Bab Empat Puluh Enam: Ikutlah Bersamaku!
Melihat betapa terburu-burunya Bidadari Kecil, Liuyun tersenyum tipis, lalu langsung membuka tutup peti harta karun itu.
Seketika, sebuah gulungan kertas berwarna-warni tampak di dalamnya.
Liuyun perlahan mengulurkan tangan dan mengambil gulungan itu, lalu membukanya. Pada permukaannya tertulis empat aksara besar: "Kitab Racun Pelangi".
"Apa ini harta karun?" Bidadari Kecil pun penasaran mendekat, matanya penuh rasa ingin tahu.
"Coba kau lihat saja." Sempat ragu sejenak, Liuyun akhirnya menyerahkan gulungan berwarna itu kepada Bidadari Kecil.
Dengan fisik Bidadari Kecil, cepat atau lambat ia memang akan menempuh jalan sebagai ahli racun.
Selain itu, Liuyun juga tak ingin melihat bakat luar biasa tubuh racun malapetaka itu terbuang sia-sia.
Adapun kelemahan tubuh racun malapetaka di masa depan, Liuyun yakin bisa mendapatkan cara menciptakan Pil Racun dari Guru Obat.
"Apa ini?" Menerima gulungan dari tangan Liuyun, Bidadari Kecil meneliti sejenak, lalu wajah cantiknya memancarkan kegembiraan.
"Ternyata ini adalah kitab khusus tentang cara meracik racun!" Bidadari Kecil menatap Kitab Racun Pelangi di tangannya dengan penuh suka cita.
Karena ia tak bisa menjadi alkemis, satu-satunya jalan baginya adalah meracik racun.
Sebenarnya, keinginan terdalamnya adalah menjadi alkemis, bukan sekadar menjadi ahli racun yang dibenci dan ditakuti orang.
"Kitab racun ini milikku, dua peti sisanya semua untukmu," ujar Bidadari Kecil sambil erat memeluk Kitab Racun Pelangi, seolah sudah menganggapnya milik sendiri.
"Benda itu memang tak berguna bagiku, kalau kau menginginkannya, ambil saja," kata Liuyun, memang telah menyiapkannya untuk Bidadari Kecil.
"Terima kasih," ucap Bidadari Kecil pada Liuyun sambil memeluk Kitab Racun Pelangi.
"Kita sudah begitu dekat, tak perlu sungkan padaku," balas Liuyun dengan senyum menggoda.
"Huh, siapa juga yang akrab denganmu!" Mendengar itu, rona merah merekah di wajah Bidadari Kecil. Ia memelototi Liuyun dengan manja.
Liuyun hanya tersenyum tipis lalu mengambil kunci kedua untuk membuka peti berikutnya.
Meski dua peti tersisa sudah menjadi milik Liuyun, Bidadari Kecil tetap saja tak bisa menahan rasa penasarannya dan mendekat ikut melihat.
Klak!
Dengan bunyi khas, peti kedua pun segera terbuka di tangan Liuyun.
Di bawah sinar batu bulan dalam ruang batu itu, isi kotak terpampang jelas di hadapan Liuyun dan Bidadari Kecil.
"Lagi-lagi gulungan?" Melihat gulungan hitam di dalam kotak, alis Bidadari Kecil terangkat heran.
Liuyun sudah tahu benar apa isi gulungan itu. Ia segera mengulurkan tangan dan mengambil gulungan hitam tersebut.
Ia meneliti dengan saksama, lalu pandangannya berhenti pada tulisan kecil di samping gulungan: "Ilmu Bertarung Terbang Tingkat Atas: Sayap Elang".
Melihat gulungan di tangannya, seulas senyum muncul di wajah Liuyun.
Akhirnya, ilmu bertarung terbang yang selama ini ia dambakan, kini telah berada dalam genggamannya.
Entah harta karun apa lagi yang akan ia peroleh setelah melelang ilmu bertarung terbang ini nanti.
Membayangkannya saja membuat mata Liuyun memancarkan harapan.
"Liuyun, itu apa?" Melihat ekspresi bahagia Liuyun, Bidadari Kecil semakin penasaran pada gulungan di tangannya.
"Itu ilmu bertarung terbang," jawab Liuyun sembari tersenyum melihat sorot penasaran di mata Bidadari Kecil.
"Ilmu bertarung terbang? Apa itu?" Baru kali ini mendengar nama itu, Bidadari Kecil mengedipkan mata kebingungan. Ia hanya pernah mendengar tentang ilmu bertarung serangan, pertahanan, atau gerakan tubuh, tapi belum pernah tentang ilmu bertarung terbang.
"Sesuai namanya, ilmu ini memungkinkan seseorang terbang di langit," jelas Liuyun lagi.
