Bab Pertama: Mayat Perempuan
Halaman (1/3)
Semburat cahaya bulan menembus jendela yang separuh tertutup, membentuk pemandangan samar dan berkabut di dalam ruangan. Di luar, hujan turun dengan getir ditemani angin yang menyayat. Daun-daun bergesekan menimbulkan suara gemerisik, sementara jalan marmer dipenuhi lumpur dan kotoran—semuanya seakan menjadi pertanda atas tragedi yang telah terjadi.
Di tengah ruangan terbujur sesosok tubuh telanjang. Dilihat dari ciri-ciri pada bagian bawah perutnya, korban adalah seorang perempuan. Jemari tangannya yang ramping terkulai lemas di udara. Namun, tak seorang pun akan mengira bahwa ia sedang beristirahat dengan tenang.
Leher jenazah itu terkoyak oleh luka merah menyala. Hanya sedikit sisa daging yang masih menghubungkan kepalanya dengan tulang tenggorokan yang putih pucat, menahan agar kepalanya tidak terlepas.
Seluruh jari tangan dan kakinya telah dipotong rata, rapi tanpa terkecuali. Dada jenazah perempuan itu juga telah dibelah hingga menjadi permukaan datar, memperlihatkan tulang rusuk yang berlumuran lendir. Di bawah cahaya bulan, tulang-tulang itu memancarkan kilau keperakan yang terasa sangat mengerikan.
Giginya yang tinggal sedikit tidak saling menggigit, seolah hendak menyampaikan sesuatu. Keempat anggota tubuhnya terbentang tenang di atas ranjang steril, sementara seprai yang semula putih bersih telah ternoda merah darah.
Ji Shuang menggenggam sebilah pisau bedah, alisnya sedikit berkerut. Semua orang di tempat kejadian menunjukkan wajah muram. Bahkan ahli forensik berpengalaman pun tak kuasa menahan rasa mual.
Tak ada sejengkal kulit pun yang tersisa di sekujur tubuh korban. Bola matanya yang besar juga telah dicungkil, menyisakan rongga mata kosong. Tak ada satu pun bagian tubuhnya yang masih utuh. Pisau telah mengoyak setiap jaringan lunak, hanya menyisakan lubang-lubang dengan luka sayatan yang dalam dan beragam ukuran.
“Lima tahun yang lalu…” Pikiran Ji Shuang kembali terseret ke masa lima tahun silam, ke gang gelap itu. Iblis yang sama telah membunuh seorang gadis muda dengan cara seperti ini.
Batin Ji Shuang mulai bergetar. Luka terdalam yang selama ini ia pendam akhirnya kembali terbuka pada saat itu, dan pisau bedah di tangannya pun terjatuh.
“Ji Shuang, ada apa denganmu?” tanya seorang ahli forensik senior.
Orang-orang di sekitarnya merasa heran. Kondisi Ji Shuang sama sekali tidak seperti biasanya. Selama lima tahun terakhir, ia tak pernah melakukan kesalahan sekecil apa pun dalam pekerjaannya.
Ahli forensik senior itu menghela napas, tetapi tidak memperpanjang masalah tersebut. Bagaimanapun, hal terpenting saat ini adalah korban.
“Korban telah meninggal lebih dari tiga jam.” Ji Shuang memaksa dirinya mengendalikan ekspresi. Kebenaran kasus ini sangat penting baginya, tak perlu diragukan lagi.
“Sampaikan pendapatmu, Ji Shuang,” ujar ahli forensik senior itu dengan bibir mengerucut.
“Korban baru ditemukan setelah tiga jam, tetapi saya dapat menyimpulkan bahwa waktu kematiannya sudah lebih lama dari itu.”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
“Dari kondisi tubuhnya, ia seharusnya disiksa sedikit demi sedikit hingga meninggal. Patahnya telapak tangan dan luka sayatan pada dada menunjukkan bahwa jumlah darah yang keluar sangat banyak. Selain itu, warna darahnya telah berubah menjadi cokelat gelap.”
“Perlu diketahui, semakin banyak darah yang keluar, semakin lama waktu yang dibutuhkan darah untuk membeku dan berubah warna. Dari kondisi tubuh korban, dapat disimpulkan bahwa penyebab kematiannya adalah dehidrasi. Baik dada yang dibelah rata maupun organ-organ yang hilang tidak cukup untuk menyebabkan kematian. Dengan kata lain, korban baru mengalami kematian otak setelah seluruh darahnya mengalir habis.”
“Saya tidak setuju dengan pendapatmu, Dokter Ji.” Ahli forensik senior itu segera melihat letak persoalannya.
Ji Shuang merasa sedikit heran. “Menurut Anda bagaimana, Pak?”
“Perubahan warna darah juga dipengaruhi oleh kondisi fisik seseorang serta kadar trombosit dan faktor pembekuan dalam darah. Semua itu dapat mengubah warna darah. Jadi, waktu kematian korban tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan warna darah.” Ahli forensik senior itu menghela napas.
