15. Kemunculan Arwah
Malam itu, ketika bel berbunyi, pelajaran tambahan akhirnya usai. Chen Feng yang sudah seharian memikirkan mesin slot di rumah, kali ini bahkan malas membereskan barang-barangnya. Ia langsung meraih ransel dan hendak bergegas keluar kelas.
Entah langit memang sengaja menghalanginya, sebelum sempat keluar kelas, ia sudah dipanggil seseorang.
Terhadap orang yang memanggilnya itu, Chen Feng tidak bisa tidak berhenti, meski suasana hatinya sangat buruk, ia tetap harus memaksakan senyum, walau hasilnya tampak aneh.
Yang memanggilnya bukan orang lain, melainkan Huang Liangshu, wali kelas yang bertugas malam itu.
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Huang Liangshu saat Chen Feng menoleh, namun ekspresinya seperti sedang kejang.
Chen Feng sekali lagi memaksakan senyum yang lebih mirip tangisan. "Saya tidak apa-apa, Pak Guru, ada urusan apa memanggil saya?"
Meskipun ekspresi Chen Feng seperti orang sembelit, Huang Liangshu tidak menanyakan lebih lanjut. Ia berkata, "Dua hari lagi ujian simulasi. Saya tahu kau sempat cedera, tapi ujian kali ini sangat penting, ini simulasi terakhir sebelum ujian masuk perguruan tinggi. Walau tidak menentukan segalanya, hasilnya tetap bisa jadi tolok ukur. Jadi, dua hari ini kau harus belajar sungguh-sungguh, paham?"
Chen Feng yang sudah tidak sabar langsung menepuk dada dan bersumpah akan belajar sungguh-sungguh agar tak mengecewakan guru.
Melihat sikap Chen Feng yang tampak asal-asalan, Huang Liangshu hanya bisa menghela napas. Ia tahu, yang bisa ia lakukan hanya sekadar mengingatkan. Sisanya tergantung kesadaran Chen Feng sendiri.
“Aku harap kau serius menghadapi ujian ini. Kalau ada yang tidak kau pahami, tanyalah pada Wen Ya. Saya yakin dia pasti mau membantumu.”
Chen Feng mengangguk lalu bertanya, “Ada lagi, Pak?”
Huang Liangshu melambaikan tangan. “Sudah, kau boleh pulang.”
“Kalau begitu, sampai jumpa Pak Guru.” Mendapat izin, Chen Feng langsung berlari keluar kelas, tak kuasa menahan rasa tidak sabar.
Huang Liangshu menatap punggung Chen Feng dengan penuh kekhawatiran. Chen Feng adalah murid yang paling membuatnya pusing. Ia tahu, jika saja Chen Feng mau memusatkan perhatian seperti Wen Ya, nilainya tak akan stagnan seperti sekarang, bahkan kadang jatuh ke peringkat belakang.
Dari sekolah ke tempat indekos Chen Feng ada jalan pintas, tapi bahkan siang hari pun jarang ada yang lewat. Bukan karena apa-apa, melainkan jalan itu adalah gang gelap yang pernah terjadi beberapa kali pembunuhan. Konon, siapa pun yang melewati gang itu malam-malam, kadang mendengar suara tangisan samar. Meski hanya sebatas rumor dan sering dianggap bahan lelucon, tetap saja, kecuali yang benar-benar terpaksa, orang enggan melewatinya. Kalaupun ada, pasti hanya siang hari. Malam hari, walau ada urusan mendesak, tak ada yang mau lewat.
Keluar dari sekolah, Chen Feng teringat kalau lewat gang itu bisa menghemat separuh waktu perjalanan. Ia yang sudah sangat ingin segera sampai rumah demi mesin slot, akhirnya memutuskan menelusuri gang itu.
Rumor itu tentu pernah ia dengar, tapi ia tak pernah terlalu menggubrisnya. Ia pun langsung berbelok masuk ke gang. Ternyata gang itu memang semenggelapkannya desas-desus. Panjangnya hampir lima ratus meter, hanya ada satu lampu jalan tua yang sekarat, menyebarkan cahaya dan panas seadanya.
