Bab 3: Menghormati Kekuatan【1】
Bab 3: Hukum Kuat adalah Segalanya [1]
"Lan Si, kalau ingin menangkapku, kau masih harus menunggu seratus tahun lagi!"
Dia adalah pembunuh paling hebat di dunia ini, mampu mengendalikan segala sesuatu sesuka hati, tiada yang mustahil baginya. Kecuali pria itu, yang tak pernah mau melawannya, mungkin tak ada seorang pun di dunia yang bisa menjadi lawannya!
Seketika, ia mengangkat tangannya, seekor elang hitam raksasa terbang melintas dari balik kelamnya malam. Tatapan matanya setajam baja, sebesar lonceng tembaga, hanya dengan satu lirikan saja sudah bisa membuat orang gemetar ketakutan!
Cakar tajam elang itu mencengkeram lengan Huang Bei Yue, dengan bentangan sayapnya yang lebar, ia pun segera dibawa terbang menembus langit yang luas!
Rambutnya yang merah menyala berkibar-kibar dengan angkuh di tengah gelapnya malam!
Pada saat bersamaan, dari kapal pesiar di bawahnya, puluhan senapan mesin berat menembakkan peluru secara membabi buta ke arahnya.
Lan Si melangkah ke geladak, memandang sosok kecil yang kian menjauh di langit, lalu berkata pada orang di sampingnya, "Sudah siap semuanya?"
"Komandan, semuanya siap! Atasan memutuskan untuk mengorbankan satu kota demi memburu dan membunuh Huang Bei Yue!"
Lan Si mendongak ke langit yang jauh, perasaannya diliputi kehampaan, "Sudah lama aku katakan, suatu saat nanti, kau akan menanggung akibat dari keangkuhan dan ketidakberperasaanmu itu, Bei Yue!"
Sakit yang tajam menusuk dadanya. Bei Yue, sekian tahun mengejarmu, sesungguhnya setiap kali aku tak pernah benar-benar tega untuk menghabisimu.
Namun kali ini, perpisahan kita sungguh untuk selamanya...
Sepuluh menit kemudian, sebuah kota di perbatasan Provinsi Jiangsu tiba-tiba diguncang ledakan dahsyat. Awan jamur raksasa membubung tinggi, menerangi langit malam yang pekat!
Untungnya, seluruh penduduk kota itu telah dievakuasi sebelumnya, sehingga tak ada korban jiwa.
Namun saat ledakan itu terjadi, seberkas cahaya hitam aneh menerobos keluar dari awan jamur, membentuk seekor naga hitam raksasa yang melesat ke angkasa!
********* Dinasti Bei Yue *********
Negeri Sayap Selatan
Di malam yang larut, tak ada yang menyadari segulita hawa jahat, bagaikan kawanan binatang buas yang mengamuk, menerobos masuk ke ruang pemujaan di halaman belakang kediaman Putri Agung.
Di bawah keremangan cahaya lilin, sepasang mata gelap yang dingin perlahan terbuka.
Dalam kerlap-kerlip api, mata dingin itu tak menunjukkan ekspresi apa pun. Setelah sekian lama, Huang Bei Yue akhirnya berhasil mencerna bagian memori baru yang muncul di benaknya.
Dengan sedikit erangan lemah, ia terpaksa menerima kenyataan—dirinya... telah menyeberang ke dunia lain!
Huang Bei Yue adalah kakak kandung Kaisar saat ini, putri tunggal dari Putri Agung Hui Wen. Statusnya begitu tinggi, namun ia justru menjadi bahan tertawaan seluruh Negeri Sayap Selatan.
Lemah, bodoh, tak mampu berlatih bela diri, dan sejak lahir mengidap penyakit. Tabib istana pun berkata, ia takkan mampu bertahan hidup hingga usia delapan belas tahun.
Tak hanya itu, ia pun benar-benar dianggap tolol. Sebagai satu-satunya putri sah Putri Agung, ia malah kerap diperlakukan lebih hina daripada pelayan oleh saudara-saudaranya yang lahir dari selir.
Ibu tirinya sangat sewenang-wenang, ayahnya pun memperlakukannya dengan dingin dan benci. Sejak empat tahun lalu, setelah Putri Agung Hui Wen wafat, kedudukannya di keluarga langsung merosot tajam.
Kali ini, hanya karena salah bicara dan menyinggung selir kesayangan ayahnya, ia dihukum berlutut di ruang pemujaan selama sehari semalam tanpa makan dan minum.
Tubuh ini memang sejak kecil lemah dan sering sakit. Sekali dihukum seperti itu, nyawanya pun melayang.
Namun siapa sangka, takdir mempertemukannya dengan kesempatan aneh—Huang Bei Yue, yang di masa modern dikenal sebagai 'Senjata Pamungkas', kini menempati tubuh gadis dua belas tahun ini.
Perlahan ia bangkit dari lantai dingin, menatap altar tempat abu Putri Agung Hui Wen disemayamkan. Entah karena cahaya lilin, ia merasa ada seberkas cahaya lembut berpendar dari papan nama itu.
Hangat, seolah tatapan penuh kasih sayang tengah mengawasinya.