Bab 6 Memanggil Dokter
Pada hari itu, suara derap kuda menggema di jalanan berbatu di Kabupaten Luming. Sebuah kereta kuda mewah berhenti tepat di depan kediaman keluarga Zhang.
Di dalam kereta, Tabib Senior Xue menyipitkan matanya. Ia menyapu pandangan dengan rasa jijik ke arah dekorasi kereta yang bertabur emas dan perak. Baginya, orang kaya baru di pedesaan ini sungguh kasar dan norak.
Tuan Zhang, yang memimpin rombongan pelayan, sudah lama menanti dengan penuh hormat di luar kereta.
Namun, suasana di dalam kereta tetap hening, membuat Tuan Zhang merasa cemas. Mungkinkah Tabib Senior Xue tidak puas dengan sambutannya?
Tabib Senior Xue adalah satu-satunya harapan agar Zhang Shou'an bisa terus hidup. Demi mendatangkan tabib ini, Tuan Zhang telah memeras keringat dan pikiran, mengandalkan berbagai koneksi, serta menjanjikan bayaran yang sangat besar.
Untuk memastikan kedatangan beliau, ia telah mengirim tim penjemput yang terdiri dari dua puluh orang lebih, dengan instruksi untuk singgah di penginapan terbaik dan menyantap hidangan termahal. Jika pada saat terakhir sang tabib berubah pikiran, nasib Shou'an akan berakhir. Tuan Zhang merasa hatinya mencelos.
Setelah menunggu sekitar setengah batang dupa, Tuan Zhang yang tidak sabar hendak melangkah maju untuk menyingkap tirai. Namun, pengawal Tabib Senior Xue segera menahannya dengan suara rendah, "Tabib sedang beristirahat, jangan diganggu."
Tuan Zhang merasa kesal, tetapi ia tidak berani membantah.
Sekitar satu batang dupa kemudian, terdengar pergerakan di dalam kereta. Pengawal itu segera maju, memerintahkan para pelayan untuk membuka tirai dan menurunkan pijakan kaki. Setelah serangkaian prosedur yang merepotkan, barulah mereka dengan hati-hati memapah Tabib Senior Xue turun. Tuan Zhang tertegun; ia tidak menyangka turun dari kereta saja bisa serumit itu.
Tabib Senior Xue bertubuh pendek, rambutnya memutih, dan wajahnya tampak kurus kering. Sepasang matanya yang sipit menyapu kerumunan dengan tajam. Sepertinya ia cukup puas dengan sambutan itu, sehingga ia mengangguk tipis kepada Tuan Zhang.
Tuan Zhang segera menyiapkan tandu untuk membawa sang tabib ke ruang tamu. Setelah prosesi membasuh tangan, menyuguhkan teh, dan basa-basi yang panjang, mereka akhirnya sampai pada inti permasalahan.
Tuan Zhang mengantar sang tabib ke kamar Zhang Shou'an. Setelah memeriksa denyut nadi, Tabib Senior Xue mengelus janggutnya dan berkata, "Nadi Tuan Muda Zhang lemah dan tidak beraturan, racun telah mengendap, energinya terus terkuras, disertai batuk sesak, mulut kering, sulit tidur, dan kehilangan nafsu makan. Ini adalah racun yang menyerang paru-paru dan lambung. Nyawanya sudah tidak tertolong, pengobatan apa pun tidak akan mempan."
Kata-kata Tabib Senior Xue tidak jauh berbeda dengan pernyataan tabib-tabib sebelumnya. Harapan terakhir Tuan Zhang hancur lebur, wajahnya pucat pasi. Meski begitu, ia tetap menahan kesedihan, membayar biaya pengobatan secara penuh, dan mengantar sang tabib keluar dengan hormat.
Kesedihan Tuan Zhang tidak dirasakan oleh sang tabib. Ia merasa sangat senang karena menerima bayaran besar. Ia pun berniat mengunjungi balai pengobatan Renji Tang di daerah itu, tempat yang selama ini ia abaikan karena dianggap terlalu terpencil.
