Terlahir kembali di Dinasti Ming, aku menjadi Zhu Yunwen, yang baru saja mewarisi takhta sebagai Kaisar Jianwen. Mulai membenahi pemerintahan, aku melaksanakan reformasi militer yang baru. Dengan keberanian luar biasa, aku memangkas sepuluh ribu tentara, merencanakan tindakan terhadap para pangeran daerah, membersihkan negeri, dan membuka jalan bagi kedamaian abadi sepanjang masa. Aku membentuk kabinet pemerintahan, mendirikan tiga pasukan utama, menaklukkan para pangeran daerah, memindahkan ibu kota ke Beijing, serta menyusun "Kompilasi Besar Jianwen". Aku memimpin ekspedisi ke utara melawan Mongolia, merebut kembali Annam, dan merancang inisiatif "Jalur Sutra Baru", membuka jalan menuju wilayah barat dan laut menuju Nusantara. Aku memperkuat pertanian dan peternakan, mengangkat status para pedagang, menumbuhkan benih kapitalisme, dan menjadikan "pertanian tanpa pajak" sebagai tujuan utama. Aku membangun karya abadi dan membuka jalan bagi kedamaian sepanjang masa. Akulah Zhu Yunwen, Kaisar Jianwen, kaisar agung sepanjang sejarah. -- Dinasti Ming: Aku terlahir kembali sebagai Zhu Yunwen.
Angin berhembus kencang, hujan turun deras, malam tampak suram dan kelam. Sebuah kilat menyambar, menyerupai naga purba yang mengamuk, menembus langit dan turun ke bumi, menghadirkan kekuatan langit yang menggetarkan, membuat segala sesuatu di bawahnya gentar ketakutan.
Su Changhe merasa dirinya tengah jatuh, tiba-tiba terbangun dari mimpi. Ia baru saja hendak bangkit, menepuk-nepuk sisa hujan di tubuhnya untuk melanjutkan kunjungannya ke Makam Ming Xiaoling, namun ia menyadari bahwa tempat ini rupanya bukanlah tangga Makam Xiaoling.
“Sudah sadar, sudah sadar. Paduka Kaisar, sudah sadar! Cepat panggil tabib istana, semoga Tian tetap melindungi...”
Seorang kasim dengan topi bersusun tiga, mengenakan kain putih di kepalanya, berpakaian jubah biru keabu-abuan, berseru dengan suara melengking yang sulit dibedakan lelaki atau perempuan.
Su Changhe tertegun seketika.
Paduka Kaisar?
Jangan-jangan dia telah berpindah dari Nanjing ke Hengdian? Ini kelompok sandiwara mana pula?
Ia menoleh, memandang ke dalam aula besar yang terang benderang. Di langit-langitnya terukir relief naga yang sangat nyata. Di pintu gerbang emas, tampak hiasan dua naga mengejar mutiara.
Di tengah ruangan, ada sebuah panggung berbentuk persegi, di atasnya terletak singgasana berukir naga berlapis emas dan penyekat berukir naga. Di depan singgasana, ada patung hewan mitos, bangau langit, dan tabung dupa.
Di depan panggung, terdapat empat pedupaan kuningan berlapis enamel, kini tengah membakar kayu cendana, asapnya membubung tipis. Di kejauhan, ada pula l