Bab 2 Bab 2 Siluman
Halaman 1/3
“Panggil orang! Tangkap dia!”
Suara terdengar dari belakang. Nishang menoleh dan melihat sekelompok orang berseragam pejabat mengepungnya sambil menggenggam senjata.
Nishang mengangkat kepala dan melirik kediaman keluarga Liu di belakangnya, tempat darah telah mengalir bagai sungai.
Dahulu, itulah rumah pertama yang menjadi satu-satunya tempat yang ia percayai. Kini, rumah itu telah hancur di tangannya sendiri.
Ia menundukkan kepala, tetapi pandangannya mulai berbayang. Tubuhnya sudah tak mampu berdiri tegak dan terhuyung dua kali.
Sesaat kemudian, pandangan Nishang menggelap dan ia jatuh pingsan ke tanah.
Dengan demikian, Nishang dibawa kembali ke Kantor Pemerintahan Ibu Kota. Pada tengah malam, kantor itu masih terang-benderang, semuanya disebabkan oleh dirinya seorang.
Membunuh pejabat kerajaan, bahkan memusnahkan seluruh keluarganya—kejahatan yang dapat menyeret sembilan generasi ke dalam hukuman mati. Peristiwa ini bahkan telah menggemparkan istana.
Di aula utama Kantor Pemerintahan Ibu Kota, seorang pria mengenakan jubah mewah berwarna hitam pekat berdiri di atas panggung. Kedua tangannya disilangkan di belakang punggung, tubuhnya tegak lurus, auranya luar biasa. Hanya dengan melihat punggungnya saja, orang-orang sudah merasa bulu kuduk mereka berdiri dan tanpa sadar menaruh hormat.
“Yang Mulia Putra Mahkota, seluruh keluarga Liu telah dibasmi. Dua puluh orang tewas di pondok luar kota. Orang-orang kita belum sempat bertindak; pelakunya adalah nyonya keluarga Liu. Wanita itu sudah ditangkap, hanya saja benda tersebut masih belum ditemukan.”
Seorang bawahan melapor.
Mendengar itu, mata Putra Mahkota Xiao Yinian yang tersembunyi di balik cahaya lilin malam memancarkan sedikit keterkejutan. Sesaat kemudian, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang sulit ditebak.
“Selama orangnya ada, benda itu pasti ada padanya. Aku justru penasaran, wanita seperti apa yang mampu membunuh seluruh keluarga Liu seorang diri, sekaligus dua puluh orang bawahan adikku.”
“Yang lebih aneh lagi, Kantor Pemerintahan Ibu Kota tidak menemukan informasi apa pun mengenai asal-usul Nishang. Bahkan tempat tinggal dan nama keluarganya pun tidak tercatat. Seolah-olah dia muncul begitu saja dari udara.”
Mendengar itu, mata tajam Xiao Yinian perlahan terpejam. Ibu jarinya mengusap-usap cincin batu giok di tangannya.
Hal ini sudah diketahuinya sejak awal. Yang membuatnya penasaran adalah kenyataan bahwa Kantor Pemerintahan Ibu Kota merupakan kekuasaannya sebagai Putra Mahkota. Sebagian besar orang di sana adalah orang kepercayaannya, dan tempat itu mengendalikan seluruh informasi penduduk ibu kota serta berbagai rahasia penting. Tempat tersebut merupakan jaringan intelijen terbesar di seluruh Kerajaan Utara.
Untuk bisa tidak meninggalkan jejak di tempat yang mengetahui segala hal di dunia, orang seperti apakah yang memiliki kemampuan sebesar itu?
“Monster! Monster!”
Tiba-tiba, seorang sipir penjara berlari sempoyongan dari belakang aula. Wajahnya dipenuhi ketakutan, seolah sedang melarikan diri demi menyelamatkan nyawanya.
Xiao Yinian sedikit mengangkat pandangan. Dasar mata tajamnya perlahan diselimuti hawa dingin.
Mata sang sipir terbelalak ngeri, seluruh wajahnya dipenuhi ketakutan.
“Ada… ada monster! Dia bisa menyembuhkan dirinya sendiri!”
Menyembuhkan diri sendiri?
Keterkejutan muncul di dasar mata Xiao Yinian yang dalam dan misterius, tetapi dalam sekejap ia menekannya kembali.
Ia melangkah lebar menuju ruang tahanan di belakang aula.