Saat Tuan Zhang kembali setelah mengantar tamunya, ia mendapati istrinya sedang menangis tersedu-sedu di ruang tamu. Ia menekan rasa sakit di hatinya dan menghibur sang istri, "Jangan menangis. Langit tidak akan menutup jalan bagi kita. Aku akan mempertaruhkan separuh harta keluarga Zhang untuk mencari orang yang bisa menyelamatkan nyawa anak kita. Aku tidak percaya tidak ada orang hebat di luar sana."
Segera setelah itu, Tuan Zhang memerintahkan agar pengumuman sayembara ditulis dan ditempel di setiap sudut kabupaten.
Seorang pelayan tua di samping Nyonya Zhang, melihat kesedihan tuannya, dengan ragu-ragu berkata, "Tuan, Nyonya, hamba mendengar di Desa Lu'er ada seorang tabib hebat bernama Hu. Ia berhasil menyelamatkan nyawa seorang nenek yang sudah hampir mengembuskan napas terakhir."
Nyonya Zhang sangat gembira, "Kalau begitu, segera panggil dia!"
Pelayan itu ragu-ragu, "Namun, hamba juga mendengar bahwa kemarin istri Tabib Hu mengalami posisi janin yang sulit, dan ia tidak mampu berbuat apa-apa, membiarkan istri dan anaknya menunggu ajal. Untungnya, muncul seorang gadis kecil yang hebat di desa itu, yang berhasil menyelamatkan istri dan anak Tabib Hu."
Nyonya Zhang menegur dengan marah, "Kau ini bicara tidak teratur! Perasaanku naik turun seperti sedang disiksa. Tapi karena hari ini kau berjasa, pergilah ke bagian keuangan untuk mengambil hadiah." Ia kemudian mendesak Tuan Zhang, "Tuan, segera suruh orang untuk menjemput Tabib Hu dan tabib kecil itu sekaligus. Shou'an kita masih bisa diselamatkan."
Tuan Zhang sebenarnya sudah putus asa, namun ia tetap mengirim utusan ke Desa Lu'er.
...
Di sisi lain, di ruang VIP Renji Tang, Tabib Senior Xue sedang duduk dengan nyaman di kursi kayu sambil menikmati teh dan membaca buku catatan. Tiba-tiba, ia mendengar keramaian suara gong dan genderang.
Tak lama kemudian, seorang pelayan kecil datang melapor, "Tabib Senior, Tuan Zhang telah mengeluarkan pengumuman sayembara, menawarkan separuh harta keluarga untuk siapa saja yang bisa menyembuhkan Tuan Muda Zhang." Ia juga menceritakan bahwa Tuan Zhang telah mengirim orang ke Desa Lu'er.
Wajah Tabib Senior Xue memucat. Orang kaya baru itu benar-benar lancang! Baru saja memintanya, sekarang malah menawarkan separuh harta kepada orang lain. Meskipun bayaran yang diterimanya sudah besar, dibandingkan dengan separuh harta keluarga Zhang, itu hanyalah setetes air di samudra.
Sialan, ini benar-benar menginjak harga dirinya! Sejak pensiun, di Prefektur Jiazhou, bahkan gubernur pun menghormatinya. Ia tidak menyangka orang kaya baru di pelosok ini berani mempermalukannya. Terlebih lagi, di tempat terpencil seperti ini, bagaimana mungkin ada orang desa yang berani menyebut dirinya tabib hebat? Ia, Xue Henian, telah berpraktik selama puluhan tahun dan menjadi kepala tabib kekaisaran selama belasan tahun, namun belum pernah sekalipun berani menobatkan diri sebagai tabib hebat. Ini benar-benar tidak masuk akal!
Setelah mendengar cerita pelayan itu tentang "kehebatan" Hu, wajah Tabib Senior Xue sedikit mereda. Ternyata hanya seorang penipu yang haus akan ketenaran. Hmph, ia ingin melihat bagaimana keluarga Zhang akan ditipu habis-habisan.
Oleh karena itu, Tabib Senior Xue yang seharusnya kembali hari itu juga, memutuskan untuk menetap di Kabupaten Luming.
...
