45. Menghadapi Krisis
“Maaf sebelumnya, boleh saya bertanya, apakah Anda bernama Kolin?” tanya Chen Feng, hatinya terasa agak bergetar tanpa sebab. Apakah dia akan kembali bertemu dengan seorang pahlawan masa depan?
Pria paruh baya itu tertegun sejenak, lalu berkata, “Benar, ada apa memangnya?”
Feng menggeleng pelan. Tentu saja dia tidak bisa mengatakan bahwa putrinya kelak akan meninggal tragis, dan setelah itu ia akan tenggelam dalam dunia teknologi, lalu menciptakan sebuah robot yang dinamai sesuai nama putrinya—Boneka Mekanik.
Chen Feng kemudian meninggalkan toko penjahit Kolin. Meski dia tahu bahwa Oriana pada akhirnya akan meninggal, ia pun tidak tahu kapan tepatnya atau karena apa. Walau hatinya merasa sayang pada gadis kecil yang manis dan cantik itu, ia tetap tak bisa berbuat apa-apa. Lebih baik ia cepat-cepat pergi agar tidak menanggung rasa bersalah.
Keluar dari toko penjahit, Chen Feng sempat merasa kebingungan. Misi kali ini adalah menyembuhkan kelainan bisu bawaan yang diderita Shana, tetapi gadis itu kini berada di Ionia. Tampaknya ia harus segera berangkat ke sana. Namun sebelum itu, ia perlu mencari tahu cara menuju Ionia.
Kini setelah memperbaiki penampilannya, ia tak lagi menerima tatapan hina dari orang-orang. Sebaliknya, justru banyak gadis muda yang terlihat tertarik padanya. Akan hal itu, Chen Feng hanya bisa menghela napas. Di mana pun, memiliki wajah rupawan memang selalu membawa keuntungan.
Setelah dengan mudah mendapatkan informasi tentang cara menuju Ionia, Chen Feng memutuskan untuk naik mobil teknologi menuju Pelabuhan Kalan. Dari sana, ia akan menyeberang laut dengan kapal menuju Ionia.
Melihat deretan mobil teknologi di depannya, Chen Feng merasa seperti sedang berada di terminal bus di Bumi. Tentu saja, di sini tidak perlu membeli tiket. Di dalam mobil, setiap penumpang cukup memasukkan koin, mirip seperti naik bus umum di Bumi. Sebagai contoh, untuk perjalanan dari Piltover ke Pelabuhan Kalan, ia hanya perlu satu koin perak. Dengan harga seperti itu, tak heran mobil teknologi yang ia cegat di jalan sebelumnya enggan berhenti menjemputnya.
Perjalanan dari Piltover ke Pelabuhan Kalan harus melewati tepian Hutan Kabut di utara Piltover, sebuah hutan yang selalu diselimuti kabut tebal. Tak seorang pun tahu pasti apa penyebab fenomena tersebut. Seiring berlalunya waktu, asal-usul Hutan Kabut lambat laun berubah menjadi legenda. Konon, di zaman kuno, tempat itu adalah salah satu kediaman Dewa Air, Wiki. Karena keberadaan istana sang Dewa Air, daerah itu pun selalu berkabut. Namun, apakah istana itu benar-benar ada, tak pernah ada yang tahu. Selama ribuan tahun, banyak petualang mencoba mencari istana legendaris itu, berharap mendapat harta karun, namun tak satu pun yang kembali dari Hutan Kabut. Akhirnya, tak ada lagi yang berani masuk ke dalam hutan demi mencari istana milik Dewa Air yang misterius itu.
Pada awalnya, Chen Feng merasa sangat bersemangat dan penasaran saat duduk di dalam mobil teknologi. Namun, setelah berjam-jam perjalanan, rasa penasaran itu pelan-pelan menghilang, berganti dengan rasa jenuh dan penat seperti naik bus antar kota yang panjang di Bumi. Karena sudah terbiasa, ia pun tertidur lelap. Entah berapa lama, ia terbangun karena mobil yang ia tumpangi berguncang hebat.
Ketika membuka matanya, ia melihat para penumpang lainnya panik dan saling berdesakan. Namun, semua tatapan mereka tertuju ke arah depan mobil.
Mengikuti arah pandangan mereka, Chen Feng melihat kaca depan mobil telah hancur berkeping-keping. Kepala sang sopir terkulai lemas, di dadanya tertancap sebilah pisau mirip belati terbang. Darah segar mengucur deras dari lukanya.
