Alam semesta memiliki energi spiritual, segala makhluk tumbuh dengan memakan energi spiritual tersebut. Seratus jenis makhluk dapat berubah menjadi siluman, memperpanjang umur, memperoleh kekuatan gaib, hanya manusia yang menjadi pengecualian. Tubuh manusia memiliki kekurangan, tidak mampu menampung energi spiritual, namun jiwa manusia begitu jernih dan dekat dengan jalan kebenaran. Maka, mereka yang memiliki kebijaksanaan besar menemukan jalan lain: meminjam kekuatan siluman untuk mencapai keabadian dan meraih buah kehidupan abadi.
Dunia Tai Xuan, Wilayah Selatan yang Liar.
Angin sepoi-sepoi berbisik, cahaya bulan menerangi gunung biru, membawa semburat merah darah yang samar, memancarkan firasat buruk. Gunung Asap Pinus, tubuh gunungnya tidak besar, berdiri di tepi Sungai Jatuh Naga, ditumbuhi pohon pinus di sekelilingnya, sepanjang tahun diselimuti kabut, dari kejauhan tampak seolah-olah asap mengepul ke angkasa, itulah asal-usul namanya.
Gunung ini tetap hijau pada musim gugur dan dingin, biasanya menjadi tempat yang baik untuk menikmati pemandangan dan angin, namun malam ini, di bawah langit malam yang kelam dan cahaya bulan merah darah, pepohonan pinus saling berjalin, tampak seperti makhluk-makhluk gaib yang mengerikan, menciptakan suasana yang ganjil.
Di lereng gunung, berdiri sebuah wihara kecil, bangunannya dari batu bata biru dan genting hijau, tersembunyi di tengah rimbunnya pepohonan. Namanya Wihara Kehijauan Abadi. Di depan gerbang wihara tumbuh dua pohon buah, keduanya pohon leci, masing-masing setinggi sepuluh meter, daunnya lebat membentang seperti payung kerajaan. Sayang, saat ini telah memasuki musim gugur, tak ada bunga maupun buah di rantingnya.
Di dalam wihara, sunyi tanpa suara, hanya beberapa lentera angin yang tergantung di sudut-sudut kadang menimbulkan suara api yang berdesir, seolah-olah hendak padam. Di sebuah kamar mungil dengan pintu tertutup rapat, hawa dingin yang menusuk tulang merambat, bahkan menimbulkan butiran embun beku di permukaan pintu, semakin menambah dingin malam yang ganjil itu.
Di dalam kamar, sebuah mutiara sebesar kepalan