O encontro casual, ao olhar para trás de repente, no instante em que os olhares se cruzam, destinado a uma vida inteira de entrelaçamento mútuo, o surgimento e a extinção dos laços, o nascimento dos laços no vazio silencioso, amor e separação, ressentimento duradouro, o que não se obtém, o que não se larga. Eu também já fui jovem, ardente e ingênuo como você...
Saya pernah mencintai seseorang, sejak masa sekolah dulu.
Dia sosok yang dingin sekaligus cerah. Saat pertama kali bertemu, dia adalah siswa paling populer, penguasa sekolah, sekaligus siswa berprestasi yang digandrungi. Dia juga teman sebangku saya yang baru. Para siswi mencintainya, sementara para siswa takut padanya. Awalnya, saya sangat membencinya. Kehadirannya di masa SMA saya bagaikan iblis; dia merundung dan menertawakan saya. Namun, demi bisa terus bersekolah, saya harus berpura-pura tidak terjadi apa-apa dan berusaha menyenangkan hatinya.
Saat itu, saya berpikir bahwa setelah lulus, saya bisa melarikan diri dari segalanya, melarikan diri dari sekolah, melarikan diri dari rumah...
Secara tak terduga, saya mengetahui rahasia umumnya. Teman-teman sekelas bilang dia memiliki sosok "bulan purnama" yang dicintainya namun tak bisa dimiliki. Dan saya, ternyata memiliki kemiripan dua puluh persen dengan sang dewi legendaris itu. Maka, saya pun dengan kikuk meniru gerak-gerik dan penampilannya.
Saya pikir masa sekolah saya akan terus diisi dengan penghinaan dan perjuangan seperti ini.
Namun, efek sebagai pengganti itu sangat efektif. Dia benar-benar tidak lagi menyulitkan saya, bahkan berulang kali membantu saya. Hidup saya tidaklah panjang, tetapi saya jarang bertemu orang yang benar-benar baik kepada saya seperti dia. Bayangan dirinya yang penuh luka namun tetap menerjang ke arah saya dengan segenap tenaga, terukir dalam di hati saya. Sejak saat itu, saya dengan senang hati menjalani peran sebagai pengganti sosok "bulan purn