Dengan latar pertanian, perjalanan waktu, kaisar wanita, serta tokoh utama yang tegas dan berlatar sejarah fiktif, kisah ini mengikuti Su Ding yang tiba-tiba terlempar ke Dinasti Zhou Raya dan menjadi seorang bupati di sebuah wilayah kecil. Ia adalah sosok yang tidak terikat aturan, bertindak bebas, namun memiliki kecerdasan dan keberanian luar biasa. Di tengah zaman yang penuh intrik dan bahaya, ia memperoleh perhatian dari sang Kaisar Wanita. Dari seorang pejabat kecil yang tak dikenal, perlahan-lahan ia tumbuh menjadi sosok kunci yang memengaruhi pergerakan dunia. Bagaimana nasibnya kelak? Apakah ia akan menjadi menteri agung yang dikenang sepanjang masa, atau justru tersesat dalam pusaran kekuasaan? Saksikan bagaimana ia, dengan segala siasat dan kemampuannya, menaklukkan dunia dari sebuah wilayah kecil di tengah kekacauan zaman!
Su Ding membuka matanya, pemandangan di hadapannya membuatnya sempat bingung. Tirai merah bersulam benang emas, tiang tempat tidur berukir, dan udara yang dipenuhi aroma lembut kayu cendana. Saat menunduk, ia melihat dua wanita cantik telanjang bersandar di sisinya, dada mereka yang naik turun pelan dalam tidur dan kulit lembut mereka membuatnya sejenak kehilangan arah.
“Ini… di mana aku?” Su Ding bertanya-tanya dalam hati, namun tiba-tiba muncul ingatan yang bukan miliknya di benaknya. Ternyata, jiwanya telah menyeberang masuk ke tubuh bupati di Kabupaten Luo, Dinasti Zhou, dan bupati itu pun bernama Su Ding!
Tadi malam, bupati Su Ding ini mencari dua wanita cantik di Rumah Hiburan Musim Semi dan berpesta semalaman, akhirnya meninggal karena kelelahan! Sedangkan dirinya, Su Ding sang penulis webnovel yang tewas karena lembur menulis, malah terbangun di tubuh pejabat yang bejat ini.
Su Ding perlahan menyingkirkan kedua wanita di sampingnya, bangkit dari tempat tidur, dan mengamati ruangan asing itu dengan saksama. Ruangannya megah, dikelilingi kain sutra dan perabotan emas perak. Ia berjalan ke depan cermin tembaga, menatap wajah asing namun sekaligus akrab yang terpantul di sana, hatinya penuh gejolak.
“Tampaknya, aku benar-benar telah menyeberang waktu,” gumam Su Ding. Mengingat berbagai adegan menyeberang waktu yang dulu ia tulis, ia merasa geli sendiri. Namun segala sesuatu di depan matanya terasa begitu nyata, ia tak punya pilihan selain mempercayainya.
Sedang ia melamun, terdengar suara ketukan di pintu, “Tuan, Anda sudah bangun?” Suar