Bab Empat Puluh Tiga: Kesedihan yang Berlanjut
Sebuah lagu berjudul "Kembang Api Cepat Layu" benar-benar membuat Bai Yuehua, si ratu lagu cinta, semakin bersinar, benar-benar terkenal di seantero negeri. Tak terhitung warganet yang setelah mendengarkan lagu ini langsung menjadi penggemar Bai Yuehua. Berbeda dengan idola muda yang hanya mengandalkan penampilan, Bai Yuehua adalah diva sejati yang mengandalkan kemampuan. Tak ada lagi yang mempertanyakan kemampuannya; posisinya sebagai ratu tak tergoyahkan. Isu-isu tentang dirinya yang meredup saat baru kembali ke dunia musik pun telah lama sirna. Bisa dibilang, setelah sembilan tahun menghilang, kembalinya Bai Yuehua kali ini menuai kesuksesan besar, bahkan popularitasnya kini melampaui masa jayanya dulu.
Dulu ia hanyalah bintang muda lagu cinta dari daratan, kini Bai Yuehua telah berubah menjadi diva sejati. Penyanyi berbeda dengan aktor; satu film bisa membuat aktor bertahan sampai setengah tahun, bahkan setahun, sementara penyanyi hanya bisa bertahan dua bulan dari satu lagu. Namun, dalam waktu satu setengah bulan saja, Bai Yuehua telah menghadirkan beberapa lagu klasik, membuktikan pengaruhnya yang luar biasa.
Kini kompetisi "PENYANYI" sudah melewati setengah babak. Jika dulu berita menyebut Bai Yuehua masuk sebagai pengganti dengan sangat kuat, kini memang terbukti, ia benar-benar mendominasi dan menekan para pesaingnya. Warganet pun sepakat, pemenang terbesar musim ketiga "PENYANYI" adalah Bai Yuehua, sang diva.
"PEYANYI" telah memasuki babak pengganti terakhir. Setelah putaran ini, akan digelar perebutan juara penyanyi. Babak terakhir terdiri dari tiga pertunjukan; selain babak penentuan terakhir, dua babak sebelumnya akan mengeliminasi satu peserta. Tekanan tetap ada, namun dibandingkan peserta lain, Bai Yuehua jauh lebih santai, apalagi putaran pertama babak terakhir hanya berupa peringkat, tidak ada eliminasi.
Karena ledakan besar "Kembang Api Cepat Layu" di babak sebelumnya, dunia maya kini ramai membahas lagu tersebut. Antusiasme publik terhadap lagu berikut yang akan dinyanyikan Bai Yuehua pun semakin tinggi. Usai penampilan klasik seperti itu, semua orang penasaran, lagu seperti apa yang akan dibawakannya selanjutnya?
Saat "PENYANYI" ditayangkan Jumat malam, diskusi besar pecah di dunia maya. Banyak yang bertanya-tanya lagu apa yang akan dinyanyikan Bai Yuehua kali ini, sebab "Kembang Api Cepat Layu" masih terngiang di telinga, membuat semua orang terhanyut. Setelah lagu tersebut, lagu apa lagi yang akan datang? Itulah pertanyaan semua orang.
"Aku rasa sang diva pasti akan membawakan lagu bernuansa klasik lagi. Hanya saja 'Kembang Api Cepat Layu' sudah merupakan puncak karya, sulit membayangkan ada lagu lain yang bisa melampauinya."
"Tidak setuju, Bai Yuehua pasti akan menembus batas lagi, seperti 'Ke Mana Perginya Waktu' dan 'Kembang Api Cepat Layu'. Kini ia mulai mengubah gayanya, pasti lagu selanjutnya juga berbeda dan akan mengejutkan kita."
"Aku setuju, walaupun katanya akan ada perubahan gaya, sulit membayangkan perubahan apa lagi yang bisa terjadi pada lagunya."
"Aku sudah ikut rekaman langsung, sedikit bocoran, lagu yang dinyanyikan sang diva kali ini juga sangat sedih, berbeda dengan 'Kembang Api Cepat Layu', nuansanya lain, tapi benar-benar menyentuh hati, aku sendiri sampai menangis."
Setelah bocoran dari salah satu warganet, banyak yang langsung heboh bertanya.
"Serius? Apa judul lagunya?"
"Tolong sebutkan nama lagu + nomor KTP."
"Bro bocoran, sebutkan judul lagunya, kami tidak akan marah!"
"Apa judul lagunya? Apakah lagu baru ciptaan sendiri juga?"
