Prolog: Tempat Peristirahatan Abadi

Murni Matahari Jing Keshou 1928kata 2026-02-07 18:28:54

Seluruh langit tampak kelabu, diselimuti lapisan kabut tipis, memperlihatkan warna merah tua yang aneh. Tanah di bawahnya berlubang-lubang, di beberapa tempat tampak kawah raksasa dan tercium hawa kematian yang sukar dilukiskan, sesekali tulang belulang putih tersembul samar di permukaan.

Di bawah tebing gunung yang setengah runtuh, seorang petapa duduk bersila dengan tenang. Di atas kepalanya, segumpal cahaya murni melonjak, membentuk teratai biru yang perlahan berputar, mengalir tanpa henti, perlahan menyerap dan menetralkan hawa hitam kelabu di sekitarnya. Hawa suci itu terserap ke dalam tubuh.

Di tengah kekacauan langit dan bumi, yin dan yang terus berubah, hawa kelabu ini merupakan kekuatan kematian yang menyesakkan, menyelimuti tanah ini. Namun, bagi sang petapa, kekuatan itu bukanlah sesuatu yang tak bisa diatasi.

Di hadapannya, sebuah botol kecil memancarkan dua warna hitam dan putih yang berputar. Air di dalamnya yang semula keruh, perlahan menjadi jernih.

Beberapa saat kemudian, teratai biru itu kembali ke dalam tubuh. Sang petapa membuka mata, menatap botol di depannya dengan senyum puas.

Di masa lalu, ia telah mencapai tingkatan tak lagi butuh makan. Namun, di tengah perang yang sengit dan seolah tiada akhir, mengandalkan kekuatan semata akan sama saja dengan bunuh diri. Hanya sari air sakti yang mengandung air dan nutrisi tersembunyi dapat membuat kekuatannya bertahan di puncak.

Namun, dunia ini telah teracuni oleh kekuatan kematian, sehingga segala sesuatu harus dimurnikan sebelum dapat dikonsumsi.

Setelah meneguk air jernih itu, ia menyerapnya ke dalam tubuh. Dalam hitungan napas, kekuatan sang petapa kembali mencapai puncaknya.

Dari kejauhan, dari kedalaman tanah, samar-samar terdengar suara arus deras—itulah kekuatan kematian yang berkumpul di bawah. Di tanah ini, kematian telah tercemar, dan alam baka telah dihancurkan.

"Datanglah, kami para penempuh jalan suci tidak akan kalah. Di belakang kami masih ada dunia kami sendiri!" Setelah meneguk sari air sakti, sang petapa kembali bermeditasi, napasnya tersembunyi, detak jantung pun perlahan terhenti. Hanya teratai biru samar yang kembali tampak, terus-menerus menyaring kekuatan kematian dan kejahatan menjadi energi suci, menyehatkan tubuh dan jiwanya.

Entah telah berapa lama berlalu, suara derap kaki kuda berat menggema—pasukan ksatria berkabut kelabu hitam datang dari kejauhan, bergerak tak tergesa namun pasti, meneliti sekeliling.

Jika diperhatikan, para ksatria itu, meski mengenakan zirah dan memegang tombak, sudah bukan lagi makhluk hidup. Baik para ksatria maupun kuda mereka, matanya merah menyala, daging mengering.

Mereka adalah para Ksatria Kematian.

Di barisan depan, seorang ksatria dengan zirah berat menunggangi kuda mimpi buruk. Ia berhenti, lalu berkata, "Tuan Lukas gugur di sini, jiwanya tidak kembali ke ranah dewa kita!"

Suara Ksatria Kematian itu dalam dan berwibawa, matanya menyala, menatap sekeliling, lalu perlahan berkata, "Tugas kita adalah membersihkan wilayah ini, sekalipun harus gugur di medan perang!"

"Selama kita kembali gugur, dapat dipastikan di sini terdapat kekuatan sesat yang kuat. Ranah para dewa akan mengirim utusan untuk menghapus tuntas kaum sesat dari tanah pekuburan ini."

