O jovem, carregando uma identidade secreta, juntou-se à seita que outrora perseguiu sua própria família. Por meio de sua constituição especial e talento de cultivo excepcional, ele se tornou, passo a passo, uma figura que ascende ao ápice da Grande Via! Cem anos atrás, ele disse: “Quero sair das montanhas para ver o mundo lá fora. Não quero que meus descendentes vivam oprimidos neste pequeno vilarejo no futuro. Eles devem ter um ambiente de sobrevivência melhor e, se não houver, serei eu quem criará!” Cem anos depois, ele disse novamente: “Este mundo é demasiado solitário. Ninguém consegue suportar o meu golpe de lança. Para alcançar o ápice da Grande Via, apenas eu!”
Awan hitam bergulung-gulung, kilat menyambar disertai gemuruh guntur, langit yang tadinya cerah hanya dalam beberapa menit berubah warna. Tak lama kemudian, tetesan hujan besar mulai berjatuhan dari langit. Tampak seorang remaja memikul benda raksasa di pundaknya berjalan di tengah hujan, sama sekali tidak peduli tetesan air menghantam wajahnya.
Jika orang biasa melihat pemandangan ini, pasti akan terkejut, sebab yang dipikul di punggungnya adalah seekor Singa Emas berbulu tebal seberat dua ribu lima ratus kati, namun bagi remaja itu, berat segitu bukanlah hal yang berarti. Hujan semakin deras tanpa tanda akan berhenti, tapi itu tidak menghalangi langkah sang remaja menuju rumah.
Ia menerobos aliran sungai kecil yang meluap di hutan, menapaki rerumputan yang tersiram hujan, justru merasakan kepuasan tersendiri. Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, akhirnya di depan matanya tampak desa kecil tempat tinggalnya.
“Bang Mu, anakmu Changsheng pulang berburu, kali ini bawa pulang buruan besar! Bagaimana kalau kita bantu mengolahnya hari ini? Toh kita semua sedang senggang, bisa ikut membantu,” belum sempat bocah itu membawa Singa Emas ke rumahnya, beberapa lelaki dewasa di desa sudah datang menawarkan bantuan.
Mu Tianqi tentu tahu maksud mereka, namun ia tidak membahasnya, “Baiklah, kalau kalian mau membantu, nanti pulang masing-masing bawa sedikit daging, biar anak-anak dan istri di rumah bisa mencicipi!”
Mereka langsung senang mendengar itu, buru-buru berkata, “Tidak perlu, cukup bagi jeroan Singa Emas saja!”
Di masa sulit seper