Melihat gang yang begitu sepi, Chen Feng sempat ragu. Cerita-cerita seram itu pun bermunculan di benaknya. Namun setelah meraba tiga koin emas di saku, membayangkan betapa serunya memutar mesin slot dan penasaran dengan hadiah yang akan didapat, ia jadi makin tak sabar ingin pulang.
“Tak perlu takut!” gumam Chen Feng, mencoba menguatkan diri, lalu melangkah cepat ke dalam gang.
Suasana sangat sunyi, hingga ia bisa mendengar langkah kakinya sendiri. Meski tak percaya hantu dan semacamnya, ia tetap merasa agak takut, sehingga langkahnya makin cepat. Untung gang itu, walau jarang dipakai orang, cukup rata dan tak berlubang. Walau penerangan minim, ia masih bisa berjalan stabil.
Tanpa terasa, setengah jarak sudah ia lalui, tepat di bawah satu-satunya lampu jalan. Di sini suasananya lebih terang, ketegangannya pun sedikit berkurang. Tinggal sebentar lagi keluar gang, Chen Feng pun bergumam, “Huh, namanya juga rumor, suara tangisan hantu katanya, alah.”
Tapi ketika ia mulai rileks dan hendak mempercepat langkah, tiba-tiba angin dingin berhembus, menusuk hingga ke tulang, padahal hampir musim panas dan suhu malam di selatan tak pernah serendah itu. Chen Feng merinding.
Baru saja ia hendak bereaksi, hembusan angin dingin itu datang lagi, kali ini samar bercampur suara tangisan.
Keringat dingin membasahi keningnya, punggungnya pun terasa dingin, bulu kuduknya berdiri.
"Jangan-jangan... beneran ada hantu?" suara Chen Feng bergetar.
Angin dingin itu datang berulang kali, dan suara tangisan samar semakin jelas. Chen Feng merasa seolah-olah melihat bayangan putih samar di depannya.
Ia tak sanggup lagi menenangkan diri, menggertakkan gigi, lalu berlari sekuat tenaga ke depan. Dalam hati ia berdoa semoga cepat melewati sisa gang dan keluar dari sana.
Namun baru berlari beberapa langkah, ia merasa kakinya seperti ditarik sesuatu, sekeras apapun ia mencoba, ia tak bisa bergerak.
Wajahnya berubah pucat, keringat deras mengucur, hatinya dipenuhi penyesalan.
Perlahan, ia merasa bahkan satu-satunya lampu jalan pun padam. Dunia di sekitarnya berubah gelap gulita, matanya tak bisa menangkap secercah cahaya.
Entah berapa lama, tiba-tiba secercah cahaya samar muncul di hadapannya—seberkas sinar putih yang melayang tipis, berpendar di udara.
Tak lama kemudian, cahaya itu perlahan membentuk sosok manusia. Wajahnya tak terlihat jelas, seolah tertutup kerudung tipis, samar tapi nyata, membuat siapa pun tak bisa melihat rautnya.
Tubuh Chen Feng bergetar hebat, ia mundur dengan panik, menjerit, “Hantu!” Saking takutnya, suaranya pun berubah.
Saat itu ia baru sadar, ternyata ia sudah bisa bergerak, tapi sayangnya kakinya lemas.
Sejak kecil ia tumbuh di bawah panji merah, teguh memegang paham ateis, tak pernah membayangkan suatu hari benar-benar akan bertemu hantu.
Sosok putih itu perlahan melayang mendekat, sangat perlahan.
Melihat makhluk itu makin dekat, Chen Feng mengerahkan segenap tenaga untuk mundur, matanya menatap ketakutan, bahkan hampir kehilangan akal sehat.
Akhirnya, kakinya yang lemas membuatnya tak bisa lari. Ia mendengar suara tawa dingin dari sosok putih itu, dan akhirnya makhluk itu mengangkat tangan yang sangat putih—putih yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, bahkan salju pun tak seputih itu.
Selesai sudah, aku benar-benar sial. Tiga kali kesempatan memutar mesin slot belum terpakai, masih banyak barang dan kemampuan hebat yang belum sempat kugunakan, masa depan gemilangku... aku tak rela! Chen Feng hanya bisa menatap putus asa pada kedua tangan putih pucat yang perlahan mendekatinya, menyadari tubuhnya kembali lumpuh.