Nama besar Raja Bajak Laut yang mengguncang dunia, pelopor Era Bajak Laut Agung—Gol D. Roger—memiliki satu keinginan terbesar seumur hidupnya: kembali ke masa mudanya, lalu menampar keras dirinya sendiri sebelum sempat berkenalan dengan wakil kapten kapal yang begitu menyesatkan itu! Selama masa awal penerbitan buku baru, dua bab akan terbit setiap hari sebagai jaminan, dengan kemungkinan penambahan sesuai situasi—sang penulis sedang berusaha keras! Karya baru dari penulis pendatang baru ini sungguh tak mudah, mohon pengertian dan dukungan kalian! Label kustom penulis: perjalanan lintas waktu, penuh semangat.
【Koordinat dimensi terkonfirmasi... konfirmasi selesai.】
【Status inang terkonfirmasi... konfirmasi selesai.】
【Kecerdasan buatan diaktifkan... aktivasi selesai.】
【Fluktuasi ruang telah sepenuhnya stabil, sedang memulai program kebangkitan...】
Bersamaan dengan suara-suara notifikasi yang bergema di telinganya, Du Hang perlahan membuka matanya.
Di hadapannya terbentang lautan luas yang membiru, airnya begitu jernih, laksana hamparan permata biru yang mengalir. Du Hang berani bersumpah, seumur hidupnya ia tak pernah menyaksikan samudra seindah ini; bahkan Maladewa yang kesohor sekalipun, di depan lautan ini, tampak kusam dan kehilangan pesonanya.
Namun, keindahan panorama itu berbanding terbalik dengan rona muram di wajah Du Hang.
"Aku hanya salah menekan satu tombol saat bermain game, dan benar-benar malah menyeberang dunia? Zaman sekarang, menyeberang dunia semudah ini, apa nilainya sudah begitu murahan..."
Sebagai seorang profesional hikikomori dan penulis lepas novel daring, Du Hang kerap berandai-andai, bila dirinya suatu hari menyeberang ke dunia lain, apa yang akan ia lakukan. Kadang-kadang, ia bisa berkhayal sampai berhari-hari, merancang rencana dengan sangat rinci. Bahkan, ia pernah membayangkan jika kotanya dilanda wabah zombie, bagaimana cara ia menyelamatkan diri, dan sebagainya.
Bagi penderita sindrom "chuunibyou" stadium akhir sepertinya, tentu saja tingkat penerimaannya terhadap fenomena menyeberang dunia jauh lebih tinggi daripada orang kebanyakan.
Sembari mengusap pelipis, Du Hang mengam