Dewa Kematian menginvasi dunia agung para dewa abadi, menguasai hukum kematian dan menciptakan tanah pemakaman yang suram, menekan dari setiap langkah; ribuan ahli ilmu spiritual berbondong-bondong menuju wilayah luar untuk bertarung melawan sang dewa; di tanah yang luas dan kelam, siapa yang benar-benar menjadi pewaris sejati, siapa yang mampu menguasai murni cahaya matahari?
Seluruh langit tampak kelabu, diselimuti lapisan kabut tipis, memperlihatkan warna merah tua yang aneh. Tanah di bawahnya berlubang-lubang, di beberapa tempat tampak kawah raksasa dan tercium hawa kematian yang sukar dilukiskan, sesekali tulang belulang putih tersembul samar di permukaan.
Di bawah tebing gunung yang setengah runtuh, seorang petapa duduk bersila dengan tenang. Di atas kepalanya, segumpal cahaya murni melonjak, membentuk teratai biru yang perlahan berputar, mengalir tanpa henti, perlahan menyerap dan menetralkan hawa hitam kelabu di sekitarnya. Hawa suci itu terserap ke dalam tubuh.
Di tengah kekacauan langit dan bumi, yin dan yang terus berubah, hawa kelabu ini merupakan kekuatan kematian yang menyesakkan, menyelimuti tanah ini. Namun, bagi sang petapa, kekuatan itu bukanlah sesuatu yang tak bisa diatasi.
Di hadapannya, sebuah botol kecil memancarkan dua warna hitam dan putih yang berputar. Air di dalamnya yang semula keruh, perlahan menjadi jernih.
Beberapa saat kemudian, teratai biru itu kembali ke dalam tubuh. Sang petapa membuka mata, menatap botol di depannya dengan senyum puas.
Di masa lalu, ia telah mencapai tingkatan tak lagi butuh makan. Namun, di tengah perang yang sengit dan seolah tiada akhir, mengandalkan kekuatan semata akan sama saja dengan bunuh diri. Hanya sari air sakti yang mengandung air dan nutrisi tersembunyi dapat membuat kekuatannya bertahan di puncak.
Namun, dunia ini telah teracuni oleh kekuatan kematian, sehingga segala sesuatu harus dimurnikan sebelum dapat dikonsumsi.
Setelah meneguk a