Namun, meski warganet ramai bertanya, sang pembocor tiba-tiba menghilang, membuat semua penasaran dan tak kunjung muncul lagi. Satu demi satu komentar muncul, jumlahnya terus bertambah, tapi si pembocor tak juga menampakkan diri, membuat warganet kesal dan memakinya, menuduhnya tak profesional.
Sebagai pembocor, seharusnya menuntaskan bocorannya. Akhirnya, setelah lama memantau diam-diam, sang pembocor kembali muncul dan menulis, "Ngapain kalian masih nanya, sang diva sudah tampil kok."
Dengan balasan itu, diskusi pun berhenti, tak ada yang membalas lagi, seolah dunia mendadak hening. Semua orang menghilang. Tentu saja, mereka langsung menonton penampilan Bai Yuehua dan lagu barunya.
---
Di Stasiun Televisi Xiangnan, acara "PENYANYI" sedang berlangsung, dan sang diva yang dinanti-nanti, Bai Yuehua, pun tampil.
Berbeda dengan penampilan sebelumnya yang penuh nuansa klasik dan suasana dingin yang mengiris, kali ini intro yang dibawakan Bai Yuehua terkesan sederhana, namun mengandung sentuhan eksotis yang berbeda.
Saat suasana hening, musik perlahan mengalun. Di awal terdengar suara gerimis, seolah serpihan salju kecil berjatuhan. Lalu muncul suara akordeon yang jernih, mengalun syahdu dan tenang.
Berkali-kali suara akordeon bergema di panggung itu, membawa suasana sendu yang menenangkan. Nuansa khas musik Soviet terasa kental, lalu terdengar suara Bai Yuehua yang bening dan jernih.
"Di desa yang sunyi salju putih berjatuhan, di bawah langit mendung burung dara terbang."
"Di pohon birch terukir dua nama, mereka bersumpah akan saling mencinta seumur hidup."
Suaranya rendah, seperti tengah bercerita, diiringi akordeon dan petikan gitar. Di balik ketenangan itu, tersimpan kesedihan yang samar. Bai Yuehua menyanyikan pelan, membawakan melodi yang pilu, mulai mengisahkan sebuah cerita cinta yang indah namun tragis.
"Suatu hari perang tiba di kampung halaman, pemuda itu mengambil senjata berangkat ke perbatasan."
"Kekasihku, jangan kau khawatirkan aku, tunggulah aku pulang di hutan birch itu."
"Langit tetap kelabu, burung dara masih terbang, siapa yang akan bersaksi bagi cinta dan nyawa tanpa nisan..."
"Salju tetap turun, desa itu tetap tenang, anak-anak muda lenyap di hutan birch..."
Baik musik klasik maupun pop, selama indah dan menyentuh, membuat pendengar larut dalam suasana, itu sudah cukup. Inilah lagu sederhana, tanpa dibuat-buat, tanpa terlalu banyak instrumen, suara yang bersih, bahkan sedikit serak, dalam lantunan lembut, perlahan melukiskan sebuah lukisan.
Mendengarkan lagu Bai Yuehua ini, penonton dapat masuk ke dalam ceritanya, bayangan di depan mata pun mulai buram, hati dipenuhi kesedihan.
Lukisan itu tergambar dari lirik: di sebuah desa sunyi, salju jatuh perlahan dari langit, burung dara berputar-putar di langit mendung. Seorang pemuda hendak berangkat ke medan perang, terus menenangkan gadisnya agar tak khawatir, menunggu ia pulang, bertemu kembali di hutan birch.
Namun akhir cerita bukanlah pertemuan, perang menghancurkan harapan, merenggut impian.
"Berita duka datang di siang itu, kekasihnya gugur di medan perang yang jauh."
"Dia diam-diam datang ke hutan birch itu, menanti setiap hari dengan penuh harap."
"Dia berkata, kekasihnya hanya tersesat di kejauhan, pasti akan kembali ke hutan birch ini..."
Langit tetap kelabu seperti saat perpisahan, burung dara tetap terbang bebas, hanya saja di hutan birch kini tinggal si gadis seorang diri.
"Langit tetap kelabu, burung dara masih terbang."
"Siapa yang akan bersaksi bagi cinta dan nyawa tanpa nisan..."
Melodi sedih terus mengalun, Bai Yuehua tetap melantunkan kisah pilu itu. Penonton menutup mata, mendengarkan cerita ini, dan akhirnya menangis.
Cerita berlanjut, cinta tetap abadi, dan kesedihan pun tak berkesudahan…