Bab Tiga Puluh Satu: Orang yang Rendah Budi

Kehidupan Seni Pendatang Kemudian 2924kata 2026-03-04 21:32:34

Pertikaian sengit di dunia maya bermula dari satu lagu “Terlalu Tersakiti” yang dinyanyikan Bai Yuehua. Terutama para musisi senior dan sejumlah warganet yang mengaku paham musik pun ramai-ramai menyerang Bai Yuehua dan Bai Yi. Komentar-komentar mereka sangat tajam dan semakin lama makin berlebihan.

Bahkan banyak warganet yang sebelumnya tidak tahu duduk perkaranya mulai menaruh perhatian pada masalah ini. Setelah mendengarkan lagu terbaru Bai Yuehua, “Terlalu Tersakiti”, mereka pun ikut terlibat. Situasi seperti ini diam-diam membuat tim produksi acara “PENYANYI” bersorak gembira. Dengan begitu, acara mereka semakin populer.

Tentu saja, pihak “PENYANYI” juga menyatakan sikap secara tegas lewat media sosial, mendukung Bai Yuehua sepenuhnya. Mereka bahkan mengunggah beberapa video penonton di lokasi yang menitikkan air mata.

Menghadapi serangan para musisi terkenal, khususnya dari Asosiasi Musisi, sebagai ratu lagu cinta di belantika musik pop Mandarin, Bai Yuehua tentu tidak mungkin diam saja. Terlebih lagi, serangan itu ditujukan pada Bai Yi.

“Saat memilih lagu, putraku sudah memperingatkan agar aku tidak membawakan lagu ini. Katanya, pasti akan menimbulkan kontroversi. Kini aku benar-benar membuka mata. Untuk semua tuduhan itu, aku hanya ingin berkata, orang-orang yang melontarkan komentar seperti itu adalah sekelompok ‘kaum kolot’ yang sok berbudaya,” balas Bai Yuehua dengan tajam.

Pertikaian pun makin memanas. Seandainya ini terjadi pada penyanyi lain, apalagi yang baru saja debut, pasti sudah gentar menghadapi situasi sebesar ini. Namun watak Bai Yuehua memang tak pernah sudi menahan diri, apalagi kini ia bukan penyanyi muda yang baru menapaki panggung.

Di posisi setinggi ini, masih harus menghadapi tudingan seperti itu. Apa mereka kira Bai Yuehua mudah dipermainkan? Setelah berjuang keras hingga mencapai puncak, masa harus menerima orang lain sembarangan mengomentari?

Sebenarnya, Bai Yuehua sendiri tak menyangka kontroversi akan berkembang sedahsyat ini. Dalam hati, ia mulai menyesal, mungkin seharusnya ia mendengarkan nasihat Bai Yi, tidak memilih lagu itu.

Kini banyak warganet justru menyerang putranya, Bai Yi.

Bai Yi adalah pencipta lagu tersebut.

Di usia tiga belas tahun, mampu menulis lirik yang begitu lugas—terutama jika mengingat kasus perceraian Bai Yuehua dan suaminya yang dulu begitu ramai—benar-benar membuat banyak orang terperangah. Segala rumor dan fitnah kini mengarah pada Bai Yi.

Saat inilah fans Bai Yi patut mendapat pujian. Mereka setia membela idola, melawan balik para penyerang tanpa goyah, berdebat sengit selama berhari-hari di dunia maya.

Bai Yi sendiri sebelumnya tidak punya akun media sosial. Namun setelah membaca komentar-komentar yang keterlaluan, ia meminta Fang Nan membuatkan akun resmi untuknya. Untuk pertama kalinya, ia menulis tanggapan panjang tentang kasus ini.

“Aku Menjadi Orang Vulgar.”

Begitulah judul tulisannya. Kalimat pembuka: “Bila hati suci, maka suci pula segalanya. Bila hati gelap, maka segalanya pun gelap.”

“Aku selalu mengira bukan orang vulgar, karena tak pernah melihat unsur vulgar dalam laguku. Namun karena begitu banyak orang mengatakan aku vulgar, sepertinya aku memang telah menjadi orang vulgar.”

“Anak vulgar usia tiga belas tahun, jadi kalian yang merasa tidak vulgar, tak perlu repot-repot menanggapi aku. Ini hanya karya main-main bocah tiga belas tahun, tidak pantas membuat kalian yang bijaksana itu marah-marah. Jangan marah, jangan marah, marah mempercepat maut.”

“Meski aku orang vulgar, aku tetap membaca Kitab Puisi. Di dalamnya ada bagian yang disebut ‘Nyanyian Negeri’, seperti ‘Zhang Zhongzi’, ‘Kokok Ayam’, dan ‘Zhen Wei’, yang kini pun dianggap vulgar. Entah kalian akan mengizinkan cucu-cucu kalian membaca Kitab Puisi, aku rasa tidak, karena takut meracuni mereka.”

“Menjual kesedihan, terlalu dewasa, tidak menghargai ayah, kurang sopan, bermain perasaan, dibuat-buat, berpura-pura merintih, bahkan ada yang bilang ‘Terlalu Tersakiti’ itu cari-cari masalah. Semua tudingan itu akhirnya membuatku jadi orang vulgar. Sungguh lucu. Aku sudah berusaha mencari dengan kaca pembesar, di mana letak kesedihan pada diriku? Mungkinkah kalian yang bijak bisa tunjukkan, di mana letak kesedihan aku dan ibuku?”

