Bab 87: Kekuatan Angin dan Petir, Menembus Batas Guru Besar Dou!

Peleburan Pertarungan: Lelang dengan Pengembalian Sepuluh Ribu Kali Lipat, Aku Menjadi Tak Terkalahkan Pedang Kekosongan 2448kata 2026-02-09 17:12:47

“Tidak, aku tidak boleh pingsan…”

Di dalam gua, kedua tangan Liuyun menggenggam erat, rasa sakit yang menembus hingga ke tulang membuat wajahnya sangat pucat. Setetes demi setetes keringat menetes dari dahinya, Liuyun dapat merasakan nyeri yang menusuk dari seluruh tubuhnya.

Bersamaan dengan penderitaan yang menghancurkan batin ini, tubuh Liuyun, di bawah penempaan kekuatan angin dan petir, perlahan mengalami suatu perubahan.

Deg! Deg!

Saat ini, di benak Liuyun seolah hanya tersisa suara detak jantungnya sendiri, sementara rasa sakit di dalam tubuhnya terus meningkat. Dengan paksa ia menenangkan pikirannya, membiarkan dirinya larut dalam proses perubahan tubuh, hingga mulai menjadi tenang.

Di antara dinding gua, cahaya biru dan perak terus berkedip di tubuh Liuyun. Kekuatan angin dan petir yang buas menyusup ke seluruh tubuhnya. Daging dan tulang mendapatkan penempaan luar biasa pada saat itu.

Liuyun duduk bersila dengan tenang di atas tanah, tubuhnya sesekali kejang. Setiap kali kejang, urat-urat biru di tubuhnya menonjol, menunjukkan betapa hebatnya penderitaan yang ia rasakan. Namun, setiap kejang juga membawa gelombang kekuatan yang kuat menyebar dari tubuhnya.

Seiring waktu berlalu, aura di tubuh Liuyun meningkat dengan kecepatan luar biasa.

Petarung Bintang Delapan!

Puncak Petarung Bintang Delapan!

Petarung Bintang Sembilan!

Keadaan ini berlangsung selama satu jam penuh.

Saat itu, Liuyun merasakan perubahan di dalam tubuhnya, wajahnya pun sedikit berubah. Ia kini berada di ambang menembus ke tingkat Agung Petarung.

Menahan sakit yang luar biasa, Liuyun memusatkan pikirannya ke dalam tubuh. Di dalam, pusaran energi yang tadinya hanya terisi setengah cairan biru, kini sudah memenuhi tiga perempat bagian. Dengan kecepatan seperti ini, ketika pusaran energi penuh, itu berarti ia telah mencapai batas Petarung.

Seiring waktu berlalu, tubuh Liuyun perlahan diselimuti cahaya biru yang lembut. Cahaya itu membalut tubuhnya, membentuk semacam jubah energi.

Pada saat itu, cahaya biru tersebut terus berputar dan berkelok-kelok, seolah mencoba membentuk sesuatu. Secara samar, jubah energi yang awalnya hanya berupa bayangan, kini mulai tampak memiliki wujud nyata.

Melihat hal ini, Liuyun semakin waspada, tidak berani sedikit pun lengah.

Karena, pusaran energi di dalam tubuhnya sudah tidak mampu lagi menampung energi tambahan. Kapasitasnya telah mencapai batas, jika ia memaksakan diri untuk menambah energi, pusaran itu bisa saja pecah, akibatnya akan sangat mengerikan.

Saat kehabisan jalan, orang harus mencari perubahan. Maka Liuyun kini harus mengambil tindakan agar terhindar dari nasib buruk itu.

Jika berhasil menghindar, kekuatannya akan melonjak pesat dan ia dapat menembus ke tingkat Agung Petarung. Jika gagal, pusaran energi pecah, energi tersebar, dan ia akan menjadi seorang yang tidak berguna.

Yang membuatnya kesulitan adalah, kekuatan angin dan petir masih terus mengalir ke tubuhnya, memberikan energi tanpa henti saat menempanya. Jika dibiarkan, pusaran energinya pasti akan pecah.

“Hanya bisa dikompresi!”

Pada saat kritis, Liuyun segera membuat keputusan. Ia menahan sakit di tubuhnya, memusatkan pikiran, lalu mulai mengompresi energi di dalam pusaran.

