Bab 42 Tim Khusus!
Tulang baja berdiri tegak di dunia, hati dipenuhi keadilan, keberanian tanpa batas! Tak mengecewakan raja, tak mengecewakan rakyat, darah panas tercurah ke langit biru!
Ketika Chen Shuzhao mendengar syair ini, ia begitu terkejut hingga langsung menegakkan tubuhnya. Ia bertanya dengan penuh rasa ingin tahu, “Benarkah syair ini berasal dari mulut Su Ding?”
“Menjawab Baginda, sepupu hamba memang mengatakannya demikian,” jawab Li Zhuojun sambil tersenyum geli. “Baginda, kali ini sepupu hamba benar-benar menjadi batu loncatan bagi Su Ding. Sekarang ia sudah dicap sebagai ‘anjing penjilat yang menumpang pada Panglima Tinggi Gao’. Ketika ia menceritakan hal ini kepada hamba, ia sangat merasa tidak adil. Kini nama Su Ding telah tersohor di ibu kota, bahkan sampai meninggalkan tiga kisah besar.”
“Oh? Kisah besar apa saja itu?” tanya Chen Shuzhao semakin penasaran.
Li Zhuojun menyebutkan satu per satu seolah menghafal di luar kepala, “Pertama, dengan amarah menebas Gao Youliang; kedua, menuduh tanpa dasar; ketiga, dengan marah mencaci anjing penjilat.”
Chen Shuzhao mendengarkan penjelasan Li Zhuojun, raut wajahnya sempat berubah sesaat. Terutama ketika mendengar kisah “menuduh tanpa dasar”, ia merasa sedikit canggung, sebab hal itu terjadi atas restunya.
Ia berdeham pelan, mencoba menutupi perasaannya.
“Su Ding ini, rupanya benar-benar seorang yang berani dan cerdas.”
Chen Shuzhao berdiri, lalu berjalan mondar-mandir di dalam istana, “Semangat dan cita-cita setinggi ini! Sungguh seorang talenta!”
Ia berhenti melangkah, menatap Li Zhuojun. “Segera utus orang untuk mencari tahu, siapakah sebenarnya Su Ding ini? Apakah ia layak untuk dipercaya dan diandalkan?”
Li Zhuojun langsung menjawab, “Baik, Baginda. Hamba akan segera mengaturnya.”
Chen Shuzhao menarik napas dalam-dalam dan kembali duduk di atas singgasana naga, namun hatinya masih bergelora.
Ia memejamkan mata, mulutnya lirih berulang-ulang melantunkan syair itu: “Tulang baja berdiri tegak di dunia, hati dipenuhi keadilan, keberanian tanpa batas! Tak mengecewakan raja, tak mengecewakan rakyat, darah panas tercurah ke langit biru!”
Keningnya kadang mengernyit, kadang mengendur, mencoba menelusuri isi hati Su Ding melalui bait-bait syair itu.
Setiap kali mengucap satu baris, ia berhenti sejenak, menyelami makna di dalamnya.
“Tulang baja berdiri tegak di dunia...” gumam Chen Shuzhao, membayangkan betapa gagah dan marahnya Su Ding saat membacakan syair itu.
“Hati dipenuhi keadilan, keberanian tanpa batas...” suaranya sedikit meninggi, matanya memancarkan kekaguman, “Memiliki hati yang adil, juga keberanian tanpa takut. Jika ia bisa kugunakan, tentu akan menjadi bantuan besar.”
“Tak mengecewakan raja, tak mengecewakan rakyat...” raut wajah Chen Shuzhao menjadi lebih khidmat, “Jika benar begitu, maka ia akan menjadi tangan kananku.”
“Darah panas tercurah ke langit biru!” Sampai pada baris terakhir, Chen Shuzhao tiba-tiba membuka matanya, cahaya di matanya berkilat, “Betapa besarnya semangat dan keberaniannya! Semoga Su Ding memang seperti yang tertulis dalam syair itu.”
Meski belum pernah bertemu, di dalam hati Chen Shuzhao, ia sudah menaruh harapan besar pada Su Ding.
Tak pernah disangka oleh Su Ding, dalam kemarahannya ia melantunkan syair itu, tanpa diduga syair tersebut sampai ke telinga sang ratu.
Hari itu, Hua An kembali, Su Ding memanggilnya untuk bertanya-tanya.
Hua An masuk ke dalam ruangan dengan kepala tertunduk, wajah penuh rasa malu.
“Hua An, bagaimana perjalananmu kali ini?”
Hua An langsung berlutut, “Tuan, hamba tak becus, hadiah untuk Tuan Gubernur tak bisa hamba sampaikan.”
Ia sudah berhari-hari menunggu di ibu kota provinsi, memohon dengan bermacam cara, namun tetap saja tak diizinkan masuk, bahkan sampai menyogok pun tak diterima. Jabatan bupati kecil seperti mereka memang tak dipandang.
Begitu mendengar bahwa tuannya menerima titah untuk menyerahkan seratus ribu gulung kain, ia segera membawa orang-orang kembali.
Su Ding melambaikan tangan, “Tak apa, tak bisa dikirim pun tidak masalah, malah jadi hemat biaya. Sekarang aku kekurangan orang, kebetulan kau sudah kembali.”
Kemudian, Su Ding menjelaskan beberapa rencana yang akan dilakukan kepada Hua An.
Hua An memang cerdas, ia segera memahami maksud tuannya.
“Akhir-akhir ini urusan bengkel sangat banyak, Song Teng seorang tak sanggup menangani. Pergilah kumpulkan semua juru tulis dari enam bagian ke balai utama, aku ada urusan yang hendak kusampaikan.”
