Setelah ingatannya kembali, Ash menemukan dirinya bereinkarnasi ke dalam sebuah seri novel visual dewasa dari Negeri Sakura yang berbagi semesta yang sama. Awalnya ia mengira hidup barunya akan penuh dengan petualangan menggoda, namun setelah mengingat dengan saksama, Ash sadar semua itu hanyalah jebakan belaka—para tokoh utama ternyata hanyalah boneka dari para dewa jahat! Istana Kehamilan Iblis, Ritual Kegelapan Tersembunyi, Negeri Kebodohan Tak Berdosa... Jika ia benar-benar terlibat dalam alur cerita, kematian bisa menjemputnya tanpa ia sadari. Namun, ketika ia menoleh ke belakang, Ash mendapati dirinya sudah terjerat dalam permainan ini. Untunglah ia memiliki kemampuan unik, yaitu Prestasi Agung—dengan menyelesaikan berbagai pencapaian, ia bisa memperoleh beragam hadiah: Darah Pertama menghadiahinya Haus Darah, Lima Pembunuhan Beruntun memberinya Lima Kali Kebengisan, Hati dan Pedang menyatu menjadi Jiwa Pedang... Demi bisa bertahan hidup—dan, ah, sedikit bersenang-senang—Ash mati-matian mengejar setiap prestasi. Suatu hari, Ash menginjak patung dewa sambil menatap langit: "Apa hadiah yang akan kuterima jika membunuh dewa? Sungguh, aku tak sabar menantikannya!"
Di sudut tenggara Benua Anugerah, di Panti Asuhan Gereja Malam Hitam
Seorang anak laki-laki berambut hitam dan bermata cokelat perlahan duduk. Matanya kosong, tak bernyawa, mirip seperti mata ikan mati. Butuh waktu cukup lama sebelum kedua bola matanya yang jernih laksana ambar itu kembali bersinar dengan kehidupan.
Menatap tangan kecilnya yang terlihat lebih muda dan polos daripada sebelumnya, anak itu menghela napas panjang. “Sialan, benar-benar bereinkarnasi ke dunia lain setelah mati ditabrak truk beton!”
Kehidupan kali ini, namanya adalah Ashu. Di kehidupan sebelumnya, ia baru saja lulus dari universitas di Bintang Biru dan tengah beralih menjadi pekerja kantoran. Pengalaman sebelum reinkarnasi bisa dibilang sangat klasik: tewas tragis di jalan pulang usai lembur, ditabrak truk beton.
Setelah reinkarnasi, ingatannya tersegel dan baru kembali setelah menjalani upacara kedewasaan. Upacara tersebut merupakan anugerah para dewa kepada bangsa makhluk cerdas, dan biasanya dilakukan oleh manusia pada usia enam belas tahun.
Setelah upacara, seseorang akan bisa mengakses panel dan resmi menapaki jalan menuju kekuatan luar biasa. Namun, setelah Ashu mengingat kembali, ia sadar semua itu omong kosong. Panel itu bisa dibuka siapa saja.
Dinamakan sebagai anugerah hanya agar gereja terlihat mulia, dan masyarakat biasa pun mencari pertanda baik untuk diri mereka sendiri.
‘Tapi kalau semua orang punya panel, sepertinya aku bereinkarnasi ke dunia yang setengah seperti gim,’ pikir Ashu.
Ia membisikkan kata “panel” dalam hati, lalu sebua