Eu Trato o Mundo Xuanhuan Como um Jogo

Eu Trato o Mundo Xuanhuan Como um Jogo

Penulis:40 Aviso

Para conquistar os Nove Caldeirões e disputar o Mandato do Céu, o mundo está envolto em ondas traiçoeiras e nuvens mutáveis. Mu Jiangli, que entrou por engano neste cenário, não sabe se deve se lançar na grandiosidade das nuvens negras que destroem cidades, cavalos de ferro e rios gelados, ou se entregar ao vinho e às canções loucas, ao vento, flores, neve e lua, buscando uma vida de liberdade e despreocupação, ou ainda retirar uma concha das três mil águas fracas, com feijões vermelhos de saudade e galhos entrelaçados partilhando um túmulo, uma vida estável. Parece haver muitas escolhas, mas também parece não haver nenhuma. Quando ele olha para trás de repente, já chegou ao cume da montanha.

Eu Trato o Mundo Xuanhuan Como um Jogo

14ribu kata Palavras
0kunjungan visualizações
60bab Capítulo

Bab 1: Kukira Kau Seorang Jagoan

"Bangun, jangan tidur lagi, giliranmu jaga malam."

Dalam tidurnya, Mu Jiangli merasa tubuhnya ditendang. Dia mengira ketua tim proyek memergokinya sedang malas-malasan saat lembur dan datang untuk menegurnya. Namun saat membuka mata, dia melihat seorang pria berbadan tegap dan kekar dengan bekas luka panjang di wajahnya sedang menatapnya dari atas sambil memanggul sebilah golok.

"Lihat apa? Minggir, minggir," pria kekar itu memberi isyarat agar dia bergeser.

Mu Jiangli berdiri dengan linglung, lalu melihat pria kekar itu duduk di bawah batang pohon yang baru saja disandarinya, mendekap goloknya, dan langsung tertidur.

Embusan angin sepoi-sepoi bertiup, membuat Mu Jiangli menggigil. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Di kedua sisi jalan tanah di tengah hutan, tampak banyak orang tidur malang-melintang. Masing-masing mendekap senjata di tangan mereka. Ada juga beberapa orang yang terjaga, mengawasi keadaan sekitar dengan waspada.

Di tengah tempat semua orang beristirahat, dua kereta kuda terparkir di jalan. Kereta-kereta itu membawa beberapa peti besar yang tersegel rapat, tampak misterius.

Mu Jiangli merasa otaknya kosong. Dia memegang dahinya, berusaha keras untuk memahami situasi saat ini.

Dia tahu betul namanya adalah Mu Jiangli, berusia 22 tahun, baru saja lulus dan bekerja di sebuah perusahaan gim. Saat lembur di malam hari, dia sempat mengobrol seru dengan seorang rekan kerja wanita yang cantik. Rekan kerjanya itu bahkan memujinya tampan dan memiliki nama yang bagus, sangat cocok untuk proyek bertem

📚 Rekomendasi Terkait

Lihat Lebih Banyak >

Peringkat Terkait

Lebih Banyak Peringkat >