Bab pertama: Sebuah Kehidupan yang Berbeda

Adikku adalah vokalis utama. Bulan Lembah Maple 2258kata 2026-03-04 21:32:57

Eksistensi mendahului esensi, hakikat manusia ditentukan oleh pilihan bebasnya sendiri. — Sartre

Sun Chengfeng sebenarnya tidak begitu memahami mengapa setelah terbangun dari tidurnya tubuhnya terasa begitu berat, pikirannya pun serasa buram dan tumpul, bahkan membuka mata saja terasa seperti beban. Seharusnya, sebagai dosen universitas yang sudah terbiasa begadang untuk riset maupun menyiapkan kuliah, tubuhnya tak semestinya melontarkan protes sekuat ini.

“Mungkin aku memang benar-benar butuh istirahat,” Sun Chengfeng menghela napas dalam hati, berusaha membuka mata dan mencari obat, namun ia mendapati dirinya sedang terbaring di ranjang rumah sakit.

“Eh? Sampai pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit karena kelelahan?” Belum sempat ia mencerna keadaan, sepasang suami istri di sisi ranjang memandangnya dengan mata berbinar penuh kejutan, lalu berteriak memanggil dokter dalam bahasa Inggris. Pada saat itu, serangkaian kenangan membanjiri benaknya, membuat Sun Chengfeng tak mampu menahan beban itu hingga ia kembali tak sadarkan diri.

Dalam ketidaksadaran itu, Sun Chengfeng merasa seperti sedang bermimpi. Dalam mimpi itu, ia bukan lagi dirinya yang tumbuh di panti asuhan dengan hidup biasa-biasa saja, melainkan memiliki keluarga bahagia dan utuh, bahkan dianugerahi bakat luar biasa dalam pemahaman dan daya ingat.

Namun, semua itu hancur akibat kecelakaan mobil yang datang tiba-tiba. Kedua orang tuanya meninggal dunia demi melindunginya, dan ia sendiri terjepit tak berdaya di dalam mobil. Di detik-detik terakhir sebelum kehilangan kesadaran, ia sempat menelpon seseorang, lalu benar-benar tenggelam dalam gelap.

“Sekarang tampaknya ia tetap tidak bisa diselamatkan.” Awalnya, seseorang tidak mengerti makna mimpinya, dan ketika bertemu kembali, mereka telah menjadi bagian dari mimpi. Ketika sadar, Sun Chengfeng menjawab pertanyaan dokter sambil diam-diam mengucapkan salam perpisahan untuk pemilik tubuh ini.

Meski tidak tahu mengapa ia menjadi dirinya, ia berjanji dalam hati untuk terus melanjutkan hidup, membawa harapan pemilik tubuh ini bersama dirinya.

Tak lama berselang setelah keluar dari rumah sakit, Sun Chengfeng kini sementara tinggal di rumah tetangga, yakni keluarga yang pertama kali ia lihat saat terbangun. Keluarga ini berdarah Korea, merupakan sahabat dekat orang tua Sun Chengfeng—yang berasal dari Tionghoa. Kedua keluarga sering berkunjung satu sama lain, hubungan antar orang tua dan anak-anak pun sangat akrab, bahkan nama anak-anak mereka mirip. Nomor yang dihubungi Sun Chengfeng sebelum pingsan pun adalah nomor si bungsu di keluarga itu.

Selama masa pemulihan, Sun Chengfeng mulai memahami dunia barunya—sebuah dunia paralel yang sangat mirip dengan dunia asalnya, hanya saja perkembangan sastra dan seni di sini jauh tertinggal, meski jejak nasib besarnya tetap serupa.

Sun Chengfeng tidak terlalu memusingkan apakah sebagai seorang penjelajah dunia ia bisa menorehkan prestasi sehebat para pendahulunya. Jawabannya sudah pasti—bukan hanya karena ia seorang dosen sastra bandingan dan sastra dunia dengan pengetahuan luas, sehingga dapat berkarya di dunia yang masih ketinggalan ini, namun juga karena tubuh barunya dianugerahi kecerdasan tinggi, pemahaman tajam, dan daya ingat luar biasa. Yang terpenting, ia menemukan dalam pikirannya kini tertanam mesin pencari yang dapat menghubungkannya dengan dunia asal.

Namun, Sun Chengfeng tak merasakan kegembiraan atau kepuasan menjelang ketenaran, yang ada hanyalah rasa asing dan sikap dingin terhadap dunia baru ini. Ia merasa seperti Meursault dalam “Orang Asing” karya Camus—ia seolah-olah tak pernah sungguh-sungguh menjadi bagian dari dunia ini.

