Sebelum menyeberang waktu, ia adalah seorang ahli kimia muda yang berbakat; namun setelah menyeberang, ia justru menjadi Sang Raja Iblis Hutan Hijau. Menghadapi ratusan saudara seperjuangan yang prinsip hidupnya sederhana—jika ada makanan, makanlah; jika tak ada, rampaslah—alisnya selalu berkerut, seolah melangkah di atas es tipis di atas jurang. Merampok bukanlah pilihan, melainkan jalan bertahan hidup yang terpaksa mereka tempuh. Bagaimana caranya agar hari-hari berkuasa di puncak gunung ini dapat berlanjut dengan selamat, itulah persoalan terpenting saat ini. Setelah berpikir matang, ia pun memutuskan untuk menjadi seorang pemimpin bandit yang revolusioner—ia membangun usaha utamanya sendiri dan menjadikan merampok sekadar pekerjaan sampingan... Kisah penyeberangan waktu yang usang dan telah sering didengar; nada ceritanya barangkali lama, namun akankah ia mampu memainkannya dengan cara yang baru? Mari kita nantikan bersama!
Jilid Satu: Jalan Panjang Menuju Kesempurnaan
Bab 1: Mulai Hari Ini Namaku Adalah Song Jiang
Liu Feng membuka matanya dengan setengah sadar, tenggorokannya terasa kering seakan terbakar, dan perutnya melilit, mual—memang begini rasanya setelah menenggak terlalu banyak arak! Tak heran ada yang membuat lelucon: Arak ini! Sekilas tampak seperti air, masuk mulut terasa pedas, sampai ke perut jadi penghuni hantu, berjalan pun kaki tersandung, tengah malam bangkit mencari air, pagi hari menyesal tiada tara!
Nampaknya semalam aku kembali mabuk, dihukum oleh “singa betina” di rumah, lalu diasingkan ke ruang bawah tanah untuk “magang”. Bicara soal ini, ruang bawah tanah yang telah dirapikan memang menjadi tempat pelarian yang ideal bagi suami mabuk, setidaknya terhindar dari omelan bertubi-tubi; dunia menjadi jauh lebih sunyi dan damai.
Eh, ini di mana?
Fajar telah membayang, cahaya yang menembus jendela samar-samar mengungkapkan situasi di dalam kamar. Ini lingkungan yang asing, jelas bukan ruang bawah tanah rumahku sendiri. Atapnya tanpa hiasan, tampak jelas terbuat seluruhnya dari kayu, dinding-dindingnya gabungan tanah dan kayu, perabot di dalam ruangan pun semua dari kayu mentah, bahkan cat pun tak disentuh... singkat kata, pondok ini memancarkan aroma alami kayu dan tanah, suasananya kuno dan antik.
Namun, pemilik rumah ini rupanya hanya suka dengan gaya kuno secara permukaan saja, hasilnya justru menjadi aneh—dinding polos tanpa lukisan, jendela pun tanpa tirai—amat sangat “alami”!
Aneh!
Kapan aku mengenal orang seperti ini? Jan