Bagian Tambahan 1
Han Qianqian benar-benar merasakan dengan jelas bahwa Han Xu sedang menghindarinya.
Hal ini membuatnya sangat kecewa.
Dulu, kakaknya itu setidaknya akan pulang ke rumah setiap dua minggu sekali, tapi sekarang bak naga yang hanya menampakkan kepala, tapi tak pernah terlihat ekornya. Setelah bertanya ke sana-sini, barulah ia tahu bahwa Han Xu sebulan penuh ini tidur di apartemen dekat kantor. Han Qianqian kehilangan satu-satunya sasaran untuk diganggu, membuatnya suntuk berhari-hari.
“Ma, Han Xu itu sudah punya wanita sampai lupa sama ibunya sendiri. Mau nggak aku bantu seret dia pulang biar Mama bisa nasihatin dia?”
Han Qianqian pun memainkan keahliannya dalam menghasut, sayangnya Ny. Han tidak makan omongan seperti itu, hanya menjawab, “Dia lagi sibuk kerja, jangan ganggu dia,” lalu mengusir Han Qianqian.
Sibuk? Sibuk berduaan sama Leng Jing, pasti! Han Qianqian mendengus dalam hati, dan cara terbaik melampiaskan kekesalan tentu saja dengan menghabiskan limit kartu tambahan Han Xu. Merasa tenaganya sendiri terlalu kecil, ia pun mengajak beberapa teman berbelanja bersama, makan-makan di restoran lantai atas, bersenang-senang sampai puas. Han Qianqian menunggu dessert sambil menanti pelayan menggesek kartu dan mengembalikannya.
“Nona, kartu kredit Anda sudah melewati batas, bisa tukar kartu lain?”
Begitu mendengar itu, Han Qianqian langsung berseri-seri, dengan riang pergi ke kasir untuk menukar kartu. Kebetulan, saat itu sepasang pria dan wanita melewati sampingnya. Han Qianqian merasa kedua orang itu tampak familiar, lalu menoleh dan melihat mereka berjalan sambil saling tersenyum.
Han Qianqian mendadak terpaku di tempat.
Masalahnya bukan Han Xu membawa wanita makan malam.
Masalahnya adalah wanita itu bukan Leng Jing!
Ia tertegun di tempat setidaknya selama satu menit, sampai pelayan sudah mengibaskan tangan di depan matanya tiga kali pun ia belum bereaksi, “Nona? Nona?”
Han Qianqian tersadar, cepat-cepat menarik kembali kartu kreditnya, berbalik arah, hanya meninggalkan pesan, “Tunda dulu pembayarannya, siapkan satu meja lagi untuk saya.”
Sekejap, ia sudah duduk di sudut dekat jendela, di sebelah Han Xu dan wanita itu. Sekat kuno memang menghalangi pandangan, tapi tak bisa menahan suara. Han Qianqian pun memasang telinga, ingin tahu apa yang mereka bicarakan.
Pendanaan? Kerja sama? Go public? Semua itu otomatis disaring telinganya, hanya mendengarkan bagian penting.
“Tidak cocok di lidahmu?”
“Makanannya enak, hanya saja wine ini...”
Han Xu melambaikan tangan pada pelayan, “Tolong ganti botol...”
“Tak usah repot-repot, kebetulan di tempatku ada sebotol Lafite tahun 1982, bagaimana kalau... kita ke kamarku, minum sambil ngobrol?”
Han Qianqian langsung terasa seperti kesetrum, menahan diri agar tidak membalikkan meja, dalam hati membatin: Han, jangan pernah, jangan pernah kau setuju! Tapi ia justru melihat Han Xu bangkit mengikuti wanita itu pergi.
***
Tak percaya begitu saja, Han Qianqian pun membuntuti hingga tak jauh dari kamar suite, hanya bisa menatap Han Xu masuk ke sarang si wanita, tanpa menoleh lagi. Ia dibiarkan sendiri, terjebak dalam ketakutan kakaknya “menjual diri”, tak bisa sadar kembali.
Begitu sadar, reaksi pertamanya adalah harus segera mencegah semua ini. Tanpa pikir panjang, Han Qianqian berlari ke suite, mengetuk pintu. Saat itu, jarak tinjunya dengan pintu tinggal 0,01 cm lagi, namun seperempat dupa setelahnya, segalanya berubah ke arah tak terduga, karena pintu terbuka.
Han Qianqian terkejut sampai matanya membelalak, tapi Han Xu tampak tidak heran melihatnya, baru ketika ia menarik lengannya, Han Xu sedikit mengernyit.
— Kau lakukan ini, apa kau tak merasa bersalah pada negara, pada rakyat, pada statusmu, pada orang tuamu, pada Leng Jing, pada adikmu sendiri?
