Jangan Begitu, Penyewa Nomor 39
Kerutan muncul di antara alis Lu Zheng. “Kamu siapa lagi?”
“……”
“……”
“Aku ayah dari anak yang ada di dalam perutnya.”
Lu Zheng terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menyadari bahwa ia memang tidak salah dengar. Ia pun tertawa, bangkit dan berjalan mendekati kamar mandi, mengetuk pintu sambil menyampaikan lelucon, “Ayah dari anak yang ada di perutmu mencarimu.”
Suara air di dalam kamar mandi langsung berhenti. Tak sampai lima detik kemudian, pintu terbuka. Leng Jing dengan tenang merebut ponsel, memutuskan sambungan telepon, dan merasa itu belum cukup, ia langsung mematikan ponsel. “Cuma tukang telepon iseng, abaikan saja.”
Lu Zheng mendadak diam seribu bahasa. Leng Jing heran menatapnya, matanya menyapu ke arah telinganya yang memerah, lalu mengikuti arah pandang Lu Zheng ke tubuhnya sendiri.
Handuk mandi yang melilit tubuhnya tidak terlalu kencang, hampir saja terlepas. Wajah Leng Jing langsung pucat, ia buru-buru menarik handuknya dan kembali ke kamar mandi, membanting pintu dengan keras.
Baru saja telinganya yang memerah, kini malah ia yang berani menggodanya, “Waktu kecil kita sudah saling terbuka, apa yang perlu disembunyikan?”
“Aku sama sekali nggak ingat kapan kita pernah saling terbuka begitu. Yang aku ingat, waktu kecil aku hampir saja meledakkan ‘adik kecil’-mu.”
Lu Zheng jadi salah tingkah.
Insiden kecil itu segera terlupakan. Leng Jing menemaninya membeli pakaian, jelas terlihat pikirannya melayang entah ke mana, ia hanya memilihkan satu kaus dan satu celana jeans, ingin segera menyelesaikannya. Lu Zheng agak kecewa, “Bukankah kamu seorang desainer? Kok seleramu begini sekali?”
“Kamu laki-laki, kenapa harus dandan berlebihan? Kalau nggak suka pilihanku, ganti saja pakai pakaianmu sendiri di rumah.”
Lu Zheng tidak marah, malah masih sempat mengamati Leng Jing dengan santai, “Sudah bertahun-tahun tak bertemu, ternyata sifatmu makin keras saja. Atau kau sedang datang bulan, jadi gampang marah?”
Leng Jing sampai angkat tangan, “Kata-katamu itu sama sekali nggak seperti tentara. Cepat balik ke hotel, mandi dan ganti baju baru. Kalau terus pakai seragam tentara berkeliaran, citra pasukan bisa rusak!”
“Itu karena aku tiap hari cuma berhadapan dengan rudal dan peluncurnya, nggak ada teman bicara, jadi mendem sendiri. Kali ini ayah sengaja memintaku memberi kuliah, baru sadar kemampuan sosialku menurun sampai level TK.”
“Gitu amat,” sahut Leng Jing, kasihan juga melihatnya, akhirnya ia memaafkan kebawelannya. Untungnya, saat makan malam baru setengah jalan, Lu Zheng sudah ditelepon kembali ke markas. Leng Jing sendirian menghabiskan makanan, lalu menghabiskan waktu di kafe hotel, dan tidur lebih awal.
Keesokan paginya, ia terbangun karena suara gaduh. Dengan mata setengah tertutup, ia membuka pintu dan mendapati Lu Zheng berdiri di luar, penuh semangat. “Masih tidur jam segini?”
“Aduh, sekarang baru jam setengah delapan.”
“Setahuku, waktu SMP kamu tiap hari bangun jam enam buat hafalan bahasa Inggris.”
“Itu kan waktu SMP, sudah berapa tahun lalu? Sekarang aku sudah tua, suka tidur lama, nggak boleh?”
Sejak kecil mereka memang sering berdebat, Leng Jing sendiri tak tahu bagaimana Lu Zheng bisa jadi idola sekolah dengan julukan ‘pangeran es’.
