Dua puluh dua
Bab 022: Malam Dimulai dari Tengah Hari (3)
Lian Huaxin keluar dari kamar mandi dengan handuk putih melilit di kepala dan satu lagi membalut dadanya. Ia tampak segar, berseri-seri, dan pipinya merona merah. Wajahnya yang manis, tubuhnya yang menggoda, serta sepasang bahu mungil yang berisi membuat Wang Yihu terperangah.
Ia melangkah mendekatinya dengan anggun, membawa aroma hangat yang menenangkan. Dalam keharuman itu, terasa hangatnya sinar matahari, semerbak bunga musim semi, dan gemuruh suara burung serta lebah, semuanya penuh kehidupan! Andai bukan karena kehangatan tubuhnya yang menyelimuti, wangi dari sabun mandi itu akan terasa hambar dan tak berarti.
Wang Yihu memandanginya dengan penuh kekaguman, terpaku seperti dalam meditasi, tak mampu bergerak.
Lian Huaxin menangkap bara api yang menari di kedalaman matanya, mendengar letupan kecil gairah. Ia pun tertawa, membentuk tangannya seperti cakar, pura-pura hendak mencengkeram leher Wang Yihu, layaknya anak ayam yang berusaha menakut-nakuti elang. Tingkahnya itu membawa Wang Yihu kembali dari awang-awang ke kenyataan. Ia menghindari tangan kecil itu, melompat turun dari ranjang, dan menggosokkan ujung hidungnya dengan lembut ke hidung Huaxin dua kali, lalu masuk ke kamar mandi.
Di dalam, ia mengatur suhu air hingga nyaris menyengat kulit, membilas dada dan pinggangnya lama-lama, membasuh bagian pangkal pahanya seolah yakin getaran dan kelemahan masa lalu tersembunyi di sana; ia ingin melarutkannya dengan panas, membangkitkan kembali kepercayaan diri dan semangatnya. Ia menyiapkan dirinya dengan cermat, membayangkan momen indah yang akan datang, perlahan-lahan membangkitkan semangat. Ia ingin menjadikan dirinya hidangan mewah yang dipersembahkan kepada wanita yang dicintainya.
Bahkan sebelum keluar dari kamar mandi, ia sudah berdiri tegak, penuh percaya diri!
Entah sejak kapan, gerimis di luar jendela berubah menjadi lebih deras. Tetesan itu bergerak cepat di antara langit dan bumi, seolah menyiapkan tirai untuk menyelubungi keramaian dunia; seperti pasir dalam jam pasir, mengalir perlahan, dengan sabar mengingatkan waktu yang terus berlalu...
Dorongan pertama Wang Yihu langsung menerobos bendungan Lian Huaxin. Ia seperti danau sunyi yang terlalu lama menahan, terlalu penuh, mendambakan ledakan, mendambakan pelampiasan yang membebaskan. Kini, momen itu akhirnya tiba, permukaan danau tak mampu lagi menahan gelombang, riak bahagia bermunculan. Dalam sentuhan perlahan Wang Yihu, ia mulai mengalir deras, terbang menuju dataran luas yang tak berbatas, membentangkan sayap, membebaskan nyanyian; seribu aliran kecil di seluruh tubuhnya mempercepat arusnya, mengikuti penurunannya, mendarat dengan ringan dan riang...
Wang Yihu yang terhanyut dalam gelombang Huaxin, merasakan kehangatan dan getaran dirinya dengan hasrat yang tak terpuaskan. Keberhasilan menembus batas itu membawa kegembiraan luar biasa. Ia segera kehilangan dirinya, berubah menjadi naga liar, naga nakal yang bebas melompat, menabrak, dan berputar di tengah kehangatan itu, bermain sepuas hati. Huaxin adalah danau impiannya, kedalaman danau, arus deras, riak, dan nyanyian yang melintas di atasnya seolah telah bergema dalam hatinya sejak masa muda. Kini, ia menghidupi kembali mimpinya, seakan terlahir kembali, dan ia ingin menggenggam erat, tak membiarkan momen itu menghilang...
Tiba-tiba, gelombang melonjak tinggi, naga muncul dari air, cahaya putih berkilauan... Suara burung berkicau nyaring, nyaris menembus tirai tebal dan kaca jendela, melesat keluar...
Di luar, deretan pohon kelapa, kapuk, dan bugenvil di kedua sisi jalan, gedung-gedung tinggi di kejauhan dan dekat, semuanya berdiam dalam hangatnya gerimis musim semi, seperti terbuai dalam pesona.