Belum sempat Han Qianqian melontarkan orasi itu, Han Xu sudah menutup mulutnya, mendekat ke telinganya dan berbisik, “Tunggu aku di sini, jangan kemana-mana, ya.”
Han Qianqian tetap tak sempat bicara, pintu sudah dibanting di depan wajahnya.
***
Suara pintu yang tertutup masih berdengung di kepala Han Qianqian, dan saat Han Xu bicara di telinganya, bibirnya tanpa sengaja menyentuh sepotong kulitnya, membuat area itu mulai terasa panas. Ingatan itu tidak asing, tapi juga menakutkan. Han Qianqian menggeleng kuat-kuat, menolak mengingat.
Selain menunggu seperti yang disuruh, Han Qianqian tak tahu harus berbuat apa. Tanpa sadar, setengah jam berlalu, Han Xu belum juga keluar, membuat pikirannya melantur pada soal daya tahan seseorang.
Di luar sudah malam, lorong yang diselimuti warna hangat membuat orang lupa waktu. Han Qianqian duduk di sofa, hampir tertidur.
Saat itulah, pintu kamar terbuka.
Bukan sengaja berpura-pura tidur, tapi ia memang tak ingin melihat adegan romantis apa pun.
Seperti, tangan si wanita yang menggoda kerah jas seseorang; atau wajah Han Xu yang begitu tenang tapi memikat.
“Winenya belum sempat dibuka, sudah pergi saja, nggak sayang?”
Han Xu tersenyum, mundur setengah langkah, menghindari tangan si wanita di kerahnya, “Nona Li, senang bekerja sama dengan Anda.”
Han Qianqian tetap memejamkan mata, tentu saja ia melewatkan ekspresi buruk si wanita saat melihat tangan Han Xu menolak. Mereka berjabat tangan secara formal, Han Xu pergi tanpa ragu, tapi ketika menoleh dan melihat wanita tidur di sofa, raut wajahnya berubah seketika.
Si wanita tak melewatkan perubahan ekspresi itu, “Siapa ini?”
Han Xu hanya tersenyum samar, si wanita menafsirkan isyarat tanpa suara itu dan tampak agak kecewa, “Oh, jadi begitu...”
Han Qianqian yang tak paham percakapan itu merasa wajahnya disentuh pelan, “Qianqian?”
Suara Han Xu begitu dekat, tapi ia tetap tak mau membuka mata.
Dipeluk seperti putri ternyata tak seindah dongeng. Apalagi dari sudut pandang orang yang pura-pura tidur. Ia tak bisa merangkul lehernya, tak bisa melipat kaki dengan nyaman, kepala dan kaki sering terbentur dinding atau benda lain, bahkan cemas rok pendeknya akan terbuka.
Dengan cemas, Han Qianqian akhirnya ditempatkan di kursi penumpang depan. Han Xu mungkin sedang mengenakan sabuk pengaman untuknya, posisi menunduknya membuat rambutnya menyentuh tulang selangka Han Qianqian, membuat geli sampai ke hati. Han Qianqian berharap ia cepat pergi, tiba-tiba sebuah tangan mengusap pipinya.
Bagi Han Qianqian, itu bagaikan siksaan. Ujung jari itu menelusuri rambutnya, seolah menggambar wajahnya, lalu memindahkan rambut ke belakang telinga, dan mengelus lembut cuping telinganya. Han Qianqian seperti kucing dicabut kumisnya, langsung melompat setinggi tiga kaki, kepalanya membentur atap mobil—
“Aduh—!”
Teriakan Han Qianqian menggema di parkiran, lama tak reda.
***
Han Xu masuk ke kursi pengemudi, menunggu Han Qianqian selesai berteriak, lalu menyalakan mobil, keluar dari tempat parkir. Han Qianqian mengusap kepalanya, melirik Han Xu. Selain kata “tenang”, ia benar-benar tak bisa menemukan kata lain untuk menggambarkan ekspresi Han Xu sekarang, membuatnya curiga apakah semua tindakan aneh barusan hanya khayalannya.
“Kapan kau menindik telinga?”
Han Xu tiba-tiba menoleh bertanya, Han Qianqian buru-buru mengalihkan pandangan, “Kenapa tiba-tiba tanya begitu?”
“Cuma iseng nanya.”
=.=
Han Xu sudah biasa dengan ekspresi “ingin bicara tapi ragu” miliknya, langsung bertanya, “Ada pendapat apa lagi kali ini?”
