Bab Empat Puluh: Dewasa
Akhirnya, semuanya berjalan tanpa hambatan. Bai Yi tidak tersingkir oleh para aktor kecil lainnya. Keesokan harinya, Zhang Qi sendiri menelepon Bai Yi untuk memberitahu bahwa peran Ke’er akan diperankan olehnya.
Setelah menandatangani kontrak, Bai Yi benar-benar harus mulai mempersiapkan diri untuk film pertamanya, juga peran pertamanya.
Hari dimulainya syuting film pun sudah ditetapkan, yakni 16 Januari 2018, tinggal setengah bulan lagi.
Ketika Xu Rong mengetahui kabar ini, ia sangat gembira dan sengaja mengundang Bai Yi makan bersama. Tentu saja, pada akhirnya Bai Yuehua yang membayar makan malam itu. Karena Bai Yi akan masuk ke dalam tim produksi, ini benar-benar menandakan bahwa seorang pendatang baru akan memulai karier di dunia hiburan. Sebagai ibunya, Bai Yuehua tentu berharap Xu Rong, bintang film kawakan itu, bisa lebih memperhatikan Bai Yi ke depannya.
Sebenarnya, Xu Rong sudah lama tahu dari Bai Yuehua bahwa Bai Yi ingin menjadi aktor. Kalau tidak, ia tidak akan mengusulkan kepada Zhang Qi agar Bai Yi diikutsertakan dalam audisi.
Kini Bai Yi berhasil lolos audisi dan mendapatkan peran Ke’er, itu juga berkat usulan Xu Rong waktu itu.
Xu Rong memandang Bai Yi sambil tersenyum, lalu bertanya, “Bai Yi, kenapa kau tidak ingin masuk Akademi Drama Mingzhu, malah memilih Akademi Drama Yanjing?”
Di Yanjing ada dua sekolah seni yang terkenal: Akademi Drama Yanjing dan Akademi Film Yanjing. Sedangkan di dalam negeri, Akademi Drama Mingzhu yang terletak di Kota Mingzhu juga sangat ternama.
Mendengar pertanyaan Xu Rong, Bai Yi merasa agak sulit menjawab, apalagi Xu Rong adalah lulusan Akademi Drama Mingzhu.
Di hadapan Xu Rong, Bai Yi tentu tidak mungkin berkata bahwa Akademi Drama Yanjing lebih baik. Di kehidupan sebelumnya, ia memang lulusan dari akademi drama itu, dan meskipun kini sudah berbeda, di hatinya ia tetap ingin masuk ke akademi drama tersebut.
Saat itu, Bai Yi hanya bisa berpura-pura tidak tahu dan tidak menjawab.
“Sudahlah, jangan mempersulit dia,” kata Bai Yuehua sambil tersenyum melihat Xu Rong sengaja menggodanya. Ia lalu melanjutkan, “Kali ini dalam film, kau akan berperan sebagai ibunya. Jangan sakiti dia lagi.”
“Yuehua, kalau aku punya anak laki-laki yang jenius sepertinya, pasti aku akan sangat bahagia,” ujar Xu Rong sambil tertawa. Ia pun teringat bahwa dalam film mereka akan berperan sebagai ibu dan anak, membuatnya semakin senang. Ia mencubit pipi Bai Yi, lalu berkata, “Bai Yi, di depan ibumu ini, panggil aku ‘ibu’ sekali, biar ibumu cemburu.”
Bai Yuehua melirik Xu Rong, lalu tertawa, “Waktu itu Zhang Qi bahkan minta foto masa kecilmu dan Bai Yi. Kebetulan, kau dan Bai Yi memang sering berfoto bersama sejak dulu.”
Karena mereka akan berperan sebagai ibu dan anak dalam film, ada beberapa adegan foto. Kalau aktor lain mungkin harus menggunakan rekayasa komputer, tapi Bai Yi dan Xu Rong tidak perlu.
Bisa dibilang, Xu Rong sudah melihat Bai Yi tumbuh besar, dan mereka punya banyak foto bersama yang bisa digunakan.
“Kalau kau memang ingin punya anak laki-laki, cepatlah punya sendiri. Kau sudah bertahun-tahun bersama Chen Mu, sudah waktunya menikah,” celetuk Bai Yuehua lagi.
Mendengar Bai Yuehua menyinggung soal itu, Xu Rong merasa tertekan, lalu cepat-cepat mengalihkan pembicaraan. Ia tersenyum pada Bai Yi, “Kau penulis naskah, juga produser, sekarang malah jadi salah satu pemeran utama. Kalau sudah masuk ke dalam tim film, jangan khawatir. Walaupun kau masih anak-anak, mereka juga tidak akan berani macam-macam.”
Dunia perfilman penuh dengan intrik. Dengan status Xu Rong sekarang, ia tak perlu ambil pusing, tapi tetap perlu mengingatkan.
Melihat Xu Rong membicarakan soal masuk tim produksi, Bai Yuehua berkata, “Xu Rong, nanti kalau Bai Yi sudah masuk tim, kau harus sering-sering memperhatikannya.”