Selesai sarapan, Leng Jing kembali ke kamar melanjutkan tidur. Lu Zheng duduk di luar menonton televisi tanpa suara. Leng Jing bangun saat sudah siang, lapar, ia turun mencari makanan.
Lu Zheng sedang menelepon, suaranya dingin, “Kalau kejadian serupa terulang, tanggung sendiri akibatnya…”
Mendengar langkah Leng Jing, Lu Zheng spontan menoleh, raut wajahnya masih dingin. Leng Jing sempat terdiam, baru sadar ketika ia menutup telepon dan wajahnya kembali bersahabat, lalu bertanya, “Sudah pesan makan siang?”
“Lapar? Aku telepon saja biar mereka antar ke sini.”
Entah kenapa, saat itu Lu Zheng mengingatkan Leng Jing pada seseorang—seseorang yang bersikap sok suci.
Tapi tak lama, Lu Zheng kembali jadi si bawel. Leng Jing sendiri merasa lebih nyaman dengan Lu Zheng yang cerewet dan polos, daripada yang dingin dan penuh jarak.
Namun, kadang-kadang membiarkan seseorang itu sama saja memberi celah untuk makin menjadi. Leng Jing bahkan lupa bagaimana Lu Zheng tiba-tiba membawa-bawa soal telepon kemarin, “Kamu yakin nggak perlu balik telepon orang itu? Aku rasa dia nyari kamu karena ada urusan penting.”
Mereka sedang melaju ke pemakaman. Matahari siang menyengat, Lu Zheng mengenakan kacamata hitam, Leng Jing memejamkan mata, ogah-ogahan menjawab, “Hebat juga kamu, baru ngobrol sebentar sudah tahu dia ada urusan penting?”
“Itu firasatku. Tapi kamu terus menghindar juga bukan solusi, kan?”
“Dari mana kamu tahu aku menghindar? Firasatmu lagi?” Leng Jing terpaksa membuka mata menatapnya.
Lu Zheng tidak menjawab. Meski berkacamata hitam, Leng Jing masih bisa merasakan tatapannya sesekali melirik ke arah perutnya. Ia spontan mengangkat buket aster kecil menutupi perutnya.
“Kamu nggak takut kalau dia bakal datang ke sini?”
Leng Jing tak membalas, dalam hati berpikir—mana mungkin?
Saat kembali dari pemakaman, matahari hampir terbenam. Suasana hati ikut suram. “Bertahun-tahun aku tak pulang, makam ibuku selalu dijaga oleh ayah, kan?”
“Walau hubungan ayah-anak sudah putus, bagaimanapun tetap tak bisa diingkari. Seberapa keras kepala pun, tetap saja ayah dan anak.”
Nafsu makan pun lenyap. Telepon dari Leng Rongtian semakin membuat mood memburuk, “Adikmu dan suaminya besok mau bulan madu. Malam ini makan malam di rumah.”
Ponsel Leng Jing masih mati, jadi Leng Rongtian menelepon ke nomor Lu Zheng. Leng Jing heran, “Dari mana dia tahu nomormu?”
“Beberapa waktu lalu dia ingin menjual aset yang atas nama ibumu. Aku sempat bantu urus beberapa hal, jadi dia simpan kartu namaku.”
“Itu semua jerih payah ibuku sendiri, kenapa dia semena-mena mau jual?” Leng Jing marah-marah mengambil ponsel. “Kamu nggak tahu malu, ya?” Setelah itu, ia langsung memutuskan telepon.
Masih belum puas, ia melempar ponselnya ke atas dashboard. Melihat ke cermin, ia menangkap tatapan serius Lu Zheng.
Leng Jing mengangkat bahu, “Tenang saja, aku nggak akan rusak ponselmu.”
“Aku nggak peduli soal itu.”
“Jangan-jangan kamu pikir aku keterlaluan?”
“Menurutku kamu sudah jauh berkembang, setidaknya nggak gampang nangis seperti dulu.”
