Bab 6: Hanya yang Kuat yang Berkuasa【4】
Bab 6: Hukum Rimba Para Kuat [4]
Feng Beiyue... tak disangka kunjungannya ke kediaman Sang Putri Agung justru mendatangkan hasil yang begitu tak terduga. Saat harus kejam, ia takkan pernah ragu; saat harus dingin, ia takkan menoleh ke belakang. Kini, ia tiba-tiba merasa sangat tertarik pada bocah kecil itu.
"Paduka..." Suara pelan terdengar dari kegelapan.
Dengan satu kibasan tangan, lengan bajunya yang putih melayang, sosoknya yang bagai hantu lenyap seketika di balik gelapnya malam.
************ Dinasti Beiyue *************
Paviliun Awan Mengalir
Inilah halaman paling terpencil di kediaman Sang Putri Agung, penuh rerumputan liar, bayangan pohon menari-nari, malam hari sendirian di sini sungguh bisa membuat seseorang ketakutan oleh pohon-pohon yang bergoyang seperti hantu.
Tak lama setelah Putri Agung Huiwen wafat, seorang tabib mengatakan bahwa ia menderita penyakit berat yang mungkin menular, sehingga ia dipindahkan ke halaman yang telah lama terbengkalai ini.
Dulu, ia tinggal di Paviliun Air Jernih, yang kini ditempati oleh Selir Xue dan Nona Kedua, Xiaoyun.
Nona Kedua, Xiaoyun, adalah seorang pemanggil bintang tiga berusia lima belas tahun. Di antara gadis-gadis muda di Negeri Sayap Selatan, ia tergolong sebagai bakat langka.
Selain Putra Mahkota, Xiaoyun adalah yang paling menonjol.
Karena itu, Xiaoyun sangat dimanjakan di keluarganya. Bahkan Selir Qin, yang melahirkan putra sulung Xiao Zhongqi, tak berani bermusuhan dengannya.
Xiaoyun dan ibunya, Selir Xue, tampaknya tidak pernah bersikap terlalu kejam pada Feng Beiyue. Dalam ingatan, tidak pernah ada pemukulan atau penganiayaan seperti yang sering dilakukan Selir Qin. Hanya saja, Xiaoyun yang sombong itu tak pernah menganggap adik perempuannya yang dianggap sampah itu penting.
Feng Beiyue yang selalu sakit-sakitan pun, tetap mendapat kiriman obat dan makanan dari Selir Xue.
Tunggu dulu, obat itu!
Feng Beiyue mendorong pintu Paviliun Awan Mengalir, segera kembali ke kamarnya yang dingin dan gelap, menyalakan lilin, lalu mengambil kendi obat yang biasa dikirimkan Selir Xue untuk menciumnya.
Alisnya pun langsung mengernyit. Benar saja, ada yang aneh!
Dalam kendi obat itu terdapat racun dalam dosis sangat kecil. Meminumnya sekali tidak akan membunuh, tapi jika dikonsumsi terus-menerus, tubuh akan semakin lemah, hingga akhirnya lumpuh total, bahkan jika tak mati pun hanya bisa berbaring di ranjang seumur hidup.
Begitu kejam, pantes saja tubuh Feng Beiyue selalu lemah. Bahkan saat Sang Putri Agung masih hidup, berapa pun tabib dipanggil, semuanya angkat tangan.
Racun dalam dosis kecil seperti ini memang sulit terdeteksi. Hanya orang seperti Feng Beiyue, yang di masa modern sudah terbiasa dengan berbagai uji racun, yang bisa tahu hanya dengan sekali cium.
Selir Xue, sungguh tak tahu terima kasih! Putri Agung sudah sangat baik padamu. Tanpa Putri Agung, kau hanyalah wanita simpanan tanpa status. Alih-alih berterima kasih, kau justru memakai cara sekejam ini untuk menyakiti putrinya!
Feng Beiyue duduk, menata napasnya perlahan. Tak perlu buru-buru, orang-orang ini akan ia hadapi satu per satu.
Mati, itu terlalu murah bagi mereka!
Fajar hampir tiba, namun Feng Beiyue sama sekali tak merasa mengantuk. Ia mencoba duduk bersila di atas ranjang, mengatur pernapasan. Anehnya, setiap kali ia mengalirkan energi ke dalam dantiannya, energi itu langsung lenyap tak bersisa.
"Sial! Ternyata benar-benar sampah!"
Tubuh lemah saja sudah cukup buruk, kini bahkan energi pun tak bisa dikumpulkan.
Di era yang menjunjung tinggi kekuatan ini, negara-negara adidaya berdiri berdampingan, perang tiada henti. Kekuatan adalah satu-satunya standar yang menentukan status seseorang. Tak heran meski berstatus sebagai putri kandung Sang Putri Agung, dan telah dianugerahi gelar Putri Beiyue, Feng Beiyue justru menjadi bahan tertawaan di Negeri Sayap Selatan.
Yang lemah, takkan dikasihani siapa pun!
Hanya yang kuatlah yang dihormati!
Feng Beiyue segera menelusuri ingatannya tentang dunia ini.
Benua Karta, setelah mengalami masa kekacauan lebih dari seratus tahun, akibat gejolak yang berkepanjangan, budaya merosot, bela diri berkembang pesat, dan perang yang tiada henti membuat para pendekar sangat dihormati di zaman ini.
Selama kau cukup kuat, kau bisa berbuat semaumu di negara mana pun.