【Era fictícia + Transmigração para livro + Bebê fofo + Romance cotidiano aconchegante】 A Su Taotao que transmigrou para os anos setenta enfrenta duas escolhas: 1. Seguir o enredo original, abandonar marido e filho, voltar à cidade para reencontrar o amigo de infância e retomar o romance; 2. Não fazer nada, esperar que o marido de ocasião apareça em meio ano e a leve de volta à base para comer e beber bem. Su Taotao escolhe aquele filhote humano super fofo! O bebê é tão adorável, ser mãe sem sofrimento, o marido ainda nem está em casa, existe vida mais feliz que essa? Mais tarde, a Su Taotao de pele clara, bela e pernas longas aparece no pátio das famílias da base carregando o filhotinho delicado e bonito. Alucinação, com certeza é alucinação! Como o Fu Gong frio e feroz poderia ter uma família tão frágil e bonita? Esperem só, em poucos dias a família dele certamente fugirá com o filhotinho choramingando. Mas esperaram e esperaram, até que viram o Fu Gong segurando o filhotinho com uma mão e a esposa com a outra, indo ao armazém de suprimentos comprar comida ou lavando lençóis em casa… Alucinação, com certeza é alucinação!
“Awalnya, Su Taotao sendiri yang ngotot ingin menikah dengan Zheng Tu. Selama tiga tahun pernikahan ini, kalian sudah memberinya makan enak dan tempat tinggal yang layak, memperlakukannya seperti ratu. Sekarang anaknya hampir dua tahun, baru bilang sudah tak tahan dan ingin cerai lalu kembali ke kota. Apa-apaan ini? Meninggalkan suami dan anak? Kalau dia pergi begitu saja, bagaimana nasib anak dan Zheng Tu?”
“Benar, Bibi Kedua, kalian sekeluarga terlalu memanjakannya, makanya dia tumbuh jadi perempuan tak tahu aturan begini. Menurutku, kalau dihajar sekali pasti dia langsung patuh, bahkan kalau sampai kakinya patah pun jangan biarkan dia kembali ke kota.”
“Iya, sekalipun memang harus mengizinkannya pulang ke kota, tunggu sampai Zheng Tu pulang dan biar dia yang putuskan, tak boleh biarkan dia pergi begitu saja.”
Dari pojok, terdengar suara lirih, “Kalau Zheng Tu tak bisa pulang?”
Semua orang menoleh dan meludah ke arah pojok, “Cih! Jangan bicara sembarangan, itu kamu yang nggak bakal pulang!”
Orang-orang saling bersahutan, membicarakan dengan nada emosi. Sementara itu, ibu Zheng Tu, Zhou Linglan, memeluk cucunya yang tampak menyedihkan di satu tangan, dan mengusap air mata dengan tangan satunya, terisak, “Kalau dia nekat mau lompat sungai lagi, bagaimana? Tak ada yang lebih penting dari nyawa. Desa kecil kita ini tak mampu menahan burung phoenix emas. Kalau dia mau pergi, biarkan saja.”
Kakak ipar yang selalu memandang rendah Zhou Linglan menimpali, “Istri adik, kau terlalu lembek sehingga dia bisa semena-mena. Tidakkah kau takut Zheng