"Jelek Namun Seperti Krisan" karya Alam Pedesaan, mengisahkan tentang seseorang yang terlahir kembali dalam tubuh seorang gadis desa yang dianggap buruk rupa bernama Krisan. Ia tak menghiraukan pandangan merendahkan maupun rasa iba dari orang-orang, layaknya bunga krisan liar yang mekar dengan bebas. Diam-diam ia tumbuh di ladang, menantang angin musim gugur yang suram, memperlihatkan semangat hidup yang luar biasa!
Setelah mengisi penuh keranjang dengan rumput babi, Krisan duduk di tepi Danau Cermin tanpa memedulikan embun, menatap permukaan air yang berkilauan dan melamun. Matahari telah terbit, memancarkan cahaya keemasan yang memantul di permukaan danau, menciptakan semburat warna yang indah.
Di sebelah timur, seluruh Desa Selatan Jernih diselimuti cahaya ini, pucuk-pucuk pohon dan atap rumah berbalut warna yang mempesona. Sebuah jalan kecil berawal dari kaki Bukit Hijau di barat, melewati rumah Krisan, berkelok-kelok hingga masuk ke dalam desa. Pohon-pohon tumbuh tersebar di sepanjang jalan, dan di ujungnya, rumah-rumah di Desa Selatan Jernih berdiri dengan berbagai ukuran dan usia, di antara beberapa pohon besar yang menjulang dan memandang ke seluruh desa.
Bagian utara desa dipenuhi hamparan sawah yang membentang sampai ke tepi Sungai Kecil Jernih. Padi di sawah sudah dipanen, hanya tersisa barisan tunggul-tunggul yang rapi. Di ladang, di tepi sungai, dan di padang rumput, bunga liar kuning mekar di mana-mana, bersanding dengan para petani yang bekerja sejak pagi dan anak-anak penggembala di tepi sungai, melukiskan pemandangan desa yang menyejukkan.
Melihat pemandangan desa yang seperti lukisan itu, lalu menatap wajahnya yang terpantul di Danau Cermin, Krisan tidak dapat menahan rasa perih di hatinya—benjolan daging seperti kulit kodok yang menutupi kedua pipinya telah mengubah gadis belia dua belas tahun yang seharusnya cantik menjadi sosok menakutkan.
Sebenarnya, Krisan yang sekarang bukanlah Krisan yang dulu. Di tubuhnya kini bersemayam jiwa Linji,