Masa Lalu Shangguan Qingxue
Waktu ujian selama dua hari berlalu dengan cepat. Untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, serta Ilmu Pengetahuan Sosial, Chen Feng pada dasarnya hanya menghabiskan sekitar satu jam saja sebelum menyerahkan lembar jawaban dan pergi lebih awal. Khusus untuk Matematika dan Bahasa Inggris, jika saja ia tidak khawatir akan dianggap terlalu luar biasa, ia bahkan ingin mengumpulkan jawaban hanya dalam setengah jam. Tentu saja ia juga sedikit mengendalikan nilainya, agar tidak sampai semua mata pelajaran memperoleh nilai sempurna.
Setelah ujian selesai, para guru punya satu hari untuk mengoreksi hasil ujian, jadi para siswa pun otomatis libur. Hari itu, Chen Feng memutar otak mencari cara untuk mendapatkan uang. Namun setelah dipikir-pikir, ia menyadari bahwa barang dan keahlian yang ia miliki sekarang belum cukup untuk membuatnya mendapat uang banyak dalam waktu singkat.
"Ah, zaman sekarang memang sulit cari uang!" Chen Feng mengeluh sambil memegangi kepalanya.
"Auu!" Xiaobai yang tengah berbaring di atas ranjang menanggapinya dengan suara lirih.
Melirik ke arah makhluk legendaris yang di masa depan bakal luar biasa ini, Chen Feng tersenyum dan berkata, "Kamu nggak ngerti." Kemudian ia mengambil sebuah kartu ATM dari cincin ruangannya; kartu itu adalah pemberian Shangguan Qingxue dulu, dan karena sebelumnya ia telah menghabiskan sekitar lima ribu untuk memesan tiga koin emas, kini saldo di dalamnya masih tersisa lebih dari lima ribu.
Mengelus kartu itu, ia bergumam, "Apa aku harus memakai uang di sini lagi?"
"Tidak, tidak boleh. Kemarin saja sudah pakai, kalau kali ini pakai lagi, maka omongan yang dulu itu sama saja kosong belaka!" Chen Feng menggelengkan kepala, lalu memejamkan mata dan berpikir.
Beberapa saat kemudian, Chen Feng tiba-tiba membuka mata. "Benar juga, hari ini tanggal berapa menurut kalender Imlek?"
Di bawah tatapan heran Xiaobai, Chen Feng buru-buru mencari kalender. "Hari ini tanggal enam belas bulan tiga Imlek, berarti hari ini ulang tahun Shangguan Qingxue. Apa aku harus memberinya hadiah ulang tahun? Walaupun keluarganya membuatku kesal, tapi dia sendiri berbeda. Apalagi dulu dia sengaja memberitahuku soal ulang tahunnya, pasti dia juga berharap aku mengucapkan selamat atau memberinya hadiah."
Chen Feng ragu beberapa saat, lalu bergumam, "Yah, aku siapkan saja hadiah untuknya. Bagaimanapun juga kami sudah saling mengenal. Tapi... sepertinya aku belum tahu nomor teleponnya. Tapi aku tahu rumahnya. Langsung ke rumahnya? Rasanya nggak ada alasan. Lagi pula, nanti pasti ketemu lagi dengan orang-orang sombong itu. Kalau aku sampai tak tahan dan melepaskan wabah kematian di rumahnya, bakal runyam. Ya sudahlah, lupakan saja!"
Malam harinya, Shangguan Qingxue seorang diri naik ke balkon lantai dua, sementara di bawah, di aula besar, sedang diadakan pesta ulang tahunnya. Namun, daripada dibilang pesta ulang tahun untuknya, lebih tepat disebut kesempatan berkumpul bagi para bangsawan dan anak-anak keluarga terpandang yang berkedok ulang tahunnya. Selain kemunculannya di awal untuk menerima ucapan selamat yang penuh basa-basi, setelah itu tak ada lagi urusannya dengan pesta. Orang-orang di sana pada dasarnya berkumpul dalam kelompok kecil untuk membicarakan bisnis, atau dalam pandangannya, merencanakan intrik dan tipu muslihat. Tentu saja, masih ada juga yang memperhatikan dirinya yang seharusnya jadi tokoh utama, namun mereka semua hanyalah anak muda sombong yang mengincar kecantikan dan latar belakang keluarganya. Terhadap mereka, ia sama sekali tidak menaruh hormat, sehingga ia mencari alasan untuk menyendiri di balkon.
Seperti kata pepatah, bulan purnama paling bulat pada tanggal enam belas. Malam ini adalah tanggal enam belas menurut kalender Imlek. Sebuah bulan purnama menggantung di langit malam yang gelap, menyebarkan sinarnya yang dingin.
Menatap bulan purnama, Shangguan Qingxue berbisik, "Delapan belas tahun lalu, di hari ini, aku lahir di bawah pengawasanmu. Sejak kecil, ayah dan ibu selalu bilang aku lahir di hari ini, aku adalah anak yang diberkahi Dewa Bulan, hidupku akan bahagia dan sempurna seperti bulan purnama. Tapi mengapa kini bahkan aku tak seberuntung bulan sabit sekalipun?" Setetes air mata bening berkilauan dingin di bawah cahaya bulan.
