bingung.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Pemuda itu terkekeh pelan.
“Bukankah seharusnya kau bertanya, sebenarnya siapa dirimu sendiri?”
“Aku?”
Aku menatapnya dengan kebingungan.
“Saudaraku, sebenarnya apa yang kau ketahui? Tolong beri tahu aku. Sungguh, sekarang aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi.”
Pemuda itu tidak menjawab. Ia justru menunduk melihat jam tangannya, lalu mengatupkan bibir dan berdiri untuk pergi.
Sesampainya di ambang pintu, ia berhenti sejenak.
“Waktunya hampir tiba.”
“Waktu apa yang hampir tiba?”
Melihat hal itu, aku buru-buru bangkit dan hendak meminta penjelasan. Namun, pandanganku mendadak gelap. Tubuhku tidak mampu menopang diri, sehingga aku kembali terjatuh ke ranjang.
Setelah duduk di tepi ranjang dan beristirahat cukup lama, tubuhku baru terasa sedikit pulih. Aku segera bangkit dan berjalan cepat keluar dari kamar.
Sesampainya di ruang depan, aku tidak melihat pemuda itu. Aku pun mencari ke seluruh penjuru rumah, baik di depan maupun di belakang, tetapi tetap tidak menemukan jejaknya.
Orang ini benar-benar memberiku perasaan yang sangat aneh.
Muncul dan menghilang tanpa jejak, seolah-olah ia adalah hantu.
Bahkan aku tidak tahu bagaimana ia membawaku dari rumah sakit ke tempat ini!
Karena tidak menemukan pemuda itu, aku berpikir sejenak, lalu berjalan keluar dari pondok untuk mengamati keadaan di sekitarnya.
Aku segera menyadari bahwa pondok kayu kecil ini berada tepat di kaki Lereng Fenghuang!
Jika berjalan mendaki, aku akan sampai di Lereng Fenghuang!
Saat itu matahari telah tenggelam dan hari tampaknya akan segera gelap. Ponselku kehabisan daya dan benar-benar mati, sehingga aku tidak dapat menghubungi dunia luar.
Sambil memandang ke arah Lereng Fenghuang, aku kembali teringat perkataan Tuan Chen. Entah mengapa, kuil yang terus berubah wujud itu masih membuatku sangat penasaran. Seolah-olah digerakkan oleh kekuatan tak kasatmata, aku pun mendaki Lereng Fenghuang.
Aku menelusuri lereng itu hingga kembali tiba di depan kuil tua yang telah runtuh.
Tanpa diduga, aku melihat Tuan Chen berdiri di depan kuil sambil bertumpu pada tongkat dan mengenakan kacamata hitam bundar.
Aku tertegun sejenak, lalu memberanikan diri menghampirinya dan bertanya dengan dahi berkerut,
“Tuan Chen, tadi kalian… pergi ke mana?”
“Tidak pergi ke mana-mana. Kami tetap berada di sini.”
Sambil berkata demikian, Tuan Chen melambaikan tangan kepadaku.
“Kebetulan kau datang tepat waktu. Sebentar lagi akan gelap. Jangan turun gunung. Makan saja di sini. Nanti ketika tengah malam tiba, kita pergi mencari makam tunggal itu!”
Aku menjilat bibir, lalu melirik dengan gugup ke ruang utama kuil tua tersebut. Setelah menguatkan hati, aku mengikuti Tuan Chen masuk ke dalam.
Di ruang utama, Chen Peiyao masih terbaring tak bergerak di dalam peti mati hitam. Tidak tampak perubahan sedikit pun pada dirinya.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Tuan Chen menarikku untuk duduk di atas tikar bundar di sampingnya. Ia memasak sedikit makanan, lalu memasukkannya ke dalam periuk tanah liat.
Malam pun turun. Nyala api bergoyang-goyang. Aku menoleh dan melihat bayangan Tuan Chen memanjang jauh diterpa cahaya api. Hatiku pun sedikit lebih tenang.
Bagaimanapun, konon hantu tidak memiliki bayangan. Karena Tuan Chen memiliki bayangan, seharusnya ia bukan makhluk gaib.
“Setelah keluar dari tempatku, kau pergi ke rumah sakit, bukan?” tanya Tuan Chen kepadaku.
Aku tertegun, lalu mengangguk.
“Bagaimana Tuan bisa tahu?”
“Tubuhmu jelas berbau cairan disinfektan. Bau seperti itu hanya ada di rumah sakit.”
Tuan Chen terkekeh. Ia mengeluarkan sebatang tembakau linting dari lengan bajunya, menyalakannya, lalu mengisapnya beberapa kali.
“Bagaimana keadaan adikmu? Apa yang terjadi sekarang?”
Mendengar pertanyaan itu, aku langsung teringat pada adegan ketika kedua orang tuaku bekerja sama dengan Ajan berjubah hitam untuk mencelakakanku.
Tanpa sadar, aku menceritakan seluruh kejadian yang berlangsung di rumah sakit, termasuk pemuda yang kutemui dan kejadian terakhir ketika aku berada di pondok kayu kecil.
Namun, demi berjaga-jaga, pada akhirnya aku tidak menyebutkan bahwa pemuda itu berkata makam tunggal tersebut adalah tempat ia dikuburkan.
Setelah mendengarkan penjelasanku, dahi Tuan Chen berkerut rapat.
Ia mengisap tembakau lintingnya dalam-dalam. Asap mengepul di hadapannya, sementara matanya menyipit.
Dengan suara berat, ia berkata, “Qin Zhenfeng ini benar-benar menuai akibat perbuatannya sendiri. Ia memang pantas mati!”
Aku berpikir sejenak, lalu bertanya, “Tuan Chen, apakah Tuan mengenal pemuda itu?”
“Apakah dia berambut cepak, bermata besar, berhidung tinggi, dan memiliki tahi lalat hitam yang sangat jelas di dekat sudut matanya?” tanya Tuan Chen sambil menatapku.
Aku mengangguk.
“Ya, dia orangnya. Dia juga berkata bahwa telah menyelamatkanku dua kali. Namun, sampai sekarang aku tetap tidak tahu siapa sebenarnya dia!”
Mendengar itu, Tuan Chen menoleh dan menepuk pundakku. Ia menghela napas tanpa daya.
“Anak, umurmu telah dipinjam selama tujuh hari. Energi yang membuatmu tetap hidup sangat lemah, sementara hawa yin dalam tubuhmu melimpah. Bertemu arwah gentayangan di pegunungan dan hutan adalah hal yang wajar. Tidak perlu terlalu dipikirkan.”
“Arwah gentayangan di pegunungan dan hutan?”
Aku tidak kuasa menahan keterkejutanku.
Tuan Chen mengangguk.
“Namanya Chen Ping. Ia telah meninggal tiga tahun lalu. Orang yang dimakamkan di dalam makam tunggal itu adalah dirinya!”
“Apa?!”
Aku sangat terkejut hingga langsung melompat dari atas tikar!
Halaman (3/3)