Ketika hubungan antara langit dan manusia terputus, para dukun mulai merosot, sementara ajaran dan jalan kaum cendekiawan bangkit. Para bijak dan murid-murid agung dari kalangan cendekiawan bermunculan silih berganti, mengadakan ritual persembahan bagi dewa-dewa langit, bumi, dan arwah manusia. Seratus aliran pemikiran lainnya dilarang, hanya ajaran cendekiawan yang diangkat sebagai satu-satunya yang utama. Dengan prinsip keterkaitan langit dan manusia, mereka membangun tatanan, menjadikan ajaran mereka sebagai agama yang paling berpengaruh di dunia! Sementara itu, para dukun terpinggirkan di pedesaan, hanya dipandang sebagai tukang sulap rendahan yang menipu orang awam. Di zaman seperti inilah, seorang pria yang menyeberang ke dunia ini dan menjadi dukun, mulai mempelajari ajaran Tao.
“Pawang Tao sudah datang, Pawang Tao sudah datang...”
Dari kejauhan, warga desa sudah menyingkir memberi jalan. Kepala desa dan beberapa tetua tua menyambut, memberi salam hormat pada Pawang Tao, berkata, “Pawang Agung sudah datang, silakan masuk ke dalam desa!”
Orang yang disebut Pawang Tao itu ternyata seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun lebih, mengenakan pakaian hitam, beralaskan sepatu jerami, dan memegang tongkat kayu di tangannya.
Wajahnya datar tanpa ekspresi. Dalam sambutan ramah kepala desa dan para tetua, serta sikap hormat sekaligus menjaga jarak dari warga desa, ia melangkah masuk ke dalam Desa Bambu Hijau.
Desa ini dikelilingi oleh tembok pemukiman, tempat seratus keluarga tinggal bersama! Dunia ini masih memiliki adat yang sangat kuno; ancaman hewan buas dan bahaya sangat banyak. Baik di kota maupun desa, rakyat selalu tinggal berkelompok dalam lingkungan berdinding, membangun tembok untuk melindungi diri.
Desa Bambu Hijau terkenal akan kerajinan bambunya. Hampir setiap rumah memiliki keahlian istimewa dalam membuat barang dari bambu, sehingga kehidupan mereka terbilang baik.
Bukan hanya tembok pemukiman yang dibangun dengan rapi, tingginya lebih dari dua meter dan terbuat dari tanah liat yang dipadatkan, bahkan di bagian atas tembok telah dipasangi genteng untuk melindungi dari hujan.
Jalanan desa pun rapi, setiap rumah memiliki halaman setinggi pinggang orang dewasa, di mana terlihat tumpukan bambu atau keranjang, tabung, dan anyaman bambu yang setengah jadi.
Rumah yang menjadi tujuannya juga seru