Shangguan Qingxue merapatkan kedua tangan dan mengatupkan jari-jarinya, berdoa, "Ayah, Ibu, apa kalian baik-baik saja di dunia sana? Wahai Dewa Bulan, jika Engkau benar-benar ada, bisakah Engkau menyampaikan pesanku pada Ayah dan Ibu? Katakan bahwa aku sangat merindukan mereka, aku sangat mencintai mereka!"
Ayah Shangguan Qingxue adalah putra kedua dari kepala keluarga Shangguan saat ini, Shangguan Junwei. Shangguan Junwei memiliki tiga putra dan dua putri: putra sulung Shangguan Ruiwu, putra kedua yaitu ayah Shangguan Qingxue, Shangguan Ruiqian, putra ketiga Shangguan Ruiwen, putri sulung Shangguan Shuyi, dan putri bungsu Shangguan Shuzhen. Dari ketiga putranya, yang paling cemerlang adalah ayah Shangguan Qingxue, Shangguan Ruiqian. Saat kakaknya, Shangguan Ruiwu, dan adiknya, Shangguan Ruiwen, masih sering membuat masalah bagi keluarga, ia sudah membantu Shangguan Junwei mengelola bisnis keluarga. Bahkan di usia yang masih muda, ia telah menjadi tokoh berpengaruh kedua setelah kepala keluarga. Seiring bertambahnya usia Shangguan Junwei, kekuasaan perlahan ia limpahkan pada Shangguan Ruiqian. Jika tidak terjadi apa-apa, setelah Shangguan Junwei wafat, kepala keluarga berikutnya pasti adalah Shangguan Ruiqian.
Namun, mungkin suratan takdir berkata lain. Di usia 33 tahun, Shangguan Ruiqian dan istrinya, Xu Xueyu, mengalami kecelakaan tragis dan meninggal dunia. Saat itu, Shangguan Qingxue baru berumur sembilan tahun. Ketika kabar duka itu sampai ke telinga keluarga, Shangguan Junwei seperti disambar petir, hatinya hancur tak terkira. Sedangkan Shangguan Qingxue yang masih kecil, walau belum sepenuhnya mengerti, tahu bahwa ia takkan pernah bisa bertemu ayah dan ibunya lagi. Ia pun sering menangis dan meronta, mencari orang tuanya.
Karena kematian mendadak Shangguan Ruiqian, Shangguan Junwei terpaksa kembali memimpin bisnis keluarga. Beberapa tahun kemudian, Shangguan Ruiwu dan Shangguan Ruiwen yang tadinya tidak menonjol, mulai menjadi tangan kanan Shangguan Junwei. Terutama Shangguan Ruiwu, meski tak secerdas Shangguan Ruiqian, tapi cukup bijak dalam mengurus urusan keluarga. Maka, lima tahun setelah kepergian Shangguan Ruiqian, perlahan-lahan kekuasaan yang sebelumnya dipegang oleh Shangguan Ruiqian beralih ke tangan Shangguan Ruiwu. Shangguan Junwei sendiri mulai mundur ke belakang layar, bahkan kini tinggal di luar negeri dan tidak lagi mengurus bisnis keluarga. Karena itulah, kini kepala keluarga Shangguan pada dasarnya adalah Shangguan Ruiwu.
Sejak Shangguan Junwei pindah ke luar negeri, Shangguan Qingxue yang dulunya paling dimanjakan dalam keluarga malah menjadi orang yang paling tidak dianggap. Kini, bahkan kebahagiaannya sendiri pun tidak bisa ia genggam.
Shangguan Qingxue pernah berpikir untuk mencari kakeknya yang sangat menyayanginya. Sayangnya, saat Shangguan Junwei pergi, ia tidak meninggalkan kontak apa pun. Kini, hanya Shangguan Ruiwu sebagai kepala keluarga yang memiliki kontak sang kakek; selain itu, tidak ada seorang pun yang tahu cara menghubunginya. Itulah sebabnya ia dulu sempat ingin mengakhiri hidupnya, namun secara tak sengaja justru diselamatkan oleh Chen Feng. Setelah nyawanya selamat, Shangguan Qingxue benar-benar sadar, atau mungkin lebih tepat, ia tak lagi ingin melawan nasib.
Setelah ulang tahun kali ini, ia akan benar-benar dewasa, dan tahun depan ia akan dinikahkan dengan pria yang bahkan belum pernah ia jumpai. Ironisnya, hingga kini ia pun tak tahu pria itu siapa, tinggi atau pendek, gemuk atau kurus.
"Hai! Cantik!" Sebuah suara tiba-tiba memecah lamunan Shangguan Qingxue.
Ia menoleh ke arah suara itu dan melihat, di bawah lampu jalan di balik pagar, seseorang sedang melambaikan tangan padanya. Orang itu tak lain adalah penyelamatnya waktu itu!