Yun Fuling transmigrou. Ao abrir os olhos, não só se tornou mãe sem dor, como também recebeu um filho de três anos e meio. Ainda enfrentava o perigo da enchente que se aproximava. Teve que arrastar a família para fugir da fome. Sem comer nem beber? Não tenha medo, eu tenho suprimentos em um espaço! Vagabundos e baderneiros procurando briga? Não tema, uma agulhada e ele vai ver o rei da morte! Com a medicina em mãos, o mundo é meu. Só que o belo homem que salvei por acaso, como se transformou em um chiclete pegajoso que não desgruda dela: “Esposa, vamos ter um segundo filho!”
Yun Fuling baru saja siuman dengan linglung ketika sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya.
"Perempuan sialan, disukai olehku adalah keberuntunganmu!"
"Kau berani menggigitku? Dengan tenagamu yang seadanya ini, kau pikir bisa lolos dari genggamanku?"
"Layani aku dan saudara-saudaraku dengan baik sampai kami puas, maka aku akan melepaskanmu dan bocah kecil itu!"
"Jika tidak, setelah kami selesai bermain-main denganmu, kami akan menjual kalian berdua, ibu dan anak, ke rumah bordil!"
Rasa sakit yang membakar di pipinya membuat kesadaran Yun Fuling menjadi sedikit lebih jernih.
Kemarahan yang tak terhingga bergejolak di dalam hatinya.
Dia adalah tabib sakti yang paling dihormati di markas akhir zaman. Siapa yang bosan hidup berani memperlakukannya seperti ini?
Dia membuka matanya dan melihat seorang pria dengan wajah mesum sedang mencabik-cabik pakaiannya sambil memegangi telinganya yang berdarah.
Di sampingnya berdiri beberapa pria lain yang mengeluarkan tawa cabul.
"Perempuan ini cukup galak, tadi dia hampir menggigit putus telinga Kakak Tertua."
"Yang galak begini justru lebih terasa nikmat saat dimainkan..."
"Kakak, cepatlah sedikit. Kami semua sedang menunggu giliran untuk bersenang-senang. Jangan sampai ada orang yang datang nanti."
"Tenang saja, hujan deras seperti ini hari ini, tidak akan ada orang yang datang. Kita punya banyak waktu untuk bermain perlahan-lahan..."
Pria berwajah mesum itu merobek paka