“Kasus ini tidak sederhana. Pelakunya memiliki kesadaran antipelacakan yang sangat kuat. Ia tahu persis apa yang ingin kita temukan, dan juga memahami cara membuat kita melihat petunjuk tanpa mampu menangkapnya.”
Menatap pupil ahli forensik senior yang dalam, Ji Shuang tak kuasa menahan tubuhnya yang menggigil. Ia mulai mempertanyakan apakah kesimpulannya benar.
Ahli forensik senior itu adalah orang nomor dua di kantor mereka. Ia selalu memperlakukan semua orang dengan baik, sehingga sangat dihormati dan disegani. Biasanya, semua orang memercayai penilaiannya—termasuk Ji Shuang.
Sama seperti lima tahun lalu, setelah melakukan kejahatan, pelaku tidak meninggalkan petunjuk apa pun. Saat itu, kepolisian belum memiliki teknologi seperti sekarang, sehingga setelah tragedi tersebut terjadi, mereka hanya bisa menutupinya dengan alasan seadanya.
“Kak… apakah orang yang tewas mengenaskan lima tahun lalu itu adalah Kakak?”
Gadis yang tewas mengenaskan lima tahun sebelumnya sangat mirip dengan kakak perempuan Ji Shuang, baik dari bentuk tubuh maupun wajahnya. Karena peristiwa itu terjadi pada malam hari, Ji Shuang tidak dapat memastikan bahwa korban tersebut benar-benar kakaknya.
Namun, sejak saat itu, kakaknya seolah-olah menghilang dari dunia. Tak pernah ada jejak yang dapat ditemukan.
Setelah itu, Ji Shuang terus dihantui oleh mimpi-mimpi buruk yang tak terhitung jumlahnya. Bayangan kelam yang tak mungkin terhapus tertinggal di dalam hatinya. Pada saat itulah ia memutuskan menjadi ahli forensik.
“Malam ini, kita harus menemukan cara untuk menentukan waktu kematian korban. Kalau tidak, satu-satunya petunjuk yang kita miliki hanyalah bahwa korban berjenis kelamin perempuan. Pemeriksaan melalui sidik jari juga sama sekali tidak membuahkan hasil. Pelaku jelas sengaja memusnahkan semua benda yang dapat meninggalkan petunjuk. Tak ada sedikit pun sidik jari yang tersisa di telapak tangan.” Ahli forensik senior itu berkata dengan tenang.
“Ji Shuang, apakah kau memiliki strategi yang lebih baik?”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Saat itu, Ji Shuang tampak sedang tenggelam dalam pikiran. Ia merasa perkataan ahli forensik senior itu memang benar, tetapi sepertinya ada sesuatu yang sangat penting yang terlewatkan. Hanya saja, ia tidak dapat mengingatnya untuk sementara waktu.
“Hah? Aku… untuk saat ini juga belum menemukan cara.” Karena tak berdaya, Ji Shuang hanya mampu menjawab demikian.
Orang-orang di sekitarnya menatapnya dengan penuh tanda tanya. Dalam ingatan mereka, Ji Shuang selalu menjadi orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Bahkan ketika menghadapi kasus-kasus yang sangat rumit dan nyaris mustahil dipecahkan, ia tetap mampu menemukan celah untuk menerobos.
Namun, reaksinya kali ini sangat berbeda dari sebelumnya, seolah-olah ia telah berubah menjadi orang lain.
Melihat keadaan itu, ahli forensik senior menggelengkan kepala. “Rapat hari ini kita akhiri sampai di sini. Jika ada yang memiliki strategi bagus, segera temui saya.”
Setelah mengucapkan itu, ahli forensik senior langsung pergi. Yang lain pun perlahan membubarkan diri, meninggalkan Ji Shuang seorang diri yang masih terpaku di tempat.
Memandangi punggung ahli forensik senior yang semakin menjauh, Ji Shuang tampak kebingungan untuk sesaat.
“Aku… sebenarnya kenapa? Kak, apakah Kakak masih hidup?” Mungkin karena terlalu lelah, Ji Shuang merasa satu-satunya alur pemikiran dalam benaknya telah terputus—terputus sepenuhnya.
Saat ini, Ji Shuang hanya ingin tidur. Ia merasa telah kehilangan sesuatu yang sangat penting.
Pada waktu yang sama, di dalam sebuah ruangan remang-remang, seorang pria berusia lebih dari lima puluh tahun mengenakan jas putih dan menggenggam sebilah pisau bedah.
Satu-satunya sumber cahaya di ruangan kecil itu memantul pada lensa kacamatanya yang tebal. Karena pembiasan cahaya, sinar tersebut berkumpul menjadi satu titik terang yang perlahan memanjang menuju kegelapan di bawahnya.
Dan di ujung titik cahaya itu tampak jelas sepasang mata yang kosong dan tanpa kehidupan!
Tak ada setitik darah pun di sekitar mata tersebut. Bahkan pupilnya telah menghilang, menyisakan bagian putih mata yang mengerikan untuk menopang seluruh rongga mata. Mata yang semula penuh semangat kini tampak suram dan mati.
Halaman (3/3)