“Guru Kant, aku tahu Anda ada di dalam. Apakah Anda mau keluar sendiri, atau harus aku jemput? Kalau aku harus turun tangan, nyawa para penumpang tak lagi bisa dijamin,” terdengar suara serak dari luar mobil.
Mendengar itu, Chen Feng hanya bisa tersenyum pahit. Benar-benar sial, baru sekali naik mobil teknologi sudah kena sandera.
Bersamaan dengan suara dari luar, penumpang di dalam mobil mulai gaduh. Dari celah kerumunan, muncullah seorang kakek berambut putih. Jelas bahwa kakek penuh semangat itu adalah Guru Kant. Ia tak sendirian, di sampingnya ada seorang bocah lelaki yang memeluk erat kakinya, tampak ketakutan.
“Guru Kant, apa aku harus benar-benar menjemput Anda?” suara serak itu kembali terdengar, kini jelas bernada tak sabar.
Tubuh Guru Kant bergetar. Dalam mobil, beberapa penumpang mulai merintih, memohon agar nyawa mereka tak diseret dalam masalah itu. Bocah lelaki di samping Guru Kant bahkan menangis tersedu-sedu.
Melihat situasi itu, Chen Feng mengernyitkan dahi. Namun, ia tidak berniat ikut campur. Walaupun memiliki beberapa keahlian, di benua Valoran, tempat teknologi dan sihir berjalan berdampingan, ia sadar dirinya tak berarti banyak. Ia tahu batas kemampuannya.
Tatapan Guru Kant penuh dilema. Ia lalu berjongkok di hadapan bocah itu dan berkata, “Lucian, sepertinya Kakek tidak bisa lagi menjagamu. Ingat pesan Kakek, kuatlah, bertahanlah.”
Bocah itu masih terlalu kecil untuk benar-benar mengerti, tapi ia tahu ia akan kehilangan kakeknya. Ia pun menggenggam erat lengan Guru Kant sambil menangis, “Jangan, aku tak mau kehilangan Kakek. Ayah dan Ibu sudah pergi jauh, Kakek jangan tinggalkan aku. Lucian janji tak akan usil lagi, tak akan menarik janggut Kakek, aku akan jadi anak baik. Kakek, jangan pergi, ya?”
Tangis bocah itu dan kata-katanya membuat suasana dalam mobil kembali gaduh, namun segera sunyi lagi. Simpati memang mudah muncul, namun menolong orang lain butuh keberanian dan kekuatan. Chen Feng pun merasa tergerak, namun akhirnya menahan diri.
“Aku bukan penyelamat, aku bukan penyelamat,” bisiknya dalam hati.
Sudut mata Guru Kant basah oleh air mata. Meski berat, ia tahu tak ada pilihan lain. Dengan teguh, ia melepaskan genggaman si bocah, lalu berjalan menuruni mobil melalui kerumunan yang membuka jalan.
Melihat Guru Kant turun, bocah itu segera bangkit dan berlari menyusul sambil menangis memanggil kakeknya. Namun, ketika melewati para penumpang, seseorang menahan tubuhnya, jelas bermaksud menolongnya.
Baru saja Guru Kant turun, suara serak itu kembali terdengar, “Guru Kant, setahuku Anda masih punya seorang cucu, kan? Anda sebaiknya membawa cucu Anda ikut bersama saya.”
Lalu terdengar bentakan marah dari Guru Kant, “Aku akan ikut, lepaskan cucuku!”
Namun, orang bersuara serak itu tetap tenang. “Itu perintah atasan. Tugasku hanya melaksanakan. Jika Anda tidak mau membawa cucu Anda, saya sendiri yang akan menjemputnya.”
Baru selesai bicara, kilatan cahaya putih melesat. Mata Chen Feng pun silau. Ternyata, badan mobil teknologi itu robek oleh sebuah celah besar. Beberapa penumpang yang berada di dekat celah itu bahkan belum sempat menjerit, tubuh mereka telah terbelah menjadi potongan-potongan daging yang berceceran, genangan darah memuakkan.
Penumpang yang tersisa menjerit panik, berebut keluar lewat pintu maupun celah itu. Namun, pemilik suara serak itu jelas tak bermaksud membiarkan siapa pun hidup. Dari celah besar, ia terus melemparkan bilah-bilah tajam ke dalam mobil.