Di Desa Lu'er, beberapa pelayan keluarga Zhang yang mengendarai kereta mewah tiba di desa dan bertanya tentang kediaman Tabib Hu. Penduduk desa jarang melihat kereta semewah itu, sehingga mereka berbondong-bondong mengikutinya sampai ke rumah Hu Er.
Saat itu, Hu Er sedang sibuk di dapur dengan wajah kotor penuh jelaga, sedang merebus sup ikan karena Qing Li berpesan bahwa ia harus memberikan asupan bergizi agar ASI-nya lancar.
Pintu kayu tiba-tiba didorong terbuka. Beberapa pelayan berpakaian rapi bertanya dengan hormat apakah Tabib Hu ada di rumah. Hu Er terkejut dan segera menyambut, "Siapa kalian?"
Para pelayan menjawab sambil tersenyum, "Kami datang untuk menjemput Tabib Hu, mohon sampaikan kepada beliau."
Wajah Hu Er memerah karena malu, "Akulah orangnya."
Para pelayan memandang pemuda di depan mereka itu; rambutnya berantakan, wajahnya hitam putih terkena jelaga, dan pakaiannya dikenakan dengan sembarangan. Penampilannya sama sekali tidak mencerminkan gelar tabib hebat. Melihat tatapan curiga para pelayan, Hu Er sedikit tidak sabar, "Apa keperluan kalian mencariku?"
Para pelayan tersadar, menahan keraguan mereka, dan menjawab dengan hormat, "Kami adalah pelayan keluarga Zhang. Tuan Zhang ingin mengundang Tabib Hu dan Tabib Kecil Song untuk memeriksa kondisi Tuan Muda kami." Mereka sudah mendengar bahwa tabib kecil itu bermarga Song.
Hu Er mengerutkan kening. Putra tunggal keluarga Zhang sudah sakit selama belasan tahun, dan semua tabib ternama di sekitar sini sudah pernah memeriksanya, namun semuanya menyatakan tidak ada obatnya. Dengan kemampuan medisnya sendiri, ia tahu kedatangannya pun tidak akan berguna.
Para pelayan, yang pandai membaca situasi, melihat Hu Er tampak ragu, segera menambahkan, "Tuan kami sudah memasang pengumuman. Jika berhasil menyembuhkan Tuan Muda, keluarga Zhang bersedia memberikan separuh harta mereka."
Mata Hu Er terbelalak. Ini adalah kekayaan yang luar biasa! Ia sangat tertarik dan yakin Xie Qingli pasti punya cara. Ya, sejak kejadian persalinan itu, di mata Hu Er, Xie Qingli adalah sosok yang serba bisa. Namun, ia tidak berani memutuskan sendiri, jadi ia segera menyuruh anak-anak yang sedang menonton untuk memanggil Xie Qingli.
Tak lama kemudian, Xie Qingli berjalan dengan tenang. Para pelayan, meski sudah mendengar bahwa itu adalah seorang gadis kecil, tetap terkejut saat melihatnya. Kedua tabib, besar dan kecil, di depan mereka ini tampak tidak meyakinkan, membuat mereka berpikir sang tuan akan membuang waktu lagi.
Hu Er mengajak Xie Qingli masuk ke dalam dan menjelaskan inti permasalahannya. Saat mendengar tentang separuh harta keluarga Zhang, Xie Qingli pun merasa tertarik. Harta memang bisa menggerakkan hati. Jika suatu saat ia pergi ke Ibu Kota Shengjing untuk mencari ibunya, ia pasti membutuhkan biaya perjalanan yang besar.
Xie Qingli menanyakan detail penyakit tuan muda keluarga Zhang, dan Hu Er menceritakan semua yang ia ketahui. Setelah berpikir sejenak, Xie Qingli merasa cukup percaya diri.
Ia berkata dengan hati-hati, "Bisa dicoba, tetapi perlu persiapan. Hari sudah larut, kita akan pergi besok. Tolong, Kak Hu, mintalah para pelayan itu untuk pergi dulu."
Hu Er sangat gembira, wajahnya memerah karena semangat. Adik Qingli memang benar-benar serba bisa. Sementara itu, para pelayan keluarga Zhang terpaksa kembali dengan kereta kosong untuk melaporkan hasilnya.