Bab Lima Puluh Satu: Ahli Bela Diri Bintang Enam!

Peleburan Pertarungan: Lelang dengan Pengembalian Sepuluh Ribu Kali Lipat, Aku Menjadi Tak Terkalahkan Pedang Kekosongan 2451kata 2026-02-09 17:11:11

Dentuman dahsyat terdengar! Sebuah cakar tajam yang penuh amarah langsung menghancurkan bayangan ilusi milik Awan Mengalir, lalu melanjutkan sisa kekuatannya mengubah pepohonan di belakang menjadi serpihan yang tak terhitung jumlahnya.

Serbuk kayu berhamburan, Awan Mengalir segera menggunakan teknik bayangan ganda, berubah menjadi puluhan ilusi yang lincah menghindari cakar raksasa milik Kera Raksasa yang mengamuk.

Di dalam hati Awan Mengalir saat ini, hanya ada satu perasaan: berjalan di atas es tipis, hidup di ujung maut!

Sedikit saja ia melakukan kesalahan, pasti akan berakhir dengan luka parah akibat serangan Kera Raksasa.

Menghadapi kekuatan dahsyat Kera Raksasa, Awan Mengalir benar-benar berada di bawah tekanan. Aura menakutkan yang dipancarkan Kera Raksasa menelan seluruh tubuhnya, dan energi yang menyebar di sekeliling membuat tubuhnya terasa nyeri.

Situasi saat ini sungguh sepihak—Awan Mengalir terdesak tanpa mampu membalas.

Namun, tatapan Awan Mengalir tetap kokoh, seperti daun yang bergoyang di tengah badai tapi tidak jatuh. Angin dingin menerpa, rambut hitamnya yang acak-acakan terbang liar, semangat juangnya membara.

Pada saat itu, perasaan yang mengalir di hatinya begitu mendalam dan memuaskan.

Inilah perasaan yang ia cari.

Awan Mengalir merasakan darahnya seolah mendidih, tubuhnya dipenuhi oleh sensasi kegembiraan di tengah tekanan luar biasa dari Kera Raksasa. Ia merasa seolah mampu melampaui batas dirinya sendiri, kekuatannya meningkat di segala aspek!

Dentuman demi dentuman menggema di hutan yang remang, dua sosok dengan aura menakutkan saling bertabrakan berulang kali.

Gelombang kekuatan yang sangat dahsyat menyapu ke segala arah, makhluk buas yang bersembunyi di hutan berlarian ketakutan.

Dengan satu pukulan Kera Raksasa, sebatang pohon kuno yang besar runtuh seketika.

Lalu, Kera Raksasa mengangkat batang pohon tersebut dan dengan brutal menyapu ke arah Awan Mengalir.

Setiap langkah yang diambil Kera Raksasa membuat bumi bergetar. Batang pohon yang diayunkan menghantam hutan di kejauhan, suara retakan tidak berhenti.

Raungan liar menembus langit, deretan pohon besar disapu habis, Awan Mengalir terpaksa mundur sambil menggerutu dalam hati. Binatang ini benar-benar menakutkan saat mengamuk.

"Sial, apa kau pikir aku ini patung tanah liat?!"

Awan Mengalir yang kini benar-benar terbakar emosi, matanya memancarkan kebengisan, langsung mengeluarkan jurus kedua dari teknik tingkat bumi, Tangan Penutup Langit: Tangan Pemecah Bumi!

Dalam sekejap, aura pertarungan di seluruh penjuru menjadi liar dan ganas.

Dengan tangan yang terus membentuk pola, kekuatan di alam seolah tertarik turun, hingga akhirnya tercipta sebuah jejak tangan raksasa di telapak Awan Mengalir.

Ia menatap Kera Raksasa yang menerjang dengan penuh amarah, tersenyum dingin di sudut bibirnya, "Pergi."

Dengan satu seruan lembut, jejak tangan itu meluncur seperti meteor, bagaikan petir dari langit yang melesat turun, suara menggelegar membelah angkasa.

Dalam raungan menyayat Kera Raksasa, jejak tangan itu menghantam tubuh raksasanya tanpa ampun.

Dentuman dahsyat menggema, aura pertarungan yang mengamuk seperti ombak besar menghantam tubuh Kera Raksasa, sekaligus meluncurkan kekuatan dahsyat ke segala arah.

Dalam suara gemuruh yang tak berkesudahan, pepohonan di sekitar hancur berantakan, salju yang menutupi tanah terlempar tinggi, gelombang energi menakutkan bahkan menggulingkan pepohonan di kejauhan.