Suaranya terdengar muram, hampir larut dalam gelapnya malam di luar jendela. Karena Han Xu sudah berkata begitu, Han Qianqian merasa tak perlu lagi ragu, langsung bertanya, “Kau tidur dengan dia?”
“Siapa?”
“Wanita tadi itu.”
“Tidak.”
Sebagai dosen psikologi, Han Qianqian menilai pria di depannya dengan keahlian profesional, lalu tertawa. Namun senyumnya belum sempat mengembang, ia tiba-tiba mengernyit, teringat hal lain—
“Kalau begitu, kau dan dia sekarang bagaimana?”
“Apa?”
Han Qianqian menyesali pikirannya yang melompat-lompat, lalu menjelaskan, “Maksudku Leng Jing.”
Tatapan Han Xu sempat kosong satu detik, hanya satu detik.
Dibanding wanita tadi, Han Qianqian jelas lebih suka Leng Jing. Ia juga pernah berpikir, jika harus punya kakak ipar, Leng Jing memang pilihan yang baik. Dalam hal ini, ia merasa seleranya dan kakaknya sejalan.
Namun kenyataan sering kali tidak sesuai harapan. “Waktu itu aku lihat cincin di laci kamar, itu memang mau kau kasih ke dia?” Han Qianqian memandang wajah Han Xu, menunggu reaksinya.
Sepanjang kariernya, Han Qianqian belum pernah bertemu orang yang pikirannya sedalam dan sekalem kakaknya sendiri. Ia biasa mengelompokkan orang seperti itu sebagai “bukan manusia”, ciri-cirinya: tidak pernah gagal, tidak pernah lepas kendali, tidak pernah terlalu gembira atau terlalu sedih, semuanya dihadapi dengan tenang.
Setelah diam lama, “bukan manusia” itu menjawab, “Itu cuma iseng kubeli waktu itu, lagipula sudah hilang.”
Suaranya datar, senyumnya tipis, tapi Han Qianqian tahu, dia sedang tidak bahagia. Di balik ketenangan alis matanya, tersimpan banyak emosi yang tak ingin ia selami.
“Kau dan dia... sudah putus?”
Diam lagi, lama sekali, “Aku dan dia, bahkan belum pernah mulai.”
***
Han Qianqian sendiri yang merancang perjalanan penyembuhan sekaligus reuni keluarga untuk Han Xu. Setelah seminar selesai, ia punya libur panjang, tiket untuk seluruh keluarga sudah dibeli. Han Qianqian tidak mengizinkan ada yang absen, jadi setiap ada waktu, ia ke kantor Han Xu untuk mengomel, berharap suatu saat Han Xu menyerah dan setuju ikut.
“Aku sudah tanya sekretarismu, katanya bisa kok bantu kosongin jadwal satu minggu untukmu.”
“...”
“Soal perusahaan mau go public kan sudah hampir beres? Sekali-kali menghargai diri sendiri tidak masalah lah.”
“...”
“Ini perayaan ulang tahun pernikahan Papa Mama, tahun lalu kau sudah janji mau ikut liburan, orang harus jujur dong, Han Comrade!”
Akhirnya Han Xu menyerah, tapi hanya menyodorkan kartu tambahan padanya, “Aku benar-benar nggak bisa pergi sekarang, gimana kalau kau ke studio desain sebelah, pilih beberapa baju baru?”
Han Qianqian tak semudah itu disingkirkan. Tak berhasil membujuk Han Xu, ia pun mengadu ke ibunya, tak disangka ayahnya ikut mendengar, langkah Han Qianqian pun salah, akhirnya malah dapat ceramah duet dari kedua orang tuanya, “Meski kakakmu memanjakanmu, tapi kau tak bisa seenaknya, yang utama itu tetap pekerjaan.”
Dengan Han Xu yang selalu menjadi panutan, Han Qianqian sudah terbiasa dengan omelan seperti itu. Ia pun setengah bercanda mengeluh, “Pa, Ma, akui saja, Han Xu itu memang anak kandung kalian, aku ini anak yatim peninggalan Paman Chen Xu.”
Pak Han jelas bukan tipe yang suka bercanda, langsung membentak, “Jangan main-main!” dan menyuruh Han Qianqian merenung di pojok.
Biasanya, di saat seperti ini, ia bisa berlindung di balik ibunya, tapi kali ini Ny. Han pun tak membantunya, “Bukankah kau sudah lihat foto Paman Chen Xu-mu itu? Wajahnya dengan Han Xu seperti pinang dibelah dua. Sudah, pergi merenung sana.”
Sebenarnya, hal ini bukan rahasia di keluarga mereka. Sejak kecil, Han Qianqian dan Han Xu sering diajak ke makam Paman Chen Xu, banyak mendengar kisah kepahlawanannya dari ayah, tak pernah menyangka hanya satu celetukan, bisa membuat ayahnya marah beberapa hari. Han Qianqian pun memilih mengungsi ke apartemen Han Xu.