Semakin dikompresi, pusaran energi di tubuhnya berputar semakin kencang. Putaran yang semakin cepat itu membentuk lingkaran-lingkaran biru di sekeliling pusaran.

Dentuman suara dari pusaran yang berputar kencang perlahan menjalar di tubuh Liuyun. Suara yang mengandung ritme ajaib ini menembus pembuluh darah, tulang, sel-sel tubuh, hingga akhirnya keluar ke permukaan kulit dan masuk ke jubah energi yang berputar di tubuhnya.

Begitu suara itu masuk ke jubah energi, pergerakan jubah perlahan berhenti. Sesaat kemudian, cahaya biru bersinar terang, energi biru cepat menyatu dan berkumpul, akhirnya saling berbaur.

Tak lama, sebuah baju zirah yang terbentuk dari energi berkumpul di tubuh Liuyun.

Pada saat bersamaan, di dalam tubuh Liuyun, sebuah kristal biru berbentuk belah ketupat sebesar ibu jari perlahan-lahan melayang di tengah pusaran, diam tanpa bergerak.

Kristal biru itu berkedip-kedip, menandakan kelemahan benda yang baru lahir ini.

Liuyun menatap kristal biru yang berdiri seperti di pusat badai itu dengan penuh keheranan.

Saat kristal itu muncul, ia dapat merasakan dengan jelas sensasi nyaman yang berasal dari kedalaman jiwanya.

Benda kecil ini adalah kunci untuk menjadi seorang Agung Petarung. Para Agung Petarung biasanya menyebutnya sebagai “Kristal Energi.”

Di mata banyak petarung, hanya setelah memiliki Kristal Energi, barulah seseorang benar-benar memasuki dunia latihan energi.

Benda kecil ini adalah kristalisasi dari seluruh energi dalam tubuh manusia, di dalamnya terdapat kekuatan yang sangat besar.

Saat itu, aura Agung Petarung terpancar kuat dari tubuh Liuyun!

Ketika Liuyun menembus tingkat Agung Petarung, rasa sakit di tubuhnya langsung menghilang. Ia membuka matanya, dan dari bola matanya yang gelap, seberkas cahaya tajam terpancar.

Setelah merasakan kekuatan yang melimpah dalam dirinya, sudut bibir Liuyun terangkat, menampakkan kegembiraan yang luar biasa.

Tak disangka, penempaan tubuh dengan kekuatan angin dan petir memberi kejutan yang tak terduga, langsung membantunya menembus ke tingkat Agung Petarung.

Dengan satu pikiran, Liuyun menggerakkan energi ke telapak tangannya. Seketika, cahaya biru yang menyilaukan terkumpul di telapak tangannya.

Pada saat berikutnya, Liuyun menghantamkan telapak tangannya ke dinding gua di sampingnya.

“Tapak Pemecah Bumi!”

Jejak telapak tangan yang besar, disertai kekuatan dahsyat, menghantam dinding gua dengan keras.

“Boom!”

Dengan suara keras, seluruh gua bergetar. Setelah debu mengendap, di dinding gua terlihat lubang besar yang mengerikan, dan beberapa retakan pun muncul.

“Energi keluar dari tubuh!”

Melihat kerusakan yang ia timbulkan dengan satu serangan, Liuyun tersenyum puas.

Di tingkat Agung Petarung, energi di dalam tubuh akhirnya bisa dilepaskan ke luar, tidak lagi terikat oleh batas tubuh. Dalam pertarungan, hal ini sangat menguntungkan.

Kemudian, Liuyun teringat akan sayap angin dan petir yang baru saja ia gabungkan.

Ia menoleh, dan melihat di kedua tulang belikatnya perlahan muncul dua simbol misterius, satu biru dan satu perak.

Jelas, setelah penempaan tubuh oleh kekuatan angin dan petir tadi, ia telah berhasil menyatukan sayap angin dan petir itu.

Dengan perasaan, Liuyun dapat merasakan jelas energi buas yang tersimpan di kedua simbol misterius tersebut.

Inilah kekuatan angin dan petir?

Liuyun merasa penuh harap, lalu ia menggerakkan pikirannya, mulai mengaktifkan simbol biru dan perak di tulang belikatnya.

(Bagian ini selesai)