Seluruh hutan seolah telah diterjang tsunami, jejak-jejak pedang membelah tanah yang tandus.

Kera Raksasa yang kokoh seperti gunung terlempar tak terkendali, pohon-pohon yang dilaluinya patah di tengah, jejak cekungan yang mencolok muncul sepanjang jalur yang dilewatinya.

Tanah penuh kekacauan, goresan energi menakutkan terlihat di mana-mana.

Debu beterbangan, tubuh Kera Raksasa berlumuran darah, bulu putihnya berubah merah.

Dalam mata merah darahnya muncul ketakutan, cakar tajamnya dipenuhi goresan halus seperti pedang, menakutkan untuk dilihat.

Ia meraung keras, lalu berbalik dengan ganas, berlari ke dalam hutan lebat, menabrak pepohonan hingga tumbang, gunung dan hutan bergetar.

Kera Raksasa—ternyata melarikan diri!

Melihat binatang buas yang panik melarikan diri, Awan Mengalir terkejut sejenak, lalu tertawa tak tertahan.

Binatang ini rupanya sangat takut mati!

Namun, pelarian Kera Raksasa membuat Awan Mengalir sedikit lega.

Walau tampak menderita akibat satu serangan tadi, Awan Mengalir bisa merasakan kekuatan di tubuh Kera Raksasa masih sangat kuat, bahkan terdapat aura liar yang mulai merembes keluar.

"Jika pertarungan dilanjutkan, belum tentu aku yang menang," gumam Awan Mengalir pelan, karena ia sudah mengerahkan seluruh kemampuan untuk melawan Kera Raksasa.

Sensasi kekuatan yang penuh dalam tubuhnya telah lenyap, jejak tangan yang ia keluarkan barusan hampir menguras seluruh energi pertarungannya.

Di saat yang sama, perasaan aneh menyelimuti hatinya, sensasi familiar itu membuat bibirnya tersenyum cerah, "Terobosan."

Dalam sekejap, aura di tubuh Awan Mengalir meningkat tajam.

Ahli Pertarungan Enam Bintang!

Belum lama sejak ia menembus lima bintang, kini Awan Mengalir berhasil menembus batas lagi.

"Benar juga, pertarungan adalah cara terbaik untuk berlatih," ia tersenyum merasakan kekuatan dalam tubuhnya, semangat juangnya semakin membara.

Awan Mengalir lalu mengarahkan pandangan ke celah di antara pegunungan tak jauh dari situ.

Saat pertempuran tadi, ia belum sempat memperhatikan tempat itu.

Apakah orang di dalam sana sudah berhasil kabur?

Dengan pertanyaan itu, Awan Mengalir perlahan mendekati celah tersebut.

"Kenapa sekarang sunyi?" pikir gadis bergaun putih di dalam celah, telinganya mendengarkan suara dari luar.

Suara mengerikan yang terdengar tadi membuatnya menyangka ada beberapa monster sedang bertarung, sehingga ia takut keluar.

Kini, suara di luar telah hilang, menumbuhkan harapan dalam hatinya.

Mungkinkah para monster itu saling membunuh?

Dengan keraguan itu, gadis bergaun putih perlahan berjalan menuju pintu keluar celah.

Sementara itu, Awan Mengalir sudah tiba di pintu keluar celah.

Ia mendengarkan dengan saksama, sepertinya ada suara langkah kaki yang sangat halus.

Awan Mengalir mengangkat alisnya dengan keheranan, lalu berjongkok dan mengulurkan tangan, berniat menyentuh dinding gunung untuk mengintip ke dalam.

Tepat saat tangannya menyentuh dinding, sebuah tangan mungil nan putih seperti giok tiba-tiba muncul dari dalam celah, juga meraba dinding, namun secara tak sengaja menggenggam tangan Awan Mengalir.

Tangan mungil itu baru saja menyentuh tangan Awan Mengalir, setelah sedikit terkejut, secepat kilat menarik diri seolah tersengat listrik.

Dalam sekejap, wajah lembut dan cantik dengan aura spiritual muncul dari celah, menatap Awan Mengalir yang berjongkok di depan dengan tatapan panik.

Melihat wajah cantik yang tiba-tiba muncul dari balik tebing, Awan Mengalir sempat terkejut, mengira ia bertemu makhluk buas lagi.

Namun ia segera sadar dan memperhatikan gadis cantik di depannya dengan seksama.

Di pintu celah, kedua pasang mata saling menatap bingung, suasana menjadi aneh.

PS: Ternyata masih ada yang mengira Putri Tabib sudah mati, mana mungkin...