Bab 76: Pesta Malam di Istana【10】
Bab 76: Pesta Malam Istana (10)
Mendengar sebutan ‘Putri Mahkota’, Permaisuri dengan mata phoenix yang indah melirik sekilas ke arah Bei Yue. Saat melihatnya, sorot matanya tampak agak rumit, lalu ia mengangguk samar. “Hari ini hanyalah pesta istana biasa, tak perlu terlalu banyak aturan.”
Bei Yue pun menegakkan kepala, dan ketika tatapan Permaisuri menyapu dirinya, ia tidak sedikit pun menghindar. Dalam ingatannya, Permaisuri ini memang tak pernah menyukainya. Setelah Putri Mahkota wafat, ia tak pernah lagi bertemu sang Permaisuri. Ternyata kini pun, ia tetap tidak menyukainya.
Tatapan Permaisuri itu hanya melintas begitu saja, lalu berpaling. Mata dinginnya tidak menyiratkan emosi apa pun, tak ada ketakutan, tak ada penghormatan, apalagi permusuhan.
Bagi Bei Yue yang sekarang, Permaisuri ini hanyalah seseorang yang baru pertama kali ia temui. Ia memang tak suka pada Bei Yue, tetapi juga belum pernah mencelakainya.
Sorot mata yang begitu datar justru membuat Permaisuri sedikit terkejut, bertanya-tanya dalam hati apakah tadi ia salah lihat. Mana mungkin Bei Yue yang lemah itu menatapnya dengan cara seperti itu?
Tak sadar, Permaisuri kembali melirik Bei Yue. Ia tampak sama seperti dulu, pucat dan rapuh, seolah angin saja bisa menjatuhkannya.
Ternyata tadi hanya perasaan saja.
Setelah kehebohan yang dibuat Putri Ying Ye, perhatian semua orang di Istana Cahaya Senja pun tertuju pada Bei Yue. Beberapa orang mulai membicarakannya dengan suara pelan.
“Jadi itu Putri Negeri Bei Yue ya? Bertahun-tahun baru kali ini aku melihatnya.”
“Kalau dilihat-lihat, dia memang tidak seburuk yang dikira. Wajahnya malah mirip dengan mendiang Putri Mahkota Hui Wen, calon jelita!”
“Tapi apa gunanya cantik? Sakit-sakitan begitu, Istana Putri Mahkota yang megah nanti pasti akan jatuh ke tangan orang lain.”
“Iya, kasihan juga. Di zaman sekarang, siapa yang tak bisa bela diri pasti jadi bahan olok-olok.”
Putri Negeri Bei Yue dari Istana Putri Mahkota memang terkenal tak berguna, hampir semua orang di Kota Linhuai sudah maklum. Dulu ibunya, Putri Mahkota, begitu berjaya, tapi putrinya malah mempermalukannya.
Mendengar semua bisikan dan cibiran itu, hati Bei Yue sebenarnya agak kesal. Siapa sangka, pembunuh jenius abad 21 malah di sini dianggap sampah!
Belum sempat ia menoleh dan melotot pada mereka, tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa Kaisar telah tiba.
Semua orang di Istana Cahaya Senja langsung berdiri, bersiap hendak berlutut memberi hormat.
Kaisar tertawa lebar. Sambil melangkah masuk, ia mengangkat tangan dan berkata, “Hari ini tidak perlu memberi hormat. Silakan berdiri saja!”
Para wanita pun bersama-sama mengucapkan terima kasih.
Bei Yue pun memanfaatkan kesempatan itu untuk mengamati Kaisar. Apa yang diingatnya jelas berbeda dengan yang ia lihat sekarang. Hanya dalam beberapa tahun, penguasa Negeri Sayap Selatan itu sudah tidak lagi semuda dan segagah dalam ingatannya.
Garis-garis usia dan kerja keras telah terukir di sudut matanya, namun wajahnya tetap tampan dan tubuhnya tinggi tegap. Setiap langkahnya membawa angin dan penuh wibawa.
Di belakangnya, mengikuti Putra Mahkota Zhan Ye yang tampan dan dingin, beberapa pangeran, serta para pejabat.
Mata Bei Yue yang tajam langsung menangkap kehadiran Raja Song Mi, yang berjalan bersama Putra Mahkota. Dengan pakaian biru, sikapnya anggun, dan senyum samar di bibirnya.
Kehadiran Putra Mahkota dan Raja Song Mi membuat banyak putri bangsawan di Istana Cahaya Senja diam-diam berdebar, termasuk Xiao Yun.
Kaisar berjalan penuh wibawa menuju singgasananya. Setelah duduk, ia mengibaskan lengan bajunya dan berkata, “Apakah semua tamu kehormatan sudah hadir?”
Pelayan kecil di sampingnya segera menjawab dengan suara nyaring, “Ampun, Paduka, masih ada Tuan Xitian dan Pangeran Kesembilan dari Negeri Beiyao yang belum tiba.”