Satu ucapan selamat pagi tak cukup untuk menyampaikan segalanya.
Sudah bulan Agustus, tanpa terasa setengah tahun lebih telah berlalu. Cepatnya waktu membuat orang tak berani memikirkannya; sekali terpikir, hati jadi gelisah.
Tak perlu banyak basa-basi, mari kita bicara hal yang penting.
Naskah baru ini sudah mencapai tiga puluh ribu kata, namun aku belum pernah berbicara dengan kalian, juga belum mempromosikan buku baru ini ke mana-mana. Jumlah kata yang masih sedikit membuat pembaca pun belum bisa mendapatkan gambaran apa-apa, jadi kuputuskan untuk menulis perlahan dulu. Nanti, setelah buku ini terbit dan alur cerita mulai jelas, barulah aku akan mengajak kalian untuk membaca. Saat itu, apakah ceritanya cocok di hati atau tidak, setidaknya sudah bisa terasa.
Kisah-kisah yang kutulis, biasanya yang suka akan sangat suka, yang tidak suka pun akan sangat tidak suka.
Jadi kali ini, aku tetap ingin mengulang pesan lama: membaca buku untuk mencari kesenangan saja, kalau senang lanjutkan membacanya, kalau tidak suka silakan tinggalkan dan cari buku lain. Jangan sampai membaca membuat hatimu kesal, karena membaca tak sepadan dengan kemarahan.
Selain itu, setiap orang akan merasakan cerita dengan cara yang berbeda, imajinasinya pun berbeda-beda. Jadi jika kebetulan tulisanku tidak sesuai dengan bayanganmu, atau jalan ceritanya tidak berkembang seperti yang kamu harapkan, mohon dimaklumi.
Ini adalah sebuah cerita sederhana. Aku pun tidak memperbarui cerita terlalu sering, tidak juga memohon-mohon untuk mendapatkan hadiah atau peringkat. Setiap pagi aku bercerita, kamu membaca. Seperti sepiring kecil acar asin yang menemani hidupmu, itulah arti terbesar dari kehadiran kisah ini.
Bisa menemani kalian seperti ini adalah kehormatan terbesar bagiku.
Selamat pagi, mari kita lanjutkan kebersamaan ini dengan tenang.
Salam pagi dari "Sang Adipati Utama", tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Cerita sedang diketik, mohon tunggu sejenak. Setelah ada pembaruan, silakan segarkan halaman untuk mendapatkan bagian terbaru!