Di dalam penjara, sosok yang terikat pada tiang penyiksaan belum juga siuman meski telah menerima berbagai siksaan.
Kepala Nishang tertunduk. Rambutnya berantakan, beberapa helai yang basah oleh keringat melekat di wajahnya. Darah menetes dari sudut bibirnya. Pakaiannya telah tercabik-cabik menjadi helaian panjang akibat cambukan, seluruhnya berlumuran darah.
Xiao Yinian berdiri di sana. Sepasang matanya yang tajam dan sedalam jurang kini bergolak oleh kegilaan liar, keangkuhan, serta kegembiraan dan gairah yang tak biasa.
Namun, ketika orang-orang lain melihat Nishang, mereka justru membelalakkan mata karena ketakutan, wajah mereka penuh kengerian dan ketidakpercayaan.
Nishang tampak berada di ambang kematian setelah mengalami siksaan hebat, darah mengucur di sekujur tubuhnya.
Halaman 2/3
Namun, jika diperhatikan dengan saksama, ternyata tidak ada satu pun luka di tubuhnya!
Bahkan luka cambukan yang membuat kulit di lehernya terbelah sedang menutup dan sembuh dengan kecepatan yang dapat dilihat mata.
Kalau itu bukan monster, lalu apa?
Xiao Yinian berjalan tanpa sedikit pun rasa takut ke hadapan Nishang.
“Nishang.”
Nishang tidak bergerak.
Xiao Yinian menopangkan tangan pada lutut lalu sedikit membungkuk. Barulah ia dapat melihat wajah yang tersembunyi di balik helaian rambut itu.
Nishang memiliki paras yang begitu cantik hingga tak ada tandingannya di seluruh ibu kota. Terutama sepasang matanya yang berbentuk seperti mata burung hong—indah, menggoda, dan memikat, seolah mampu menyedot jiwa seseorang hingga mustahil mengalihkan pandangan.
Xiao Yinian tersenyum, tak mampu menyembunyikan emosinya. Kilatan matanya dipenuhi kegembiraan liar yang hampir haus darah.
“Makhluk macam apa sebenarnya dirimu?”
Seorang bawahannya berkata dengan ngeri dari belakang, “Yang Mulia Putra Mahkota, dia adalah monster!”
Xiao Yinian mengangkat satu jari ke bibir, memberi isyarat agar diam. Gejolak kegembiraan di dalam dirinya sama sekali tak dapat disembunyikan. Niat awalnya untuk membunuh Nishang demi membungkamnya kini telah berubah.
Wanita itu tidak memiliki asal-usul maupun ingatan. Selain itu, kemampuannya luar biasa dan ia bahkan memiliki kekuatan untuk menyembuhkan diri sendiri. Sungguh sayang jika orang berbakat seperti itu dibunuh.
Lebih baik ia dipertahankan di sisinya. Dengan begitu, bukankah peluangnya untuk merebut kekuasaan akan menjadi jauh lebih besar?
“Kau sudah menjadi milikku.”
Xiao Yinian segera melepaskan ikatan Nishang.
Bawahannya terkejut. “Yang Mulia, jangan!”
Xiao Yinian menoleh. Dalam sekejap, tatapan yang dilemparkannya tak lagi mengandung senyum, melainkan niat membunuh yang mengerikan.
Bawahannya terpaku ketakutan dan tak berani lagi menghalangi.
Xiao Yinian merangkul pinggang Nishang dan mengangkatnya ke dalam pelukannya. Matanya dipenuhi kegembiraan liar, seolah baru saja memperoleh harta karun. Ia mengangkat tangan, perlahan menyingkirkan rambut wanita dalam pelukannya, lalu berkata dengan tenang,
“Monster dari mana? Dan malam ini, dari mana pula datangnya pembunuh dalam kasus pembantaian itu?”
Begitu kata-katanya jatuh, hawa dingin niat membunuh terlihat jelas di matanya.
“Para sipir Kantor Pemerintahan Ibu Kota telah menjalankan tugas dengan buruk. Sudah waktunya mengganti mereka.”
Setelah berkata demikian, Xiao Yinian tertawa lepas dengan penuh kegembiraan. Ia menggendong Nishang dan melangkah cepat meninggalkan tempat itu.
Para bawahan menjadi sedingin es mendengar ucapannya bahwa sudah waktunya mengganti mereka.
