Gulungan Pencuri Jiwa Meja
Keesokan harinya adalah akhir pekan. Biasanya, Chen Feng tak mungkin bangun sebelum matahari tinggi, tapi semalam ia terus memikirkan tiga keping perak itu. Meski baru bisa tidur larut malam, pagi harinya ia sudah terjaga sejak lewat pukul tujuh.
Toko emas baru buka pukul sembilan pagi. Walaupun hatinya sudah tak sabar, ia tak bisa berbuat apa-apa. Setelah sarapan, ia pun mengutak-atik mesin slot di kamar sewanya. Meski tahu hanya tiga undian pertama yang bisa menggunakan koin, tetap saja ia mencoba beberapa kali dengan koin seribu rupiah, mengharap keberuntungan, lalu menyerah.
Akhirnya, begitu jam menunjukkan pukul sembilan, Chen Feng bergegas menuju toko emas. Melihat Chen Feng sudah datang padahal toko baru saja buka, pemilik toko yang paruh baya itu terkejut namun tetap menyerahkan tiga keping perak yang telah dibungkus rapi dalam kotak indah.
Chen Feng menerimanya dengan penuh semangat, membayar, lalu langsung berlari meninggalkan toko emas. Melihat Chen Feng yang terburu-buru, sang pemilik toko hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Anak muda zaman sekarang, sungguh tak sabaran," gumamnya.
Sesampainya di kamar sewa, Chen Feng dengan hati-hati memasukkan keping perak ke dalam mesin slot. Kali ini, ia kembali mengesampingkan barang-barang teknologi. Ia perlahan menarik tuas ke atas lalu mulai berdoa, berharap kali ini mendapat "keterampilan hidup" yang benar-benar bermanfaat. Walau kemarin kemampuan memasaknya sudah membuatnya bersinar di rumah Wen Ya, ia tahu itu terlalu terbatas.
Ketika lampu indikator mesin slot mulai redup, Chen Feng menatap layar dengan saksama. Saat ia membaca tulisan di layar, hampir saja ia melompat kegirangan.
"Keterampilan hidup: Kemampuan Belajar (termasuk daya ingat dan pemahaman; dapat meningkatkan daya ingat dan pemahaman pemilik secara signifikan)."
"Haha, terima kasih Langit Tertinggi, terima kasih Buddha, terima kasih Kaisar Langit! Akhirnya dapat kemampuan yang benar-benar berguna!" Chen Feng begitu gembira hingga kata-katanya berantakan. Dan wajar saja—ia adalah siswa kelas tiga SMA yang sebentar lagi harus menghadapi ujian masuk universitas. Dengan nilai saat ini, ia memang masih bisa masuk universitas kelas tiga. Tapi siapa yang tidak ingin masuk perguruan tinggi ternama?
Bahkan jika bukan demi universitas ternama, kemampuan belajar seperti ini bisa membuatnya jadi ahli dalam satu atau bahkan banyak bidang.
Tanpa ragu, Chen Feng langsung menelan kapsul yang berisi kemampuan belajar itu. Setelah rasa sakit yang menusuk kembali dirasakan, ia merasa otaknya menjadi jauh lebih jernih dan lincah. Ia tak langsung melanjutkan undian berikutnya, melainkan mengambil sebuah buku sejarah di atas meja, membuka sembarang halaman, dan membaca sekilas. Lalu ia menutup mata, dan semua yang barusan dibaca terasa jelas terekam dalam pikirannya.
Kemudian ia mengambil sebuah soal ujian matematika. Soal yang dulu mustahil ia kerjakan, kini terasa mudah baginya. Saat itulah ia benar-benar sadar betapa dahsyatnya kemampuan belajar ini. Misalnya soal matematika yang sulit itu—sebelumnya ia tahu rumus-rumusnya, tapi tak mampu memahaminya dengan baik dan menghubungkan satu sama lain. Kini, semua pengetahuan yang ia pelajari seakan terjalin sempurna dalam pikirannya.
"Baru mulai saja sudah dapat skill sehebat ini. Berarti hari ini nasibku sedang bagus. Semoga keterampilan bertahan hidup berikutnya tidak mengecewakan," gumamnya sambil memasukkan keping perak berikutnya ke dalam mesin slot dan menatap layar yang berkelap-kelip.
Namun, ketika melihat tulisan yang muncul di layar, Chen Feng langsung kehilangan semangat untuk berkomentar.
"Keterampilan bertahan hidup: Si Kecoa Tak Terkalahkan (konon kemampuan para pejuang dari rasi Bintang Pegasus; pemiliknya dapat menahan serangan jauh di atas manusia biasa, selama tidak terkena luka mematikan, dapat pulih sendiri dalam 24 jam)."