Benarkah ia pernah menangis seperti anak kecil? Leng Jing sudah lupa, tapi Lu Zheng masih mengingatnya jelas, bahkan sempat mengulang ceritanya sambil menyetir. “Kurasa aku harus mengenalmu lagi dari awal.”
Lu Zheng menertawai, tapi tak lama kemudian, ia benar-benar tak bisa lagi tertawa.
Malam itu, tanpa makan malam, Leng Jing langsung pergi ke bar. Lu Zheng merasa ia benar-benar harus mengenal wanita ini dari awal. Leng Jing langsung memesan minuman keras, bom Jäger. Baru saja ia hendak menuang, Lu Zheng menahan gelasnya.
Tatapannya tak sengaja melirik ke perutnya. “Kamu yakin?”
“Serius deh, kamu ini cerewet banget, boleh nggak aku minum?”
“Ibu hamil nggak boleh minum alkohol.”
“Aku nggak hamil!”
Lu Zheng ragu, akhirnya melepaskan genggamannya. Sekejap saja, Leng Jing sudah menghabiskan minumannya, mengangkat botol kosong memberi isyarat ke bartender, “Tambah lagi…”
Lu Zheng langsung menariknya kembali. “Jangan yang keras, minum yang ringan saja.”
“Tenang, aku kuat minum.”
“Aku yang melatih kamu minum, aku tahu batasmu.”
Leng Jing sedikit kesal, “Kalau aku nggak mabuk, bisa-bisa aku benar-benar nekat bakar rumah Leng Rongtian.”
Lu Zheng mengelus kepalanya, tapi Leng Jing menepis tangannya. “Ada tiga hal yang paling kubenci—selingkuh, bohong, dan laki-laki pemalas. Sialnya, ayahku sendiri seperti itu.”
Bukan cuma ayahnya, bahkan orang yang ia sukai pun...
Leng Jing tersentak. Orang yang ia sukai? Ia menepuk pipinya, menyadari sudah agak mabuk. Tubuhnya lunglai, langsung menyandarkan kepala ke meja, tak berani berpikir lebih jauh.
Musik menggema memekakkan telinga, tapi hati dan pikirannya kosong. Lalu Lu Zheng mendorong segelas minuman keras ke hadapannya, “Sudahlah, minum saja, aku nggak larang. Kalau mabuk, aku yang angkat kamu pulang.”
Benar saja. Tengah malam, keluar dari bar, Lu Zheng benar-benar harus menggendongnya masuk ke mobil.
Begitu Leng Jing duduk di kursi penumpang, ia otomatis mencari posisi yang nyaman. Lu Zheng membantu memasangkan sabuk pengaman, lalu tanpa sadar menatap perutnya. Kali ini, tangannya pun refleks menyentuh perut itu. Ia meraba perlahan, lembut dan rata, tak ada yang aneh.
Jadi, telepon itu, benar-benar hanya dari “penguntit”? Lu Zheng entah kenapa merasa lega, lalu menjalankan mobil menuju hotel.
Jendela atap dan samping terbuka, tapi aroma alkohol masih tercium di dalam mobil. Leng Jing sendiri tenang, sepertinya sudah tertidur. Sampai di hotel, Lu Zheng membantunya masuk lift.
Mereka berjalan pelan menuju kamar suite. Tak disangka, di depan pintu suite ada seseorang berdiri.
Orang asing itu berdiri diam, menatapnya tajam. Tepatnya, menatap perempuan mabuk dalam pelukannya.
Lu Zheng meliriknya, lalu mengambil kartu kamar untuk membuka pintu.
Saat kartu dimasukkan dan terdengar bunyi “bip”, suara asing bergema di telinganya, “Lepaskan dia.”
Lu Zheng ragu menatap orang itu, “Kamu bicara padaku?”
Penulis ingin berkata: Aduh! Enaknya mereka bertengkar layaknya anak-anak, atau harus pakai cara lain yang lebih “jahat” untuk menghukum si “ibu anak” yang mabuk di pelukan pria lain?
Harapan hari ini: semoga tidak ada pembaca pelit, ayo berdoa.