Jantung Besar Raksasa Hijau
SMA Nomor Satu Kabupaten Gushan, sebagai sekolah menengah atas terbaik di kabupaten itu dengan tingkat kelulusan mencapai sembilan puluh persen, adalah sekolah impian yang diidamkan semua siswa di kabupaten tersebut. Setiap musim penerimaan siswa baru, tak terhitung orang tua yang menggunakan segala cara demi memasukkan anaknya ke sekolah ini.
Meskipun Chen Feng tidak masuk lewat jalur belakang, nilainya saat ujian masuk dari SMP ke SMA pun hanya pas-pasan. Maka dari kelas satu sampai kelas tiga SMA, dia selalu menjadi tipe siswa yang seperti sekadar numpang lewat. Namun, meski prestasinya biasa-biasa saja, berkat wajah tampan dan kepribadian ceria yang dimilikinya, dia tetap menjadi sosok terkenal di sekolah.
Baru saja Chen Feng berjalan santai menyandang tas di pundak dan memasuki gerbang sekolah, seseorang memanggilnya dari belakang.
“Gila!”
Tanpa perlu menoleh, ia sudah tahu siapa yang datang. Satu-satunya yang memanggilnya dengan sebutan itu hanyalah Jin Chenyen, sahabatnya sejak SMP. Orang yang namanya mengandung empat unsur dari lima unsur alam: emas, kayu, air, api, dan tanah, hanya unsur kayu yang hilang. Konon, ayahnya menamai demikian berdasarkan ramalan bahwa nasibnya kekurangan unsur kayu, jadi diberilah nama yang begitu nyeleneh.
Menurut Chen Feng, bukan ramalannya yang bermasalah, melainkan ayahnya yang terlalu polos sehingga percaya hal seperti itu. Karena itu pula, Chen Feng memberinya julukan: Si Kurang Kayu.
Chen Feng berhenti dengan malas, dan setelah Jin Chenyen menyusul, dia berkata, “Kurang Kayu, hari ini datang pagi sekali. Apa kamu sudah berubah? Mau jadi siswa teladan sekarang?”
Jin Chenyen membalas dengan sinis, “Heh, kamu masih berani bilang begitu? Bukankah kamu juga selalu masuk kelas tepat saat bel berbunyi? Malah aku yang mau tanya, tumben kamu pagi-pagi sudah datang ke sekolah, mau jadi rajin nih?”
Perlu diketahui, Chen Feng dan Jin Chenyen berada di dua kelas yang bersebelahan. Keduanya adalah siswa yang paling membuat wali kelas pusing; tiap hari santai, sering terlambat, tapi nilai mereka tidak buruk juga tidak menonjol, bukan tipe yang ingin diusir, tapi juga bukan yang bisa membuat guru tenang. Berkali-kali wali kelas masing-masing menasihati, jika mereka mau serius belajar, masuk universitas top pasti mudah. Kalimat motivasi itu sebenarnya mengisyaratkan kalau mereka memang punya potensi.
Tanggapan mereka pun selalu sama: di depan guru bersumpah akan berubah, setelah itu tetap kembali ke kebiasaan lama. Tidak pernah benar-benar berubah.
Tentu saja Chen Feng tidak akan bilang bahwa ia datang pagi karena hari ini secara tak sengaja menemukan mesin slot ajaib. Meski percaya Jin Chenyen takkan membocorkan, semakin sedikit orang tahu, semakin baik. Kalau sampai bocor, mesin slot itu bukannya membawa keberuntungan, malah bisa mendatangkan bahaya. Uang memang harus disembunyikan.
Jadi ia hanya tertawa, “Kenapa? Cuma kamu yang boleh rajin, aku tidak boleh?”
Jin Chenyen tetap saja mencibir.
Keduanya bercanda sepanjang jalan hingga tiba di kelas masing-masing. Chen Feng berada di kelas IPS (1). Di kabupaten itu, jurusan sains sangat diutamakan, sehingga kelasnya didominasi siswa perempuan. Jumlah siswa laki-laki di kelasnya bahkan bisa dihitung dengan satu tangan, pas lima orang, yang dijuluki Lima Jenderal Macan Kelas IPS (1).
Sebagai Zhao Zilong paling tampan di antara Lima Jenderal Macan itu, begitu Chen Feng masuk kelas, sudah ada yang menyapanya.
“Wah, jangan-jangan hari ini matahari terbit dari barat, Jenderal Zilong kita datang sepagi ini.” Yang bicara adalah Wen Ya, ketua belajar kelas mereka. Parasnya lembut dan namanya pun anggun, namun itu semua hanyalah topeng. Di balik wajah manis itu, tersembunyi hati baja layaknya Hulk.
“Kamu tidak tahu ya, mulai hari ini aku sudah insaf, ingin jadi pemuda empat sehat: beridealisme, berbudaya, berdisiplin, dan bermoral,” ucap Chen Feng dengan gaya dramatis.