"Astaga, serius? Ini juga disebut keterampilan bertahan hidup? Oke, aku akui namanya keren dan efeknya juga lumayan, tapi kalau cuma kuat menahan pukulan, rasanya kurang berguna. Lagi pula, apa itu luka mematikan?" pikir Chen Feng.
Seolah memahami pikirannya, layar mesin slot kembali menampilkan tulisan: Luka mematikan adalah luka yang menyebabkan kematian, seperti kepala ditembak, anggota tubuh terputus, atau cedera yang tak bisa diperbaiki.
Membaca keterangan itu, Chen Feng merasa kemampuan ini memang hebat, tapi tetap saja, akan lebih baik bila ia punya keahlian bela diri. Menyerang lebih baik daripada hanya bertahan. Bisa mengalahkan lawan dalam sekali gebrakan jelas lebih baik daripada hanya menjadi samsak yang tak bisa mati.
Masa depan nanti jika berkelahi, ia harus mengandalkan waktu untuk menguras lawan sampai kalah sendiri? Atau seperti Pegasus yang terus dipukul sampai babak belur, lalu bangkit sambil berteriak, "Kosmos kecilku, meledaklah!"
Membayangkan dirinya sendiri menjadi seperti Pegasus yang tak bisa mati, Chen Feng merinding sendiri. Namun semua sudah terjadi. Setidaknya punya kemampuan ini lebih baik daripada tidak punya apa-apa. Maka, ia pun menelan kapsul itu dengan pasrah.
Kemudian ia melanjutkan undian terakhir, kali ini untuk barang fantasi. Ia hanya berharap tidak mendapat barang menyebalkan seperti perangkap binatang kemarin.
"Barang Fantasi: Gulungan Pencuri Jiwa Mejai [dapat ditingkatkan] (asal dari Dunia Pertempuran; dapat menyatu dengan tubuh pemilik, dapat dipanggil keluar saat dibutuhkan; memiliki kemampuan dasar Menyedot Jiwa, yang dapat menyerap esensi jiwa untuk meningkatkan level; setiap kenaikan level akan mendapatkan satu kemampuan baru)."
Melihat buku kuno di tangannya, mulut Chen Feng sampai menganga lebar. "Astaga, ini lagi-lagi barang dari Dunia Pertempuran, tapi kali ini jauh lebih berguna daripada perangkap binatang kemarin. Tapi... apa sebenarnya kemampuan menyedot jiwa itu? Masa dunia ini benar-benar ada hantu?"
Sejak kecil Chen Feng dididik dengan paham ateis, tak pernah percaya akan adanya dewa atau hantu. Tapi kini, dengan Gulungan Pencuri Jiwa Mejai di tangan, dan juga mesin slot ajaib, untuk pertama kalinya ia mulai meragukan pandangan dunianya sendiri.
"Sudahlah, tak peduli ada atau tidaknya hantu, sekarang aku punya barang sehebat ini. Kalau benar ada hantu, aku tinggal sedot saja, beres semua masalah. Apalagi gulungan ini bisa ditingkatkan; siapa tahu nanti dapat kemampuan baru apalagi."
Dengan pikiran itu, tiba-tiba Chen Feng berharap bisa bertemu dengan makhluk gaib semacam hantu. Ia pun mulai memikirkan cara untuk menyatukan gulungan itu ke dalam tubuhnya, seperti yang tertulis di petunjuk.
Ia pun mencoba memusatkan pikiran dan membayangkan kata "menyatu". Benar saja, gulungan itu perlahan memudar di tangannya lalu lenyap. "Benar-benar bisa, lalu bagaimana cara mengeluarkannya lagi? Aku coba saja," gumam Chen Feng penasaran. Ia kembali membatin, "keluar", dan gulungan itu pun muncul lagi di tangannya.
Seperti anak kecil yang baru dapat mainan, Chen Feng berulang kali mencoba memasukkan dan mengeluarkan gulungan itu, sampai akhirnya ia puas dan membiarkan gulungan itu tetap menyatu dalam tubuhnya.
Tiga kesempatan undian sudah habis dan ia juga tak sanggup membeli keping emas lagi untuk saat ini, Chen Feng pun berhenti mengutak-atik mesin slot super itu.
Hari ini adalah akhir pekan. Biasanya di waktu seperti ini, ia pasti sudah nongkrong di warnet bersama Jin Chenyen. Namun sejak ada mesin slot super, ia jadi tak berminat. Kini, karena tak ada kesibukan lain, ia merasa bosan dan akhirnya memutuskan menelepon Jin Chenyen untuk mengajaknya ke warnet bersama.