"Terbang? Bukankah kemampuan itu hanya bisa dimiliki oleh ahli tingkat Dewa Roh yang sangat kuat?" Bidadari Kecil terkejut, lalu tampak makin bingung.
"Di dunia ini, segala keanehan bisa terjadi. Bidadari Kecil, nanti kalau kau sudah kuat, kau takkan terkejut lagi." Liuyun menatap Bidadari Kecil di hadapannya. Dibandingkan dengan bakat tubuhnya, ilmu bertarung terbang ini sebenarnya tak ada apa-apanya.
Setelah berkata demikian, Liuyun langsung menyimpan ilmu bertarung terbang itu ke dalam cincin penyimpanan.
"Tinggal satu lagi, setelah ini kita keluar," kata Liuyun sambil mengambil kunci terakhir dan memasukkannya ke dalam lubang kunci.
Klak!
Dengan suara khas, peti ketiga pun terbuka di tangan Liuyun.
"Lagi-lagi gulungan?" seru Bidadari Kecil terkejut melihat gulungan merah di dalamnya.
Liuyun mengambil gulungan merah itu dan membukanya.
"Raungan Singa Ganas, Ilmu Bertarung Tingkat Atas."
Melihat gulungan di tangannya, Liuyun tersenyum puas.
Barang untuk dilelang tingkat atas di tangannya bertambah satu lagi.
Namun, Liuyun tiba-tiba teringat satu masalah.
Dengan begitu banyak ilmu bertarung tingkat atas di tangannya, kota kecil seperti Kota Wutan jelas takkan sanggup menampungnya.
"Mungkin, sudah saatnya kembali ke Ibu Kota Kekaisaran," Liuyun membatin. Ia memutuskan begitu urusannya dengan Xiao Yan selesai, ia akan langsung kembali ke ibu kota.
Dengan pengaruh Ibu Kota Kekaisaran Gama, seharusnya seluruh barang ini bisa terjual habis di sana.
"Baiklah, harta karun sudah selesai kita jelajahi, sekarang saatnya keluar," ujar Liuyun sambil membereskan gulungan, lalu menoleh pada Bidadari Kecil di sampingnya.
"Ya." Mendengar itu, Bidadari Kecil mengangguk pelan.
Begitu tiba di pelataran luar gua, Liuyun langsung membuka kedua tangan ke arah Bidadari Kecil.
"Ayo kemari."
Melihat gerakan Liuyun, Bidadari Kecil memelototinya, lalu perlahan berjalan mendekat. "Jangan macam-macam, kalau tidak..."
"Ah..."
Belum sempat Bidadari Kecil menyelesaikan kalimatnya, Liuyun sudah menariknya ke dalam pelukannya.
Dalam sekejap, aroma wangi menerpa wajah Liuyun, dan tubuh lembut nan harum itu pun menghantam dadanya.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Liuyun dengan senyum nakal, memandang gadis di pelukannya.
Tubuh lembut Bidadari Kecil yang menempel di dada Liuyun terasa seperti menghantam dasar hatinya, membuat jantungnya bergetar hebat.
Hembusan napas panas Liuyun menyapu pipi lembut Bidadari Kecil. Ia tak tahan untuk menatap Liuyun, dan mendapati pria itu menatapnya lekat-lekat, membuat hatinya tak karuan. "Liuyun, kau mau apa?"
"Kau pikir apa?" Liuyun tersenyum nakal, lalu tanpa menunggu, langsung mencium Bidadari Kecil yang masih terbelalak kaget.
"Mm!"
Bidadari Kecil hanya bisa mengeluarkan suara lirih, tak mampu melepaskan diri dari pelukan erat Liuyun.
Setelah beberapa saat, tubuh Bidadari Kecil pun mulai melemah, membiarkan Liuyun berbuat semaunya.
Baru setelah cukup lama, bibir mereka perlahan berpisah.
"Dasar nakal!"
"Dasar mesum!"
Bidadari Kecil menatap Liuyun dengan mata berkaca-kaca, merah dan basah, sambil memukul-mukul dada Liuyun dengan kepalan kecilnya.
"Bidadari Kecil, ikutlah denganku!" Liuyun membiarkan Bidadari Kecil memukul dirinya, sementara ia menatap sang gadis dengan senyum bahagia.
Mendengar itu, gerakan tangan Bidadari Kecil terhenti, ia terdiam.
Melihat hal itu, secercah kekecewaan melintas di mata Liuyun, namun ia sadar tak boleh buru-buru dalam hal ini.
"Ayo kita naik dulu."
Kemudian, Liuyun merangkul Bidadari Kecil dan berjalan menuju puncak tebing.
(Tamat bab ini)