Bab Empat Puluh Satu: Kisah yang Penuh Duka

Kehidupan Seni Pendatang Kemudian 2357kata 2026-03-04 21:32:39

Hari dimulainya syuting film masih cukup lama. Saat ini, selain mengikuti kelas, Bai Yi juga tengah mempersiapkan dirinya untuk peran barunya. Bagaimana pun, penampilan Hailey Joe sebelumnya sudah menjadi standar tinggi—ia pernah masuk nominasi Aktor Pendukung Pria Terbaik Oscar—dan Bai Yi tentu saja tidak ingin aktingnya merusak karakter klasik tersebut.

Bai Yi tetap mencurahkan seluruh perhatian pada karakter Cole, sementara Bai Yuehua masih sibuk memikirkan segala hal untuk acara “SINGER”. Harus diketahui, sekarang Bai Yuehua sangat berpeluang meraih gelar Raja Penyanyi.

Sebelumnya, Bai Yuehua sudah meraih tiga gelar juara berturut-turut. Kini, meski lagu “Ke Mana Perginya Waktu” tidak berhasil meraih posisi pertama, kekuatan penampilannya tetap mengantarkannya ke posisi tiga besar.

Bisa dikatakan, saat ini Bai Yuehua benar-benar menjadi sorotan di acara “SINGER”.

Tentunya, semua keberhasilan ini tak lepas dari kebiasaan Bai Yuehua yang selalu membawakan lagu baru di setiap penampilannya. Lagu-lagu yang dipilih pun sangat indah, benar-benar karya-karya unggulan.

Baik itu kelembutan dan keceriaan dari “Menghadap Laut, Musim Semi Bermekaran”, ganas dan penuh semangat dari “Jika Harus Mati, Harus di Tanganmu”, atau kedalaman perasaan dari “Ke Mana Perginya Waktu”—semuanya adalah lagu-lagu klasik yang terus dikenang.

Kini, setiap kali Bai Yuehua tampil dengan lagu baru, sorotannya makin kuat. Penonton menantikan lagu berikutnya, para warganet pun demikian. Bai Yuehua benar-benar menjadi pusat perhatian “SINGER”, mengguncang seluruh dunia musik.

Namun, Bai Yuehua sangat menyadari bahwa semakin ke akhir, ia harus semakin serius. Sedikit saja lengah, bisa-bisa ia tersingkir, sebab masih ada peserta lain yang tereliminasi.

Karena penampilan emosionalnya dalam tiga lagu cinta yang lalu, Bai Yuehua kembali menegaskan posisinya sebagai Ratu Lagu Cinta setelah meraih tiga gelar juara. Akan tetapi, jika setiap penampilan hanya mengandalkan lagu cinta, lama-lama penonton akan merasa bosan.

Itulah sebabnya pada episode sebelumnya Bai Yuehua memilih lagu “Ke Mana Perginya Waktu”.

Pada babak selanjutnya, ia harus memberi kejutan segar bagi penonton. Kini, para penyanyi lain pun mulai mengeluarkan jurus-jurus andalan: ada yang membawakan rock gila-gilaan, ada yang tampil dengan paduan suara besar beranggotakan dua puluh hingga tiga puluh orang, ada juga yang menampilkan tarian energik dengan lagu cepat—semua berjuang sekuat tenaga.

Bai Yuehua pun tidak boleh kalah. Ia harus mengerahkan seluruh kemampuannya, jangan sampai justru tergelincir di tahap akhir.

Tentunya, dalam mencoba perubahan dan gebrakan baru, ia juga harus pandai menjaga keseimbangan.

Seperti saat pertama kali membawakan “Menghadap Laut, Musim Semi Bermekaran”, respon penonton di lokasi tidak begitu baik.

······

Episode terbaru “SINGER” kembali tayang tepat waktu pada Jumat malam, dan ratingnya terus meroket. Tak bisa dipungkiri, ini berkat kebiasaan Bai Yuehua yang selalu mempersembahkan lagu baru nan menyentuh di setiap penampilannya.

Tak terhitung banyaknya penonton yang duduk di depan televisi malam itu, menantikan “SINGER” dimulai.

Bisa dibilang, seiring dengan dirilisnya satu demi satu lagu baru dari Bai Yuehua, rating “SINGER” pun terus meningkat, apalagi setiap kali Bai Yuehua tampil, rekor demi rekor pun terpecahkan.

Seperti yang dikatakan para musisi, kini “SINGER” telah berubah menjadi panggung utama penampilan lagu-lagu baru Bai Yuehua. Semua penonton menunggu-nunggu seperti apa lagu barunya kali ini.

Jelas, kali ini Bai Yuehua kembali melakukan terobosan gaya.

Berbeda dengan kesederhanaan dan kepolosan “Ke Mana Perginya Waktu” pada penampilan sebelumnya, kali ini Bai Yuehua muncul dengan kostum bernuansa klasik: sebuah qipao merah yang disulam dengan bunga peony berwarna kuning dan merah muda, menampilkan lekuk tubuh Bai Yuehua yang menawan. Rambut panjangnya diikat rapi, beberapa helai rambut jatuh di dahi, menari-nari tertiup angin.