“Wataknya mirip denganku, tampak ramah tapi sebenarnya sangat jujur dan tak tahan diperlakukan tidak adil.”
“Aku khawatir wataknya yang terus terang itu justru akan merugikan dirinya sendiri.”
Xu Rong melirik Bai Yuehua, lalu berkata, “Kau benar-benar tidak mengerti Bai Yi. Aku tahu betul wataknya. Seperti waktu kejadian di internet kemarin, kalau saja orang-orang itu tidak semakin keterlaluan, Bai Yi tidak akan peduli.”
“Tenang saja, dia jauh lebih mengerti daripada kau kira. Tak usah khawatir.”
Bai Yuehua duduk di samping Xu Rong, sudah meminum banyak anggur merah, pipinya kemerahan dan tampak mabuk. Ia menatap Bai Yi yang sedang makan, lalu berkata lirih, “Kau tahu, sejak kecil dia sudah dewasa, tak pernah nakal. Waktu aku dan ayahnya bercerai, justru dia yang selalu menghibur dan menasihati aku.”
“Aku tak pernah tahu kalau dia ingin jadi aktor. Kalau dipikir-pikir, aku merasa sedih, aku benar-benar tidak tahu apa yang ia pikirkan.”
Xu Rong mendengar ucapan Bai Yuehua, menepuk tangannya pelan, tahu bahwa ia masih mengkhawatirkan anaknya, dan menenangkan, “Bai Yi itu anak yang dewasa dan cerdas. Tenang saja, aku akan menjaganya.”
Xu Rong tahu Bai Yuehua merasa dirinya belum cukup menjaga Bai Yi, terutama setelah perceraian mereka yang sempat jadi perbincangan, membuat Bai Yuehua sangat memperhatikan keputusan Bai Yi untuk berakting.
Bagaimanapun juga, akting adalah hal yang disukai Bai Yi.
Ia teringat masa kecil Bai Yi, dan juga keputusan menikah karena mengandung Bai Yi, lalu mundur dari dunia tarik suara dan memilih hidup tenang. Kini setelah bercerai, Bai Yi tinggal bersamanya, dan sudah tiga belas tahun berlalu.
Rupanya sudah selama itu. Tiga belas tahun telah berlalu, dan sekarang Bai Yi sudah sebesar ini.
Bai Yuehua menghela napas, matanya yang mabuk tampak berkabut. Seperti baru kemarin Bai Yi belajar berjalan tertatih-tatih, kini ia sudah dewasa dan akan mulai syuting film.
Tanpa terasa, segalanya telah berubah.
Seperti dirinya yang kini kembali ke dunia tarik suara, memulai lagi menyanyi, sementara Bai Yi mulai menapaki jalannya sendiri.
Waktu, waktu berlalu begitu cepat...
Lagu yang lembut mengalun pelan di restoran, “Pohon tua di depan rumah bertunas kembali, kayu kering di halaman berbunga lagi, setengah hidup menahan banyak kata, tersembunyi dalam rambut yang memutih...”
“Jejak kaki kecil dalam ingatan, bibir mungil yang montok.”
“Seluruh cinta diberikan padanya, hanya demi panggilan ayah dan ibu.”
“Kemana perginya waktu, belum sempat menikmati masa muda, sudah menua...”
Mendengar lagunya sendiri, mata Bai Yuehua memerah. Bukan hanya karena mabuk, tapi juga karena haru dan tangis. Ia benar-benar merasa waktu berlalu begitu cepat. Ketika Bai Yi dewasa, ia akan punya kehidupan sendiri. Mungkin ia pun harus mulai memikirkan dirinya sendiri.
Bai Yi sendiri tidak tahu bahwa Bai Yuehua sedang merenungkan cepatnya waktu berlalu, dan bahwa ia telah tumbuh dewasa tanpa disadari.
Mendengar lagu “Kemana Perginya Waktu” yang diputar di restoran, Bai Yi teringat pada episode terbaru “SINGGER” di mana Bai Yuehua mengubah gaya, tak lagi menyanyikan lagu cinta, melainkan menyembunyikan lagu ini sebagai kejutan.
Walaupun pada episode terbaru “SINGER” Bai Yuehua tidak meraih juara satu, posisinya tetap di urutan atas. Lagu “Kemana Perginya Waktu” dengan melodi yang lembut dan suara Bai Yuehua yang halus serta bersih, mengalir perlahan ke dalam hati penonton. Liriknya yang sederhana namun bermakna membuat semua orang terharu, seruan tentang kasih keluarga langsung menusuk hingga ke relung hati.
Banyak penonton yang tersentuh hingga meneteskan air mata, dan pujian pun berdatangan.
Bai Yi menatap Bai Yuehua, tiba-tiba ia merasa waktu memang berlalu terlalu cepat. Dalam sekejap, bertahun-tahun telah lewat, dan kini ia pun akan memulai karier aktingnya.
Namun, Bai Yi tidak terlalu larut dalam perasaan sentimental, karena—
Sejak awal ia tahu, ke mana arah jalannya.