Yang Mulia Putra Mahkota hendak membunuh mereka untuk membungkam kejadian ini.
Kediaman Putra Mahkota.
Ketika Nishang kembali sadar, ia telah berada di tempat yang asing.
Dengan susah payah ia membuka kelopak mata. Seluruh luka di tubuhnya telah sembuh dan menghilang. Pakaian berlumur darahnya pun telah diganti dengan gaun sutra tipis berwarna merah menyala.
Nishang sedikit mengernyit. Siapa yang membawanya pergi?
Halaman 3/3
“Sudah sadar?”
Ia baru sempat berpikir sejenak ketika sebuah suara terdengar di dekat telinganya.
Hati Nishang tersentak. Ia menoleh dan mendapati seorang pria sedang setengah berbaring di sampingnya.
Pria itu menyipitkan mata sambil tersenyum lebar ke arahnya. Salah satu tangannya bahkan sedang memainkan sehelai rambut Nishang.
“Siapa kau?”
Ia tidak menghindar, hanya membuka mulut untuk bertanya.
Jari Xiao Yinian menyusuri wajahnya. Tanpa noda darah, wajah itu tampak semakin memesona dan menggoda.
“Penyelamat nyawamu.”
Penyelamat nyawa?
Nishang berpikir sejenak. Liu Shucheng pernah memberitahunya bahwa budi penyelamatan nyawa harus dibalas dengan nyawa.
Ia turun dari ranjang, mengambil cangkir teh lalu membantingnya ke lantai. Setelah itu, ia memungut pecahan yang paling tajam dan tanpa ragu mengarahkannya ke lehernya sendiri.
Mata Xiao Yinian menggelap. Dengan gerakan cepat, ia melemparkan bantal hingga menjatuhkan pecahan itu.
“Apa yang kaulakukan?”
Wajah Nishang tanpa ekspresi. Tingkah lakunya seperti boneka yang tak memiliki emosi.
“Suamiku pernah berkata, budi penyelamatan nyawa harus dibalas dengan nyawa.”
Mendengar itu, Xiao Yinian justru tertawa semakin lebar. Ketika turun dari ranjang, jubah panjangnya menggantung longgar di bahu.
Sebelum sempat mengatakan apa pun, pengawal pribadi Xiao Yinian, Bai He, masuk ke dalam.
“Yang Mulia, Pangeran Kedua telah tiba.”
Pangeran Kedua adalah orang yang pada malam itu hendak diserahi Nishang oleh Liu Shucheng, sekaligus pelaku yang hampir menyiksanya hingga mati.
Nishang tidak boleh membiarkan Pangeran Kedua melihatnya.
Malam itu, pria tersebut melarikan diri dengan cepat dan tidak mengetahui rahasia bahwa luka Nishang dapat sembuh sendiri. Jika ia tertangkap dan dibawa kembali, rahasianya akan terbongkar.
Namun, Liu Shucheng pernah berkata bahwa dunia kini terbagi menjadi tiga kekuatan: pertama, Kaisar; kedua, Putra Mahkota; dan ketiga, Pangeran Kedua.
Meskipun kedudukan Putra Mahkota telah ditetapkan, Pangeran Kedua memiliki sifat ambisius dan keras kepala. Ia terus-menerus bersaing dengan Putra Mahkota, menggerakkan arus tersembunyi demi merebut kedudukan tersebut.
Adapun kediaman komandan militer Liu Shucheng, pada kenyataannya diperoleh setelah Pangeran Kedua merekomendasikannya kepada Kaisar.
Pada akhirnya, Liu Shucheng tetap merupakan bawahan Pangeran Kedua. Nishang telah membantai seluruh keluarga Liu, sehingga kedatangan Pangeran Kedua jelas bertujuan menangkapnya. Ia pasti tidak akan berhenti sebelum berhasil mendapatkannya.
Xiao Yinian melirik Nishang dengan mata tajamnya, kemudian mengamatinya dari atas ke bawah. Setelah itu, ia menggenggam tangannya.
“Adikku telah tiba. Ikutlah dengan penyelamat nyawamu untuk menyambut tamu.”
Nishang segera berusaha melepaskan tangannya, tetapi ternyata ia sama sekali tidak mampu. Tenaga pria itu luar biasa besar.
Alisnya berkerut. Kekuatan orang ini sungguh tidak biasa.