Penampilannya sungguh memukau, sambutan meriah pun menggema di seluruh studio.

Lalu suasana menjadi hening, sangat sunyi. Tidak jelas berapa lama berlalu, tiba-tiba suara petikan guzheng yang jernih mengalun perlahan sebagai pembuka, disusul dengan suara erhu yang membawa suasana sendu. Suasana muram langsung menyelimuti seluruh ruangan.

Intro yang pilu dan suara rendah itu mengalir bagai air yang dingin, menyusup tanpa suara.

Bai Yuehua memegang mikrofon, menutup mata perlahan, dan mulai bernyanyi dengan lirih.

“Riuh dunia, kutinggalkan semua, membuat orang banyak terluka.”

Hanya satu kalimat, namun nuansa pilu dan sedih dalam suara Bai Yuehua langsung membangun suasana sunyi yang dingin, kesedihan pun perlahan menyelimuti hati para penonton.

“Mimpiku dingin, berputar-putar seumur hidup, berapa banyak utang cinta yang tersisa?”

“Jika kau setuju, aku rela menunggu, menunggu dalam pahit, menunggu putaran demi putaran waktu ...”

Lirik klasik nan indah, seolah dipahat dengan penuh ketelitian, berpadu dengan suara jernih dan dingin, membawa seluruh penonton larut dalam lagu yang penuh kepedihan, merasakan kesedihan penyanyi, meresapi nuansa duka yang begitu dalam.

“Menara suci, sudah runtuh berapa tingkat, arwah siapa yang terputus?”

“Rasa sakit yang mendalam, secercah lampu yang hampir padam, gerbang candi yang runtuh.”

“Ijinkan aku menunggu lagi, hingga sejarah berputar kembali, menanti wangi arak menua, menanti kau memetik guzheng ...”

Setiap kalimat kepedihan itu membasuh hati pendengar, lalu tibalah pada klimaks reffrain, di mana kesedihan mencapai puncaknya, membuat siapa pun yang mendengar tergetar hatinya.

“Hujan turun rintik-rintik, rerumputan di desa lama tumbuh lebat.”

“Aku mendengar, kau tetap sendiri sepanjang waktu.”

“Gerbang kota yang telah kusam, akar pohon tua merambat, pada batu-batu terngiang kata ‘menunggu’ ...”

Kamera satu per satu menyorot para penonton: mata mereka basah, wajah-wajah tersentuh, seakan-akan turut merasakan dalam-dalam kepedihan lagu itu. Semua orang larut dalam suasana.

Suara Bai Yuehua rendah dan penuh keluh kesah.

Hanya dengan satu kalimat, “Hujan turun rintik-rintik, rerumputan di desa lama tumbuh lebat,” seluruh kepedihan seakan tumpah; rerumputan telah lebat, waktu telah berlalu.

Dalam alunan lagu itu, semua penonton seolah terlempar ke zaman yang berbeda; di ruang dan waktu yang kelabu dan tua, mereka menyaksikan sebuah kisah: seseorang menepi dari dunia, seseorang menunggu antara hidup dan mati, namun yang dijaga hanyalah gema kata “menunggu” di atas batu.

“Hujan turun rintik-rintik, rerumputan di desa lama tumbuh lebat.”

“Aku mendengar, kau masih setia di kota sunyi.”

“Suara seruling dari pinggiran kota, jatuh di desa terpencil itu, takdir pun berakar di antara kita ...”

Saat segala sesuatu berubah dan orang-orang telah pergi, kalimat “Kembang api mudah padam, manusia mudah berpisah” pun terdengar.

Bai Yuehua dengan qipao klasik merah darah, setiap baitnya seperti menceritakan penantian sepanjang zaman, takdir yang tumbuh dan berakar dalam suara hujan di Kuil Jialan yang abadi.

“Dengarlah masa muda, datang bersama tawa, membuat banyak orang iri.”

“Catatan sejarah, terlalu lembut untuk menuliskan, namun goresannya terlalu kejam.”

“Kembang api mudah padam, manusia mudah berpisah ...”

Lagu masih bergema, nada pedih itu tetap membalut suasana, lirik yang penuh duka berpadu dengan suara nan sendu, menjadikan lagu klasik bernuansa pilu ini perlahan-lahan tergambar bagaikan lukisan—kuil sunyi, lampu temaram, petikan guzheng, daun-daun gugur, rerumputan lebat, hujan rintik-rintik, akar pohon tua, kota sunyi, desa terpencil, gerbang kota yang lapuk ...

Semua itu perlahan hadir di hadapan semua orang, baik penonton di studio maupun yang di depan televisi, seolah-olah mereka melihat sebuah lukisan, kisah cinta yang penuh duka, dan dalam kepedihan itu mereka semakin merasakan kesedihan.

Semua orang mendengarkan lagu sedih itu, mendengarkan Bai Yuehua menuturkan kisah pilu itu, lalu meneteskan air mata ...