Jujur saja, paman dan bibi di rumah tetangga memperlakukannya dengan sangat baik. Semua yang ia miliki kini sudah cukup untuk membawanya ke puncak dunia ini. Sebagai mantan yatim piatu yang hidup biasa-biasa saja, Sun Chengfeng seharusnya merasa sangat bersyukur. Namun yang ia rasakan hanyalah kebingungan dan kehilangan arah.

“Halo, ini cokelat buatan baru, mau coba?” Suara merdu terdengar di telinganya. Itu si bungsu di keluarga ini, penyelamat yang menerima telepon Sun Chengfeng malam itu.

“Terima kasih, tidak usah.”

“Cobalah sedikit saja, wajahmu benar-benar tidak sehat.” Tanpa menunggu jawaban, gadis kecil itu menyelipkan cokelat ke tangan Sun Chengfeng dan duduk santai di sampingnya.

“Ayah dan ibu tidak membiarkanku mengganggumu, katanya kamu butuh ketenangan, tapi menurutku lebih baik aku mengajakmu bicara.”

“Kenapa?” Dengan usia mental dan tubuh yang sudah menapaki usia paruh baya, Sun Chengfeng menatap gadis kecil enam tahun di hadapannya, tiba-tiba merasa terhibur.

Entah kenapa, ia ingin mendengarkan penjelasan si gadis cilik. Selain karena dalam ingatannya ia begitu baik dan manis, ia bukan hanya penyelamat pemilik tubuh ini, namun juga menjadi pintu gerbang bagi kelahirannya kembali. Tentu saja, salah satu alasannya juga karena melihat gadis cilik enam tahun berbicara serius sangatlah menggemaskan.

“Soalnya, tatapanmu pada kami terasa sangat asing, seperti... kamu datang dari dunia lain.” Ketajaman si gadis membuat Sun Chengfeng mengangkat alisnya.

“Aku hanya... merasa bingung, tak tahu harus berbuat apa, atau lebih tepatnya, aku tidak benar-benar paham siapa diriku.” Setelah terdiam sejenak, entah mengapa, mungkin karena terlalu lama memendam perasaan, Sun Chengfeng setengah bercanda setengah serius mulai membagikan isi hatinya pada gadis itu.

“Kalau begitu, biar aku yang memberitahumu.”

“Oh? Menurutmu aku ini siapa, dan harus melakukan apa?”

Sekilas, Sun Chengfeng bahkan sempat mengira gadis kecil itu juga seorang penjelajah dunia seperti dirinya. Namun, di hari-hari berikutnya, ia menyadari gadis itu hanyalah seorang malaikat kecil yang dewasa sebelum waktunya dan sangat peduli pada orang lain.

“Kamu kan kakakku. Mulai sekarang kita akan selalu hidup bersama. Sebagai kakak, tentu tugasmu melindungi adik, kan?”

Gadis kecil itu meletakkan cokelat, menatap Sun Chengfeng dengan mata bening berbinar. Sun Chengfeng merasakan tatapan itu menembus raganya, menyentuh langsung ke jiwanya.

Tuhan menciptakan manusia dan memberi makna bagi umat pilihan-Nya. Maka, jika seseorang telah memberinya makna baru dalam hidup, apakah ia juga harus menerima makna itu, atau mungkin, tak ada salahnya mencoba?

“Tentu saja, itulah makna hidupku mulai sekarang.”

Bertahun-tahun kemudian, saat Sun Chengfeng mengenang peristiwa ini, ia tetap berterima kasih pada adiknya. Mungkin apa yang diucapkan adiknya saat itu hanyalah sudut pandang seorang anak untuk menghiburnya, tanpa makna khusus.

Namun bagi Sun Chengfeng saat itu, kata-kata itu ibarat jangkar hati, membuatnya mampu bertahan di dunia asing ini, tidak terhanyut dan hilang dalam arus.

“Kalau begitu, ayo kita berkenalan lagi. Namaku Sun Chengfeng, lahir 5 Maret 1989, kini berusia sebelas tahun, dan aku adalah kakakmu.”

Sun Chengfeng mengangkat tangan tinggi-tinggi, seolah menunggu sesuatu.

“Baiklah, namaku Sun Chengwan, lahir 21 Februari 1994, tahun ini enam tahun, dan aku adikmu.”

Gadis kecil itu mengangkat tangan dan menepukkan telapak tangan mereka dengan bunyi nyaring. Saat itulah Sun Chengfeng baru menyadari, betapa manisnya cokelat itu.