Di balik ketenangan yang tampak di dunia para pertapa, tersembunyi krisis peralihan keberuntungan yang telah bersemayam selama ratusan tahun. Seorang pemuda lugu dari pegunungan, tanpa sengaja bertemu dengan sebuah sekte misterius yang diwariskan dari generasi ke generasi, dan tanpa disadari menggugah gejolak di seantero negeri. *** Karya terbaru Wuzui, "Dewa Penghancur Es dan Api"
Bulan sabit menggantung bagai pengait, beberapa burung gagak tua memilih ranting-ranting yang paling dingin, enggan hinggap, melolong pilu dalam kelam malam. Di tanah kuburan yang tak beraturan, sepasang sosok kurus bergerak di antara gundukan tanah dan makam sederhana, seorang remaja berpakaian compang-camping menggendong seorang gadis sebayanya di punggung. Wajah gadis yang menempel di punggungnya terlihat kekuningan, tubuhnya lemah dihimpit lapar dan dingin, hanya sepasang matanya yang masih menyimpan sedikit cahaya kecerdasan. Wajah remaja yang menggendongnya dipenuhi kekhawatiran, kedua tangannya berusaha sebisa mungkin agar tidak menyentuh luka gigitan anjing liar di paha gadis itu. Mereka berdua adalah pengemis dari puluhan li jauhnya, siang hari mengemis di sepanjang jalan, malam hari mengandalkan persembahan di makam untuk mengisi perut. Di tanah Shu, ada kebiasaan semacam ini: saat pemakaman, di atas makam diletakkan roti kukus dan kue, konon untuk memberi makan arwah di perjalanan ke alam baka, juga sebagai persembahan agar arwah liar di sekitar tidak mengganggu arwah yang baru dikuburkan.
“Hidup, rakyat menderita, berubah jadi tanah. Mati, rakyat menderita, berubah jadi tanah.” Karena berada di tengah himpunan makam yang membusuk, gadis itu hanya bisa menguatkan hati dengan suara, meski wajahnya pucat, suaranya sangat bening dan lembut. Ia mendengar syair-syair itu dari pendongeng, dan dengan kepekaan luar biasa ia melantunkannya dengan gaya khas yang manis dan lembut. Di usia kanak-kanak, terjebak dalam zaman kacau, ia tak memahami dalil-dalil agung se