Prolog
“Cepat, cepat, jangan sampai terlambat! Jika matahari sampai tenggelam, awas, arwah penuh dendam dari alam baka akan datang menjemput jiwamu!” seru seorang perempuan bertubuh kurus kering dengan nada teramat cemas; di wajahnya terlukis kepanikan yang tak bisa disembunyikan.
Di belakangnya, dua orang pelayan laki-laki berbaju biru tengah memanggul sehelai tikar rami yang tergulung. Mendengar ucapan itu, tubuh mereka seketika gemetar, rona wajah berubah suram. Salah satunya, lelaki bertampang licik dan bermuka monyet, memaksakan tawa dan berkata, “Sudahlah, Nyonya He, jangan menakut-nakuti kami. Sekalipun benar ada arwah penasaran, itu pun tak ada hubungannya dengan kami! Bukan kami yang merenggut nyawanya, jadi kalaupun ada yang harus menuntut balas, jelas bukan kami, bukan?”
Ucapannya itu lebih terdengar seperti upaya menenangkan diri sendiri.
Seorang perempuan lain bertubuh agak gemuk pun tampak pucat, dengan nada tak sabar mendesak, “Cukup bicara, cepat pergi! Nanti kalau sampai orang itu tahu kalian lambat bekerja, entah ada arwah dendam atau tidak, yang jelas kalian pasti akan celaka!”
Dua pelayan tadi seperti baru teringat sesuatu, tubuh mereka menggigil makin hebat, tak berani berkata sepatah pun lagi, mengangkat tikar rami itu dan bergegas lari keluar halaman, lenyap di balik gerbang lengkung.
Pada saat itu, ekspresi perempuan kurus yang tadi bicara berubah-ubah, ia menoleh memandang ke rumah sunyi nan suram di belakangnya. Di telinganya seakan masih terngiang jeritan memilukan yang sempat terdengar, membuat bulu kuduknya berdiri. Tak kuasa membendung rasa takut, ia pun berbisik, “Bu Lai Xiang, menurutmu, benarkah arwah dendam akan datang menuntut kita?”
Perempuan bertubuh gemuk di sampingnya mencibir, lalu menghela napas dan berkata, “Namanya juga dendam, pasti ada pelakunya. Kita ini tidak berbuat apa-apa, semua adalah perintah orang itu. Sekalipun ia ingin membalas dendam, jelas bukan kepada kita. Lagi pula, kalau saja ia tidak gelap mata, berani menantang orang itu hanya karena merasa dilindungi Tuan Besar, dan tak tahu diri, mana mungkin ia bernasib demikian? Semua orang tahu betapa berbahayanya orang itu, hanya dia saja yang nekat menabraknya. Sekarang baru tahu akibatnya, tapi semuanya sudah terlambat!”
“Benar juga,” perempuan kurus itu menghela napas, “Kasihan anaknya yang masih kecil, kehilangan ibu seperti ini, tak tahu kelak nasibnya akan seperti apa. Andaikan ibunya sedikit saja memikirkan putrinya sendiri, takkan sampai bersaing dan cemburu dengan yang satu itu. Kini anak itu kehilangan ibu, dan Jenderal pun tak pernah peduli dengan urusan remeh di dalam rumah, takutnya kehidupan anak itu ke depan akan sengsara.”
Saat mereka berbincang, tiba-tiba angin dingin berhembus. Kedua perempuan itu yang sejak tadi sudah diliputi kegelisahan, kini merasakan hawa dingin menelusup ke tulang punggung. Bulu kuduk mereka meremang, saling berpandangan dengan tatapan takut, tak berani lagi berlama-lama di tempat itu. Mereka pun lari terbirit-birit, tangan terkatup, mulut komat-kamit mendaraskan doa, tak henti-henti berkata, “Nyonya Pei, mohon jangan salahkan kami. Kami hanya menjalankan perintah. Mohon kebaikan hati Anda, lepaskan kami. Kami pasti akan membakar dupa, bersembahyang, memohon kepada Sang Buddha agar Anda lekas mencapai kebahagiaan sejati, terlahir kembali di kehidupan yang penuh keberuntungan dan bahagia…”
Karena terlalu diliputi rasa takut, ucapan mereka kacau tak beraturan, tanpa logika. Ironisnya, selama Nyonya Pei hidup pun mereka tak pernah bersikap sepatuh ini.
Begitu kedua perempuan itu pergi, halaman rumah bobrok itu pun tenggelam dalam kesunyian yang pekat, seolah tiada jejak kehidupan. Angin dingin kembali bertiup, membangkitkan sehelai daun kering di tanah, melayang-layang di udara sebelum akhirnya jatuh lesu di tanah, menambah nestapa yang menggantung di udara…