Hua An langsung mengiyakan, “Baik, Tuan. Hamba akan segera melaksanakan.”
Juru tulis di sini maksudnya adalah para pegawai kantor pengadilan dan pembantu sementara. Pegawai pengadilan adalah mereka yang memang tercatat secara resmi, sedangkan pembantu sementara adalah pekerja lepas.
Tak lama kemudian, seluruh juru tulis dari enam bagian sudah berkumpul di aula utama kantor bupati.
“Saudara-saudara sekalian, hari ini aku kumpulkan kalian semua karena ada perkara penting yang hendak diumumkan,” Su Ding langsung berbicara to the point, “Aku memutuskan membentuk satuan tugas khusus untuk membangun Kawasan Industri Tekstil.”
Mendengar hal itu, semua orang tampak kebingungan.
Song Teng memberi salam dan bertanya, “Tuan, apa itu Kawasan Industri Tekstil? Apa Tuan ingin membangun pabrik baru lagi?”
Ia baru saja kembali dari luar, langsung menerima perintah dari Su Ding.
Su Ding menjelaskan, “Kawasan Industri Tekstil adalah tempat yang mengumpulkan banyak bengkel tenun, pabrik kain, pabrik pewarna, dan semacamnya.”
Mendengar penjelasan itu, Song Teng langsung paham, bukankah itu yang sedang dibangun sekarang?
Pegawai bagian administrasi dari Departemen Dalam Negeri, Meng Zhiyuan, bertanya, “Tuan, siapa saja yang akan masuk dalam satuan tugas khusus ini? Perlukah merekrut orang baru?”
Su Ding menggeleng, “Tak perlu menambah orang. Satuan tugas ini terdiri dari tiga kelompok: kelompok proyek, kelompok peralatan, dan kelompok pengatur.”
“Song Teng menjadi ketua kelompok proyek, bertanggung jawab atas pembangunan kawasan, semua orang dari bengkel, bagian militer, dan bagian hukum masuk ke kelompok ini; Li Ren, kau jadi ketua kelompok peralatan, urus semua pembuatan mesin, orang dari bagian rumah tangga masuk kelompokmu; Meng Zhiyuan, kau jadi ketua kelompok pengatur, bertanggung jawab mengatur personel, mengoordinasi di tengah, orang dari bagian administrasi dan protokol masuk kelompokmu.”
Semua orang mendengar penugasan ini dengan ekspresi berbeda-beda.
Song Teng yang pertama memberi salam dan berkata, “Tuan, tenanglah. Saya pasti akan berusaha sebaik mungkin menyelesaikan pembangunan kawasan.”
Li Ren pun segera menyatakan sikap, “Tuan, saya tidak akan mengecewakan kepercayaan Tuan, tugas pembuatan mesin akan saya selesaikan.”
Meng Zhiyuan sedikit ragu, “Tuan, tugas koordinasi di tengah ini berat tanggung jawabnya, saya khawatir tidak mampu melaksanakannya.”
Dari uraiannya saja sudah terdengar sulit, enam bagian harus digerakkan, bukankah itu pekerjaan berat? Apalagi proyek sebesar ini, tentu orang yang terlibat sangat banyak. Semakin banyak orang, semakin besar kemungkinan masalah, jika sampai salah urus, dia yang bertugas di bagian administrasi bisa saja kehilangan jabatannya.
Su Ding menguatkan, “Meng Zhiyuan, aku percaya pada kemampuanmu, lakukan saja dengan sungguh-sungguh.”
Jika atasan sudah bicara begitu, apalagi yang bisa dikatakan. Meng Zhiyuan akhirnya mengangguk dan memberi salam, “Terima kasih atas kepercayaan Tuan, saya akan bekerja sekuat tenaga.”
Su Ding mengangguk, penempatan orang-orang ini memang sudah ia pertimbangkan dengan matang.
Song Teng paham soal pertukangan, tak ada yang lebih layak mengurusi pembangunan, hanya saja urusannya sangat banyak, jadi biarkan ia fokus pada kawasan industri. Ia harus menyelesaikan pabrik tenun dalam waktu satu bulan.
Li Ren meski tidak paham pertukangan, tapi sebagai pegawai bagian rumah tangga, ia pandai berhitung dan terbiasa mengatur biaya, serta sangat ingin menunjukkan kemampuannya. Menjadikannya ketua kelompok peralatan pasti bisa mengelola semuanya dengan rapi.
Meng Zhiyuan kelebihannya adalah sabar dan tidak suka menindas bawahan, juga cukup ramah kepada rakyat jelata. Menjadikannya ketua kelompok pengatur, yakni sebagai penanggung beban, memang sangat cocok.
Selanjutnya, Su Ding mulai membagi tugas.
Li Ren sangat tanggap, segera mengeluarkan alat tulis dan mulai mencatat, membuat Su Ding diam-diam memberi nilai lebih pada dirinya.
Su Ding pertama bertanya pada Song Teng, “Bagaimana dengan penentuan lokasi mesin tempa tenaga air?”
Song Teng menjawab, “Tuan, syukurlah amanah Tuan bisa saya laksanakan, saya telah menemukan satu lokasi di Fengshui, di mana arus sungai sangat deras dan ada perbedaan ketinggian, cocok untuk membuat kanal serta mendirikan bengkel tempa. Daerah di sekitarnya juga landai, sangat pas untuk membangun bengkel tempa.”
Su Ding mengangguk, “Bagus, kau urus serah terima dengan Li Ren, lalu fokuslah pada urusan kawasan.”
“Baik, Tuan!” jawab Song Teng.
Su Ding memandang seluruh hadirin, “Sekarang, aku akan membagikan tugas untuk tiap kelompok.”