“Oh ya? Kenapa ucapanmu mengingatkanku pada satu kalimat?”
“Kalimat apa?” tanya Chen Feng penasaran.
“Meski kamu pakai parfum mewah, tetap saja aku mencium aroma brengsek dari tubuhmu. Meski kata-katamu terdengar penuh semangat, bagiku tetap saja kamu kelihatan seperti bajingan,” jawab Wen Ya dengan serius.
“Ehem... baiklah, aku ngaku kalah.” Chen Feng kembali keok. Kenapa lagi-lagi? Karena sejak masuk kelas IPS (1), ia tak pernah menang beradu mulut dengan Wen Ya; benar-benar sejarah penuh luka.
Alasan Wen Ya suka sekali mengusili Chen Feng juga ada sebabnya. Saat baru masuk kelas, Chen Feng terpesona dengan kecantikan dan kelembutan Wen Ya, merasa gadis itu cocok untuknya. Maka mulailah ia berusaha mendekati Wen Ya dengan segala cara. Namun, baru hari kedua, Wen Ya sudah menunjukkan bahwa di balik tampilan kelinci putih, tersembunyi hati Hulk.
Dia membual tentang prestasi masa lalunya, Wen Ya menjawab, “Sudah lama tidak melihat ada orang membual sekreatif ini.”
Dia mencoba bersikap cerdik, Wen Ya menanggapi, “Kecerdasan buatan saja kalah sama kebodohan alami.”
Dia menyatakan cinta dengan sungguh-sungguh, Wen Ya membalas, “Mendengar ucapanmu, aku rasanya ingin gantung diri di pohon dekat rumah.”
Dia memamerkan gaya rambut baru, Wen Ya menimpali, “Sudah saatnya potong rambut, hati-hati nanti lehermu keseleo gara-gara kebanyakan kibas poni.”
Dia bilang mimpi bertemu Wen Ya, Wen Ya menjawab, “Kenapa sih kamu mimpiin aku terus? Aku kan sibuk, kamu nggak tahu?”
Akhirnya, Chen Feng selalu kalah, sama seperti usahanya mendekati Wen Ya.
Meski kini Chen Feng sudah tidak mengejar Wen Ya lagi, Wen Ya tetap saja tak ingin melewatkan kesempatan untuk menggodanya. Katanya, melihat Chen Feng terlalu bahagia membuatnya gatal ingin mengusili.
Terhadap sikap Wen Ya yang seperti itu, Chen Feng tak berdaya, hanya bisa diam-diam menikmati.
Tapi di sisi lain, mungkin karena sudah sering berinteraksi, hubungan Chen Feng dan Wen Ya menjadi yang paling akrab di kelas, tentu saja tanpa unsur asmara, murni persahabatan.
Melihat Chen Feng yang tampak lesu, Wen Ya merasa puas, namun ia tak berniat melanjutkan godaannya. Dengan nada serius, ia berkata, “Minggu depan ada ujian simulasi, jadi akhir pekan ini kamu harus rajin belajar. Wali kelas sudah bilang, siapa yang nilainya turun dibanding ujian sebelumnya, orang tuanya bakal dihubungi.”
Dihubungi orang tua adalah jurus pamungkas para guru, dan jurus ini benar-benar ampuh untuk Chen Feng. Setiap kali wali kelas menelepon orang tuanya, awalnya Chen Feng dimarahi, tapi lama-lama orang tuanya menyerah dan mengganti strategi: mengurangi uang saku, sebuah jurus yang sama ampuhnya.
Maka setelah mendengar ancaman itu, Chen Feng langsung lunglai, apalagi uang sakunya yang jadi taruhannya.
Melihat Chen Feng yang tampak putus asa, Wen Ya tertawa kecil.
“Sudah, jangan cemberut begitu. Asal kamu rajin belajar, pasti bisa kok. Nih, ini kumpulan materi belajar yang sudah aku ringkas, kamu baca baik-baik ya,” kata Wen Ya sambil mengeluarkan setumpuk materi dari laci.
Melihat begitu banyak materi, wajah Chen Feng makin suram, “Serius nih, sebanyak ini? Sampai kapan aku baru bisa selesai?”
Wen Ya membelalakkan mata indahnya, “Mau atau nggak? Kalau nggak, aku ambil lagi.”
“Eh, jangan dong, Nona Besar. Aku kan cuma bercanda, mana mungkin aku nolak?” Chen Feng buru-buru menerima materi itu; mau tidak mau, harus diterima, kalau tidak, entah besok ia akan dipersulit Wen Ya.
“Nah, begitu dong. Ingat, harus dibaca, aku akan cek nanti.”
“Pasti, pasti, aku janji!” Chen Feng menepuk dadanya dengan yakin.
“Kalau begitu, balik ke tempat dudukmu. Sebentar lagi pelajaran mulai.”
“Siap, Laksanakan!” Dengan riang, Chen Feng pun berlari kecil kembali ke tempat duduknya.