“Ngomong-ngomong soal ‘Nyanyian Negeri’, sejak dulu lagu rakyat memang mengandung bahasa sehari-hari, bahkan kata-kata kasar. Tetap jadi lagu, tetap diwariskan ribuan tahun. Kenapa lirik yang realistis hari ini harus membuat kalian naik pitam? Mungkin memang ini dosa orang vulgar seperti aku. Amitabha!”

“Nampaknya hatiku memang gelap, benar-benar orang vulgar, telah meracuni kalian semua.”

“Dari dulu sampai sekarang, orang bernyanyi seperti dalam Kitab Puisi, saat lelah bekerja, jatuh cinta, meluapkan isi hati, spontan menyanyikan apa yang dirasakan. Lagu mana yang tidak jujur, tidak berpura-pura bijak, tidak dibuat-buat. Yang penting adalah rasa, kejujuran, cukup membuat orang tersenyum sudah baik, toh semua lelah.”

“Kalian yang merasa bijak dan berbudi luhur, apa yakin sudah menjadi nabi sosial dan panutan moral? Aku saja yang vulgar merasa lelah mendengar kalian, apa kalian tidak lelah sendiri?”

“Pandangan rakyat itu tajam, semua tahu apa yang dibutuhkan. Tak ada penyelamat, tak ada yang bisa merasa lebih tinggi dari orang lain.”

“Meminjam satu kalimat dalam ‘Terlalu Tersakiti’, aku yang vulgar ini, dalam urusan cinta dan kasih sayang, tidak pernah mengecewakan kalian. Mengapa harus memojokkan aku yang vulgar? Aku benar-benar terlalu tersakiti.”

“Terakhir, untuk yang bilang aku terlalu dewasa, kalian benar. Tapi ada pepatah, dewasa sebelum waktunya berarti cepat layu. Tak bisakah kalian sedikit berempati pada bocah vulgar yang terlalu dini dewasa dan cepat layu ini? Tutup saja mulut, jadilah lelaki tampan yang tenang.”

Tulisan panjang “Aku Menjadi Orang Vulgar” itu segera diunggah Bai Yuehua dan disebarluaskan warganet. Dalam waktu singkat tulisan itu viral di seluruh jagat maya.

Gaya balasan yang santai, jenaka, sekaligus tajam itu membuat banyak orang tak kuasa menahan tawa. Terutama bagian akhir: “Tak bisakah kalian sedikit berempati pada bocah dewasa sebelum waktunya dan cepat layu ini? Tutup saja mulut, jadilah lelaki tampan yang tenang.”

Seketika banyak warganet tertawa terbahak-bahak!

Terlebih lagi, di akhir tulisan itu, Bai Yi juga mencantumkan puisinya yang dulu, “Menghadap Laut, Menyambut Musim Semi Mekar”.

Dulu ia ingin jadi orang bahagia, kini malah jadi orang vulgar—kontras yang sangat mencolok.

Para warganet, juga fans lama Bai Yi, tak pernah menyangka penyair muda yang dikenal santun dan elegan itu bisa berkata sejenaka dan setajam ini.

Katanya bakal selalu sopan bak pangeran berkuda putih, kok kini berubah begini?

“Pangeran Bai, tulislah puisi dengan baik, jadilah lelaki tampan yang diam-diam saja!” seru para fans Bai Yi di media sosial, berharap ia tak terpengaruh komentar orang luar dan tetap menjadi dirinya sendiri.

Tulisan itu juga membuat para fans Bai Yi semakin memahami sosok penyair muda mereka. Nama penanya memang terkesan halus dan berbudaya, tapi ternyata wataknya sama kerasnya dengan Bai Yuehua, tak sudi tunduk pada tekanan.

Balasan tajam itu membuat banyak orang bertepuk tangan, sementara beberapa kalimat di dalamnya menjadi bahan perbincangan hangat di dunia maya.

“Bila hati suci, maka suci pula segalanya. Bila hati gelap, maka segalanya pun gelap.”

“Jangan marah, jangan marah, marah mempercepat maut!”

“Aku yang vulgar ini, dalam urusan cinta dan kasih sayang, tidak pernah mengecewakan kalian. Mengapa harus memojokkan aku yang vulgar?”

“Tak ada penyelamat, tak ada yang bisa merasa lebih tinggi dari orang lain.”

“Dewasa sebelum waktunya berarti cepat layu.”

“Entah kalian akan mengizinkan cucu-cucu kalian membaca Kitab Puisi, aku rasa tidak, karena takut meracuni mereka.”

···

Tulisan yang tampak santai dan tidak serius itu berhasil membungkam para warganet yang tadinya galak. Toh, penulisnya sendiri sudah mengaku vulgar, apalagi yang hendak diperdebatkan? Terutama, setiap paragrafnya memang seperti balasan langsung pada mereka. Membuat mereka tak bisa berkata-kata.

Tentu saja, faktor usia Bai Yi juga berperan. Mereka pun enggan merendahkan diri berdebat dengan anak kecil.

Belum lagi, tulisan Bai Yi kali ini benar-benar menampar muka mereka. Apalagi di bagian akhir, ia menyelipkan puisi “Menghadap Laut, Menyambut Musim Semi Mekar”.

Berkat tulisan ini, perdebatan soal apakah “Terlalu Tersakiti” itu vulgar perlahan mereda.

Namun, di dunia maya justru muncul topik baru yang lebih besar: tentang penyair muda Bai Yi, sang Pangeran Bai.

————————

PS: Teman-teman, jangan lupa tinggalkan komentar~ Amitabha...

Mohon dukungannya, jangan lupa simpan dan rekomendasikan!