Bab 12: Kekuatan Menentukan Kehormatan【10】
Bab 12: Hukum Rimba, yang Kuat Berkuasa [10]
Sepasang mata di balik jubah hitam itu sedikit terangkat, menatapnya sejenak, lalu dengan tenang melompat ke atas. Kirin Api menggeram pelan, penuh amarah, namun Zhan Ye menenangkan punggungnya dengan tepukan lembut.
“Jangan terlalu dekat. Ketika aku bilang berhenti, kau harus berhenti.” Suara serak terdengar dari balik jubah hitam itu.
Zhan Ye mengangkat alis, merasa heran. Ini pertama kalinya ada orang yang begitu angkuh di hadapannya.
Di atas hutan, awan tebal mulai menurunkan salju. Angin kencang berembus, membawa serpihan-serpihan salju turun menutupi Hutan Es yang sunyi. Pohon-pohon raksasa membeku seluruhnya. Binatang ajaib yang tak sempat melarikan diri juga terperangkap dalam es, seolah semuanya terjadi dalam sekejap mata.
Semakin mereka masuk ke dalam, perasaan tidak nyaman di hati pun semakin kuat.
“Berhenti,” suara lembut terdengar dari mulut Huang Bei Yue.
Zhan Ye benar-benar berhenti sesuai perintah.
Huang Bei Yue meluncur turun dari punggung Kirin Api. Tubuh mungilnya berdiri di atas lapisan es tebal. Di tengah terpaan angin dingin, dari punggung kecilnya terpancar aura agung dan dingin yang tak terbantahkan.
Keberaniannya menerobos Hutan Es, yang aura di sekitarnya bahkan lebih menakutkan dari Kirin Api, tanpa sedikit pun rasa takut, apakah ia juga seorang Pemanggil? Berapa bintang tingkatannya? Apakah ia sudah berhasil mengikat perjanjian dengan binatang roh?
Saat itu, hati Zhan Ye yang baru pertama kali bertemu dengan sosok misterius ini, justru dipenuhi rasa ingin tahu yang sangat besar.
Huang Bei Yue melangkah perlahan ke depan. Tiba-tiba jantungnya berdebar hebat, sebuah daya panggil kuat menyusup ke dalam kalbunya. Ia segera bergerak cepat, melesat ke depan sekuat tenaga.
“Hoi!” Zhan Ye memanggil, tapi sosoknya sudah lenyap dari pandangan.
Di pusat hutan, pohon-pohon yang membeku kini telah hancur menjadi serpihan, membentuk bukit-bukit es dalam berbagai ukuran.
Gundukan-gundukan es yang bening itu memantulkan warna biru langit, berkilau bagai air. Dunia ini seolah berubah menjadi tak bertepi, luas dan agung.
Gadis berjubah hitam berdiri angkuh sendirian. Angin kencang menerpa, mengangkat jubahnya hingga menyingkap sepasang mata hitam yang jernih dan murni. Ia memandang lurus ke depan tanpa berkedip.
Badai salju! Angin topan!
“Namaku Huang Bei Yue!”
Suara bening dan dingin itu menggema, mustahil tertelan angin, penuh kebanggaan dan ketegasan yang tak tertandingi.
Dalam duel antara manusia dan binatang, Huang Bei Yue tak pernah kalah!
Ia adalah penguasa. Di dunia binatang, semua aturan akan hancur jika berhadapan dengannya!
Menjawab panggilannya, seekor burung es raksasa muncul di atas kepalanya.
Burung itu tak menghiraukan angin badai, mengepakkan sayap-sayap esnya yang besar, perlahan turun di atas bukit es di hadapan Huang Bei Yue. Tekanan luar biasa dari makhluk dewa itu membuat permukaan es merekah dalam pola radiasi.
Salah satu retakan perlahan-lahan merambat hingga ke bawah kaki Huang Bei Yue, berhenti tepat di ujung jarinya.
Huang Bei Yue tetap berdiri tanpa bergerak, wajahnya tenang, tatapannya bening dan dingin.
Mata zamrud raksasa burung es itu menatap tajam ke arahnya.
“Aku bernama Burung Ilusi Es, gadis kecil, apakah kau ingin mengikat perjanjian jiwa denganku?”
Bersamaan dengan suara Burung Ilusi Es, udara di sekitarnya mendadak membeku, seolah menolak kehadiran Huang Bei Yue.
Jubah hitam yang dikenakannya tetap mengembang tertiup angin, lalu membatu tertutup es.
Namun Huang Bei Yue sama sekali tak terpengaruh. Bahkan helaian rambutnya masih tergerai lembut, tak sedikit pun terjamah dingin di sekelilingnya.
Mata Burung Ilusi Es memancarkan keterkejutan. Sebagai makhluk dewa, ia telah memiliki kecerdasan dan kesadaran layaknya manusia.
Burung Ilusi Es ini terkenal sebagai makhluk roh paling angkuh; sejak dulu, tak pernah terdengar ada manusia yang berhasil mengikat perjanjian dengan mereka!