Bab 84: Ibu Agung Bumi Menasihati Daun Giok Batu (5/10)

Sang Dewa Hanya Ingin Pulang Tepat Waktu Mimpi yang Dapat Ditafsirkan 01 2427kata 2026-03-04 21:34:34

Makhluk halus berasal dari yin dan takut pada cahaya matahari. Karena itu, di Kota Hantu ini, di kebanyakan tempat hanya ada cahaya kunang-kunang dan api arwah yang berkedip-kedip, menimbulkan suasana yang agak menyeramkan. Namun, ada satu tempat yang berbeda, yaitu istana milik Ibu Pertiwi.

Di sana cahaya matahari menyelimuti seluruh area, bahkan jika diperhatikan dengan saksama, di atas istana tampak sebuah matahari kecil yang bergerak mengikuti waktu. Cahaya dari matahari kecil ini dibatasi oleh formasi sehingga tidak merambat ke luar, hanya menyinari istana semata. Walaupun jaraknya sangat dekat, sinar yang dihasilkan tidaklah menyilaukan, melainkan terasa seperti datang dari tempat yang sangat jauh, layaknya cahaya matahari di dunia luar.

Dengan demikian, di tengah Kota Hantu ini, terdapat satu tempat yang sama sekali tidak berbeda dengan dunia luar, benar-benar merupakan pemandangan yang menakjubkan.

“Entah matahari kecil itu bisa dipinjam atau tidak, ya…” ujar Daun Batu sambil menatap matahari kecil tersebut. Ia teringat Du Kang ingin menanam tanaman di dalam gua, lalu bergumam pada dirinya sendiri.

“Apa? Kau masih ingin membawa pergi matahari kecil itu juga? Sebaiknya urungkan niatmu, itu adalah Burung Emas! Hanya di istana Ibu Pertiwi saja ia bisa dikekang, kalau di tempat lain, pasti sudah mendatangkan bencana bagi dunia!” Pak Tanah yang mendengar itu langsung terkejut dan buru-buru menasihati Daun Batu agar membatalkan niatnya.

“Aku tahu, aku cuma asal bicara saja!” Daun Batu melambaikan tangannya.

“Kau benar-benar berani datang ke sini,” tiba-tiba terdengar suara perempuan. Meski terdengar tenang, suara itu memancarkan wibawa luar biasa yang tak bisa dilawan. “Masih berani-beraninya mengincar Burung Emas milikku?”

Pak Tanah langsung berhenti di tempat dan membungkuk dalam-dalam sebagai tanda hormat. Di tempat seperti ini, hanya satu orang yang berani berkata demikian, yaitu Penguasa Kota Hantu, “Yang mengemban langit, meneladani kebajikan agung, Ibu Pertiwi, penguasa bumi!”

Jika orang biasa yang ditanya seperti itu oleh Ibu Pertiwi, pasti akan gemetar sekujur tubuh dan langsung berlutut memohon ampun… Namun Daun Batu berbeda.

Tampak ia dengan lincah melompat turun dari kepala Pak Tanah, lalu berteriak-teriak sambil berlari menuju istana.

“Berhenti! Hari ini kau harus benar-benar kuhukum… berhenti!” seru Ibu Pertiwi, namun Daun Batu sama sekali tak mengindahkan, terus berlari tanpa hambatan hingga akhirnya menerobos masuk ke dalam istana dan langsung menubruk ke pelukan Ibu Pertiwi.

Ibu Pertiwi adalah seorang wanita yang tampak anggun dan ramah, seolah memeluk seluruh alam. Wajahnya semula masih terlihat tegas, namun begitu Daun Batu menubruk ke pelukannya, sikap kerasnya langsung luluh dan ia pun tersenyum tak berdaya, lalu melambaikan tangan ke arah luar istana, membuat Pak Tanah pergi dengan tenang untuk kembali ke tugasnya.

Benar-benar mirip ibu tua yang ingin memarahi putri kesayangannya karena berbuat salah, namun akhirnya luluh juga karena si putri manja.

“Lama tak bertemu, Ibu Pertiwi, hari ini senang, tidak? Aku bawakan makanan enak! Dan banyak sekali cerita seru yang mau kuceritakan padamu,” Daun Batu menggeliat manja di pelukan Ibu Pertiwi, lalu mendongak dan tertawa riang penuh kebanggaan, “Aku juga sempat bertarung dengan seseorang!”

Wajah Ibu Pertiwi yang semula mulai melunak, kembali tegang setelah mendengar kata-kata Daun Batu.

“Eh… tapi aku menang kok, sangat mudah!” Daun Batu merasa situasi tak baik, buru-buru menambahkan.

“Kau bertarung?” tanya Ibu Pertiwi datar, ia tak mendorong Daun Batu, namun wajah tanpa ekspresinya justru membuat Daun Batu makin gelisah.