"Siap!" Para Ksatria Kematian yang semula diam, matanya merah menyala satu per satu, kedua tangan menggenggam tombak erat-erat, aura membunuh membubung tinggi.

Di saat itu juga, di mulut gua tebing, sebuah jimat giok meledak tiba-tiba, mengguncang seluruh tempat persembunyian. Sang petapa terbangun dari meditasinya.

Hawa kematian mengalir deras.

Seketika, kesadaran petapa menyapu sekeliling, "melihat" para Ksatria Kematian berlari dari sepuluh li jauhnya.

Ia langsung teringat para saudara seperguruan dan para sesepuh yang gugur di tangan para iblis ini, namun kesedihan itu hanya sekejap. Di negeri asing yang telah dikuasai iblis, tak ada lagi ruang untuk berlarut dalam duka.

Jiwanya mengkristal, energi suci menyebar, kesedihan lenyap dari mata emasnya, berganti ketegasan. Dalam sekejap, cahaya terang meletup, ribuan mantra emas muncul di telapak tangannya, berubah menjadi cahaya petir, lalu membentak, "Iblis, terimalah kematianmu!"

Cahaya petir melesat menembus langit, turun dalam sekejap.

"Tuan kami adalah akhir segala sesuatu!" Para Ksatria Kematian tampaknya sudah terbiasa menghadapi serangan demikian, tak sempat menghindar, hanya mampu meraung marah. Sebuah perisai kelabu hitam segera muncul.

Dentuman keras menggelegar, petir emas menghantam perisai kelabu hitam. Perisai itu sempat tertahan, namun segera muncul ribuan simbol kelabu kecil, keduanya saling bertabrakan, hancur dan melepaskan energi ke segala arah.

Sang petapa tak berkata panjang, jari-jarinya memancarkan cahaya emas. Sebelum kilatan petir lenyap, cahaya pedang menembus, menghancurkan Ksatria Kematian hingga hancur lebur, jiwanya pun musnah.

Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara dengusan dingin. Meski terdengar kecil, namun membuat awan dan kabut bergulung di langit, matahari dan bintang pun meredup.

Sang petapa mendongak dan melihat awan hitam pekat bergulung, hawa kematian memenuhi langit dan bumi, membawa sunyi yang menakutkan. Ia terkejut, diam-diam menghela napas.

"Tempat ini sudah tak bisa lama-lama didiami, harus segera pergi. Namun, iblis dewa ini adalah bencana besar dunia, menguasai hukum, mampu mengendalikan energi kematian dan menyelimuti dunia, menjadikan negeri ini tanah kuburan. Hanya dengan membunuh dewa ini, dunia lama bisa kembali. Tapi para murid jalan suci dan para dewa surga yang sebelumnya datang ke sini, semuanya sudah binasa. Entah kapan rombongan berikutnya datang?"

Ia menatap jauh ke ujung cakrawala. Samar-samar terlihat sebuah kubah raksasa melingkupi satu wilayah, membuatnya sekali lagi menghela napas. Cahaya biru berkilat, tubuhnya berubah jadi angin dan pergi jauh.

Beberapa saat kemudian, di langit muncul tengkorak raksasa, menutupi cakrawala, dengan dua titik cahaya emas di matanya. Aura yang sukar dilukiskan menyelimuti seluruh wilayah, dingin membunuh, jahat namun agung, memandang dunia dari atas, menyapu perlahan seluruh penjuru.

Segala sesuatu terekam dalam sorot matanya. Di tempat hancurnya Ksatria Kematian, ia sempat berhenti, dua cahaya emas di matanya tampak ragu, namun tetap meneliti ke segala arah.

Namun masih tak ditemukan jejak, tengkorak itu pun kembali mendengus dingin.

Tiba-tiba, api kelabu hitam turun dari langit, mengubah tempat itu menjadi lautan api.