Alasannya sih “mengungsi”, tapi sebenarnya ia cuma menempati sarang orang. Han Xu si gila kerja sering tak di rumah, Han Qianqian sangat pandai memanfaatkan ruang, rumah seluas ratusan meter, tak digunakan untuk pesta rasanya sayang.
Tapi bagaimanapun ia orang terpelajar, Han Qianqian tahu batas. Setiap kali, ia pasti memastikan tamu-tamunya pergi sebelum Han Xu pulang, rumah sudah rapi seperti semula.
Tanpa sadar, koleksi wine Han Xu makin menipis, gudang anggur makin kosong, Han Qianqian makin merasa bersalah. Tapi sifat optimis membuatnya berpikir, Han Xu pasti terlalu sibuk untuk memeriksa wine cellar, lalu terus berpesta, terus mencuri wine, hingga akhirnya ketahuan—
Malam ini Han Xu pulang lebih awal.
Begitu masuk, Han Xu terkejut melihat pemandangan di depannya.
Tentu saja, wanita-wanita dengan piyama aneka warna di depannya juga terkejut, saling berpandangan, “Bukannya ini malam khusus wanita?” Lalu serempak menoleh pada pria yang tiba-tiba muncul itu.
Han Xu menoleh ke pintu, lalu ke kunci di tangannya, memastikan ia tak salah masuk rumah, baru sadar kemungkinan lain, wajahnya langsung masam, “Di mana Han Qianqian?”
Jawabannya segera ia temukan—Han Qianqian duduk di lantai bersandar pada lemari TV, satu tangan memegang botol wine, satu tangan memegang gelas, minum sendiri dengan riang.
Tiga cinta terbesar Han Qianqian: penelitian, pakaian indah, wine.
Tiga benci terbesar Han Xu: saat-saat seperti ini, Han Qianqian yang sama sekali tidak seperti dosen, Han Qianqian yang membiarkan baju indahnya tak terpakai, hanya mengenakan kemeja milik Han Xu, duduk mabuk di lantai.
Setelah semua tamu pergi dan rumah beres, Han Xu menoleh, menemukan Han Qianqian masih memeluk botol wine, mencoba mengambilnya, Han Qianqian justru memeluk makin erat.
“Han, Qian, Qian!”
Jika sudah memanggil nama lengkap begitu, artinya benar-benar marah. Sayangnya, dosen Han sudah terlalu mabuk, malah mendongak dan tertawa pada Han Xu.
Han Xu tertegun sejenak. Senyum di wajahnya, bibir tipis dengan semburat merah...
Ia memejamkan mata, lalu membuka kembali, langsung merebut botol wine dari tangannya, “Jangan minum lagi. Bersihkan diri, tidur, sekarang.”
Han Qianqian bangkit terpincang-pincang, matanya tak lepas dari botol di tangan Han Xu, belum sempat berdiri tegak, sudah meraih lagi, “Balikin!”
Han Xu menyingkir, lalu merasa tak enak hati, melihat Han Qianqian hampir jatuh ke lantai, segera menariknya kembali.
Ia menabrak tubuh Han Xu, sementara Han Xu membentur dinding TV, botol terjatuh, wine tumpah, menetes ke lantai meninggalkan jejak merah.
Han Qianqian menatap botol kosong itu, bibirnya cemberut, “Gantiin aku!”
Apa yang disebut mata berbinar seperti bintang? Yang pecah di matanya bukan cahaya bintang, tapi bayangan Han Xu.
Han Xu merasa ada kenangan yang hampir ditarik keluar oleh mata adiknya, ia menunduk menghindari tatapan itu, namun yang terlihat justru lengan, kaki, dan bahu Han Qianqian yang mengintip dari balik kerah kemeja longgar; di balik kemeja tipis itu, lekuk dadanya samar-samar naik turun, seolah mengingatkan betapa halus dan lembutnya...
Malam kacau itu akhirnya berakhir dengan cara begini: Han Xu membukakan sebotol jus anggur untuk Han Qianqian, ia meringkuk di sofa, menyeruput jus anggur, merasa seperti minum wine, sangat bahagia. Han Xu bersandar di lantai di samping sofa, telinganya mendengar suara Han Qianqian menyeruput.
Adegan seperti ini, tanpa sebab... terasa menggoda.
Di dalam hati Han Xu, sebuah suara terus berusaha meyakinkannya: Han Xu, ini semua hanya karena kau sudah terlalu lama tidak punya wanita, hanya itu saja...