Rasanya seperti pulang sekolah dan melihat orang tua di rumah menatap tanpa berkata-kata, otomatis kita akan mengingat-ingat kesalahan apa yang pernah kita perbuat. Semakin lama ditatap, ingatan tentang kesalahan pun makin bertambah jauh ke belakang.

“Ehm… aku bukan pelaku utama kok, aku cuma penonton saja, paling-paling cuma sedikit menyiramkan air Sungai Ibu ke tubuh para penyihir jahat itu…” suara Daun Batu makin pelan.

“Oh, cuma menonton?” Ibu Pertiwi tetap tanpa ekspresi. “Lalu, apalagi?”

“Sudah… nggak ada lagi?” Daun Batu berusaha memaksakan senyum.

“Lupa ya? Biar kubantu kau mengingatnya,” ujar Ibu Pertiwi sambil membalik posisi Daun Batu, dari semula dipeluk kini berubah menjadi menelungkup di atas pahanya, tangan kirinya menahan badan, tangan kanan diangkat ke udara.

“Eh, tunggu, tunggu! Aku ingat sekarang!” Daun Batu yang merasa bahaya berusaha melarikan diri, tapi sia-sia, tangan Ibu Pertiwi tetap mendarat, suara tamparan terdengar sangat jelas.

Bibir Daun Batu langsung mencekung, kemudian menangis keras.

Ibu Pertiwi tak bergeming, kembali mengangkat tangan, “Aku larang kau bertarung, kau ini Dewi Pembawa Anak, apa urusannya bertarung segala? Kurang kerjaan, ya?”

Setiap kali tangan diangkat dan menampar, ia selalu mengomel, terdengar cukup cerewet.

“Masih lupa juga, secepat itu lupa sama tanah yang dulu kau minta dariku? Padahal aku sudah berikan tanah terbaik, tanah murni bawaan alam, demi kau mau menanam buah abadi!”

“Plak!”

“Dan kau enaknya, beberapa hari saja sudah tidak ditanam, tanahnya pun dibiarkan begitu saja…”

“Sudah kutanam, kok! Aku minta Kakak Awan menanamkannya!” sanggah Daun Batu.

“Kakak Awanmu itu memang terlalu baik, sudah berapa kali membereskan masalahmu, karena terlalu memanjakanmu, hari ini aku harus benar-benar menghukummu…”

“Plak!”

“Masih sempat-sempatnya mengincar Burung Emasku juga…”

“Plak!”

Begitulah, setelah dihukum cukup lama, Ibu Pertiwi baru melepaskan Daun Batu, hatinya terasa sangat lega… Tamparan ini memang sudah lama ia rencanakan, tapi sebelumnya Daun Batu selalu berhasil mengelak dengan sikap manjanya, sehingga urung dilakukan dan menumpuk dalam hati. Hari ini akhirnya ia menemukan waktu dan alasan yang pas!

Daun Batu melompat, berdiri di depan Ibu Pertiwi, tidak pergi ke mana-mana, hanya menoleh ke belakang, tangannya meraba bagian yang sakit, matanya memerah, “Sudah bengkak!”

“Bagus kalau bengkak, biar ingat pelajarannya!” seru Ibu Pertiwi dengan kesal.

Daun Batu mengamati Ibu Pertiwi dengan hati-hati, memastikan beliau tak niat memukul lagi, lalu perlahan-lahan mendekat, “Jadi, setelah kau memukulku, sudah hilang dong marahnya?”

“Belum, masih mau kupukul lagi!” Ibu Pertiwi mengangkat tangan.

“Satu kali saja cukup, genderang bagus tak perlu dipukul keras!” Daun Batu pun memegang tangan itu sambil merengek.

Ibu Pertiwi tak menoleh, namun wajahnya sedikit melunak, “Kau juga tega-teganya menyamakan diri dengan genderang bagus…”

“Tentu saja… jadi, aku anggap Ibu sudah tak marah lagi ya, tak boleh pukul aku lagi!” Daun Batu mencoba menebak suasana hati.

“Hmph…” Ibu Pertiwi hanya melirik sekilas tanpa berkata-kata, hanya mendengus pelan.

“Kalau begitu, aku lanjut cerita hal-hal seru yang tadi mau kuceritakan.” Daun Batu tetap memegang tangan Ibu Pertiwi, lalu tertawa-tawa bersiap melanjutkan ceritanya.

“Tunggu dulu, sebaiknya kau ceritakan dulu apa tujuanmu ke sini, baru aku putuskan mau mendengarkan atau tidak,” Ibu Pertiwi memutus pembicaraan dengan bijaksana.

“Eh… itu… aku mau minta tanah lagi, mirip seperti yang dulu…” ujar Daun Batu dengan suara pelan dan mata berputar-putar.

“Hm?” Ibu Pertiwi kembali mengangkat tangan kanannya.

“Tunggu, tunggu! Ibu, orang itu sudah diakui oleh Kitab Negeri dan Bumi!” Daun Batu buru-buru berseru keras.

PS: Mohon berlangganan! Uraa!

(Bagian ini selesai)